BAB 61

1.8K 150 24
                                        


"Yang menyuruhkan bersembunyi bukan Ayah Nona Prim! Dia bahkan tidak tahu jika aku punya bukti"

"Lalu siapa???" Ucap Freen dalam keterkejutannya.

"Besok kau akan mengetahuinya. Pulanglah nona. Ini sudah larut malam. Hanya saja, selalu ada resiko dari setiap keputusan. Bisa saja setelah hakim melihat video ini, nama mu juga akan ikut terseret" ucap Chin dengan tersenyum remeh.

"Itu sudah menjadi konsekuensi ku. Jadi aku harap kamu tidak ingkar, sehingga nyawa adikmu akan tetap selamat" ucap Freen yang lagi-lagi menggunakan nyawa seorang gadis kecil sebagai ancamannya.

Flash Back OFF

**********************

Kembali ke pengadilan.

"Yang Mulai" pengacara dari Non dan kawan-kawan memulai pembicaraannya.

Sang hakim agung kini memberikan atensi penuh pada sang pengacara, siap mendengarkan apapun yang ia ingin katakan.

Tapi tiba-tiba........

"Tunggu!!" Teriak seseorang dari arah pintu ruang sidang.

Semua mata menuju pada sesosok laki-laki muda yang mengenakan kemeja simple dengan celana panjang yang senada dengan kemejanya.

Beberapa bisikan mulai menggema di ruang sidang, membuat suasana tak lagi tenang.

Namun Freen tampak tersenyum dengan ketenangan yang tak tergoyahkan, memandangi laki-laki itu.

"Dia kah orangnya sayang?" Bisik Becky kemudian.

Freen memandang kekasihnya dengan tatapan yang dalam, antara bahagia dan sedih. Bahagia karena kini ia bisa membuktikan bahwa kakak nya dan kakak kekasihnya bukanlah pembunuh Prim namun juga sedih.

Sedih karena.......

"Maafkan saya Yang Mulia karena mengganggu di tengah-tengah jalannya sidang. Tapi saya memiliki rekaman disaat kejadian yang saya ambil dengan handphone saya sendiri" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Tuan Chin yang ditemui Freen pada malam sebelumnya.

Ketiga laki-laki dewasa yang menjadi tersangka pembunuhan terperangah melihat kedatangan Chin. Terutama laki-laki yang duduk di kursi sebelah kanan.

"Sudah aku bilang, jumlah mereka empat orang" gerutu Kirk.

"Akupun merasa begitu" sahut Roy

Sedangkan Non masih menatap nanar pada Chin seperti menyimpan sesuatu di dalam hati nya.

"Katakan siapa anda dan apa tujuan anda?" Sahut sang hakim sehingga membuat beberapa petugas keamanan menghentikan langkah mereka. Padahal awalnya, para petugas tersebut ingin menarik Chin dari area pengadilan karena dianggap mengganggu jalannya sidang.

"Saya adalah Chin, salah satu anak buah Tuan Non yang saat itu ada di lokasi kejadian. Saya datang karena ingin menyerahkan bukti baru, sebuah rekaman video yang sekira nya bisa memberikan titik terang pada kasus ini" ucap Chin dengan yakin.

Ayah Prim menatap sengit pada sosok chin yang berdiri di tengah-tengah sidang. Dia penuh dengan rasa penasaran, apakah bukti itu akan membantu lawan nya atau membantu diri nya.

Seorang petugas segera mengambil flashdisk yang dibawa Chin dan menyerahkannya pada hakim.

"Baiklah, karena adanya bukti baru, mari kita lanjutkan sidangnya satu minggu lagi" tegas pak Hakim kemudian.

"Mohon maaf, saya menyela Yang Mulai. Bagaimana jika kita lihat bersama saja sekarang isi dari flashdisk itu sekarang. Agar mengecilkan kemungkinan barang bukti dihilangkan atau penyalahgunaan barang bukti. Bukan maksud kami untuk tidak percaya pada pengadilan dan hukum, hanya saja kami butuh transparansi" ucap Pengacara ayah Prim dengan lantang.

I am Here For YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang