Flash Back On
Di suatu malam yang dingin disertai hujan deras dan angin yang cukup bisa membuat orang-orang memilih untuk meringkuk di bawah selimut tebal mereka daripada berkeliaran di luar rumah, terdapat seorang gadis dewasa dengan pakaian setengah basah berada di depan pintu rumah bergaya sederhana.
Tanpa ragu ia mengetuk pintu kayu tersebut, sembari menunggu seseorang membuka nya.
Setelah menunggu beberapa menit, tidak terdapat tanda-tanda pintu itu akan dibuka.
Namun gadis itu tidak menyerah, dia terus menunggu penuh harap. Sesekali ia menyeka wajahnya yang semakin basah karena terpaan hujan.
Akhirnya pintu itu terbuka perlahan seperti penuh keraguan.
Gadis itu tidak menunggu sampai pintu terkuat sempurna, untuk segera menjejakkan kakinya ke dalam rumah itu.
Pemuda yang membuka pintu tampak terkejut oleh kehadiran sang gadis, ia mencoba mendorong keluar tubuh gadis dengan tubuh tinggi semampai bak model itu, namun ternyata gadis itu lebih gesit dari yang ia duga.
"Nona Freen?!" Pekik laki-laki dengan wajah tiga puluh tahunan itu.
"Kau ingat padaku, phi Chin?" Ucap sang gadis dengan senyum sinisnya, yang ternyata adalah Freen Chankimha sang artis terkenal.
Freen mengunci pintu rumah itu dari dalam. Lalu mendekat ke arah pria dewasa itu.
"Bagaimana bisa kau hilang mendadak disaat keadaan semakin memburuk phi?!" Pekik Freen.
Ia sebenarnya berencana melakukan pendekatan yang lembut dengan laki-laki itu, tapi karena situasi yang semakin mendesak membuatnya kehilangan kesabaran.
"Ap..apa maksudmu nona?" Jawab Laki-laki dengan gugup.
"Apa alasanmu menghilang? Takut dipenjara Hah?!. Atau kau dibayar mahal oleh Ayah Prim untuk bersembunyi agar kakak-kakakku dan atasanmu diberi hukuman berat karena tidak bisa membuktikan jika mereka bukan penyebab kematian Primiily?!" Tanya Freen sembari mengungkung tubuh Laki-laki itu pada dinding.
Sebenarnya laki-laki itu bisa saja dengan mudahnya mendorong tubuh Freen atau menghajarnya di tempat itu, karena dia adalah salah satu anak buah Non yang ikut mengejar Primiily bersama Freen, yang ternyata tiba-tiba menghilang tanpa jejak setelah kejadian tabrakan maut itu, yang tentu saja tenagannya jauh lebih kuat dari Freen. Namun, laki-laki itu memilih diam dan tidak melakukan perlawanan.
"Apa kau tidak takut aku bunuh nona? Kau hanya seorang wanita dan datang pada ku seorang diri. Sebaiknya anda pergi sebelum aku bertindak kasar dan tidak sopan" Ancam Laki-laki bernama Chin itu dengan menyeringai sinis.
Freen tidak merasa takut sedikitpun, dia mendekatkan wajahnya ke telinga Chin, lalu berbisik.
"Kau kira aku sebodoh itu? Berapa uang yang diberikan tua bangka itu? Aku bisa memberikan lebih banyak. Kau butuh uang kan?"
Ucap Freen dengan entengnya.
"Ini bukan masalah uang" sahut Chin cepat
Freen tidak hilang akal. Dia segera mengeluarkan handphone nya dan menghubungi seseorang.
Disebuah tempat nun jauh, terdapat laki-laki lain mengangkat telepon Freen dan mengalihkan saluran itu menjadi video call.
Freen segera memperlihatkan layar handphone pada laki-laki yang berada di depannya.
Titik titik keringat dingin mulai muncul di sela-sela dahi dan leher laki-laki itu saat ia menatap layar ponsel yang terhubung dengan sesuatu di seberang sana.
"Ikuti kemauan ku, atau ventilator yang terpasang pada tubuh adikmu akan dicabut oleh anak buah ku saat ini juga!!" Ancam Freen dengan mata yang mulai memerah. Ada rasa marah yang ia pendam di dalam dadanya.
Laki-laki itu masih menatap nanar layar ponsel Freen, yang memperlihatkan adik kandungnya, satu-satunya keluarga yang masih ia miliki, yang saat ini sedang koma di salah satu rumah sakit besar di Thailand.
