BECKY POV
Seperti buah simalakama. Aku memang berhasil membujuk phi Non untuk menunda pertunangan kami. Tapi itu tidak didapat dengan cuma-cuma. Dia mengajukan syarat. Sebuah syarat yang bisa mengganggu hubunganku dengan Freen, bahkan efek terburuknya bisa saja membuat Freen meninggalkanku.
Huff,, apa yang harus aku lakukan?
Phi Non tidak sepolos wajahnya. Dia memintaku untuk selalu membalas pesannya dengan cepat, segera mengangkat telepon bila dia menghubungiku, bahkan dia tidak menerima penolakan jika dia memintaku pergi dengannya. Entah untuk sekedar makan bersama ataupun jalan-jalan ke suatu tempat.
Jika aku menolak, mungkin saat ini dia dan mamaku sudah mempersiapkan acara pertunangan kami.
Sejujurnya aku muak dengan semua ini, hanya saja aku takut melawan mama ku.
"Kamu takut dengan mamamu, atau kamu tidak percaya kalau Freen bisa menjagamu seandainya mama mu bertindak keterlaluan bahkan menghapusmu dari daftar keluarga kalau kamu memilih Freen?"
Ada suara yang bergema di kepala ku. Akhir-akhir ini aku sering mendengar suara di kepalaku yang berkonflik dengan isi pikiranku.
Aku rasa suara itu benar. Jika aku mempercayai Freen, bukankah aku seharusnya tidak perlu takut lagi dengan mama ku?
"Beck"
"Becky"
"Sayang"
sentuhan tangan phi Non pada lengan kananku menbuyarkan lamunanku. Ternyata kami sudah sampai di depan kantor agensinya.
"Aku sampai memanggilmu tiga kali. Apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" Phi Non bertanya padaku dengan raut wajah heran.
"Tak apa phi. Ayo turun" aku bergegas membuka pintu dan berjalan lebih mendahuluinya memasuki kantor.
********************
AUTHOR POV
Plakkk!!
"Awwww sakit! Kamu gila ya?" Pekik Freen karena tangan sahabatnya dengan enteng mendarat di kepalanya. Setelah mereka berdua duduk di Sofa.
"Bisa-bisanya kau membuatku panik Freen!! Ingin sekali aku menghajarmujika aku tidak ingat bahwa kau adalah sahabatku!" Ucap Nam tegas dengan jantung yang masih berdetak kencang.
Dia masih dalam kondisi syok setelah baru saja melihat sahabatnya terkapar di samping meja pendek di depan sofa dengan pecahan gelas yang berserakan serta bercak darah di jari-jari Freen.
Dia mengira Freen telah melakukan perbuatan yang nekad sehingga membuatnya kehilangan nyawa.
Tapi......
Setelah didekati ternyata Freen masih dalam keadaan sadar, melamun, menangis tanpa suara, dengan wajah merengut nya yang menggemaskan.
"Katakan padaku, apa alasanmu tiduran di lantai? Aku pikir kau bunuh diri dengan pecahan gelas itu" ucap Nam sambil membersihkan luka di ujung jari Freen yang sedari tadi Freen biarkan menetes sehingga keluar banyak darah. Maka tidak heran bila Nam menyangka temannya telah mengakhiri hidupnya.
"Aku sedang menangis sambil merapikan meja. Lalu tidak sengaja menyenggol gelas. Eeh.. pecah. Aku memungutnya, lalu terluka. Aku makin menangis karena jariku terasa perih. Karena lelah menangis, aku terduduk di lantai dan entah kenapa jadi berbaring tengkurap. Mungkin karena terlalu memikirkan Becky" ucap Freen polos.
Nam melongo karena tidak habis pikir mendengar pengakuan Freen.
"Cinta ternyata bisa membuat sahabatku menjadi tidak waras"
Tutur Nam dalam Hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
I am Here For You
Dla nastolatkówTidak apa-apa jika tidak sesuai keinginanku, tidak apa-apa jika kamu tidak menjadi milikku, sungguh. Yang terpenting bagiku adalah kamu bahagia. Senyummu, tawamu, bahagiamu adalah prioritasku. Warning 18+ 🔥 #GXG #freenbecky