"Ba..bagaimana kau.. kau bisa tahu tentang adik ku???!!" Chin mulai panik dan mencengkeram kerah jaket yang dipakai Freen.
Tubuh Freen terangkat dengan mudah dan siap untuk terbanting seandainya Freen tidak berkata...
"Ikuti mau ku, atau kau akan kehilangan adikku sekarang juga phi. Aku tidak main-main dengan ucapanku" Freen berkata dengan suara tenang namun penuh penekanan.
"Aaarrrhhhh!!" Teriak Chin sambil membanting keras tubuh langsing sang Artis ke lantai.
"Apa mau mu??!!" Lanjutnya dengan suara keras.
"Aww...,, iiissss" Freen meringgis karena beberapa bagian tubuhnya terasa sakit akibat terlempar cukup jauh dan menabrak meja di ruangan itu. Namun, sunggingan senyum muncul di sudut bibir nya.
"Muncul di sidang besok, bawa rekaman video di handphone mu lalu tunjukkan pada hakim"
Ucap Freen setelah mampu bangkit dan berdiri.
Namun Chin tidak bergeming.
"Tenang phi, jika karena video itu kau ikut dipenjara karena terbukti ikut andil dalam penyekapan Primiily, biaya perawatan adikmu akan menjadi tanggung jawabku selalu kau dipenjara. Setelah kau keluar dari penjara, kau akan kuberi pekerjaan. Atau kau mau kuberi uang saja? Aku bisa memberikan uang yang lebih banyak dari yang bisa diberikan Pak tua itu" ucap Freen mulai melangkah ke arah Chin tanpa rasa takut.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" Ucap Chin kemudian.
Freen tersenyum dengan Tulus.
"Kita sama-sama sedang berkorban untuk melindungi keluarga kita phi. Aku berusaha membuktikan bahwa kakak-kakakku dan boss mu tidak membunuh Prim. Dan kau bersembunyi, demi sejumlah uang, untuk kesembuhan adikmu kan?"
Chin diam sejenak sebelum akhirnya membuat keputusan.
"Okay nona Freen. Aku akan mempercayai mu kali ini. Tapi jika ternyata kau ingkar, dan terjadi sesuatu pada adikku. Maka aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri" ucap Chin dengan suara beratnya.
"Kau bisa memegang janji ku. Aku pergi dulu. Sampai bertemu besok di pengadilan"
Freen pun beranjak ke arah pintu untuk segera pergi dari tempat persembunyian Chin, yang berhasil ia lacak berhari-hari dengan bantuan Detektif Swasta sewaannya.
Ia sangat ingat, pada saat ia mengejar Prim diantara semak belukar itu, ia diikuti oleh empat orang anak buah Non. Bahkan seseorang melewatinya lebih dulu ketika Prim berhasil keluar dari hutan dan menemukan jalanan.
Ya..! Laki-laki itu adalah Chin, orang yang berlari melewati Freen dan yang pertama kali melihat Prim terkapar di jalan bahkan sempat merekam kejadian itu dengan handphone nya.
Kejadian saat itu begitu cepat.
Freen sempat melihat Chin memasukkan handphone ke dalam sakunya setelah merekam. Namun karena Pikiran Freen tiba-tiba menjadi kacau karena melihat kondisi Prim yang berdarah-darah. Freen pun seakan lupa tentang saksi kunci dan barang bukti rekaman itu.
"Tunggu nona! Kau perlu tahu sesuatu! Kau salah paham!" Sergah Chin menahan tangan Freen membuka pintu.
Freen mengernyitkan dahi nya tanpa menjawab.
"Yang menyuruhkan bersembunyi bukan Ayah Nona Prim! Dia bahkan tidak tahu jika aku punya bukti"
"Lalu siapa???" Ucap Freen dalam keterkejutannya.
****************
Nah loohh....,, Siapa yang menyuruh Chin bersembunyi?
Athor ingin minta maaf yang sebesar-besarnya untuk para reader karena author makin lama makin jarang up cerita.
Tapi thor akan usahain untuk up lebih cepat hehehe
I miss u all 😁😘😚
KAMU SEDANG MEMBACA
I am Here For You
Novela JuvenilTidak apa-apa jika tidak sesuai keinginanku, tidak apa-apa jika kamu tidak menjadi milikku, sungguh. Yang terpenting bagiku adalah kamu bahagia. Senyummu, tawamu, bahagiamu adalah prioritasku. Warning 18+ 🔥 #GXG #freenbecky
