BECKY POV
Huff!! sudah hampir sebulan sejak Freen meminta aku menentukan hari dimana dia bisa melamarku. Jika ditanya bagaimana perasaanku saat dia mengatakan hal itu?
Jawabannya: sangat bahagia. Aku selalu membayangkan bisa menikah dengan pangeran yang selalu menjaganya sejak umur kami 10 tahun, selalu menuruti kemauanku, tidak pernah membiarkanku sedih, selalu menemani ku, yang selalu sabar menghadapiku yang memiliki tingkah seperti bayi dan memiliki kesabaran setipis tisue. Bahkan kurasa aku adalah prioritasnya dibandingkan apapun di dunia ini.
Siapa yang bisa menolak manusia penuh effort seperti dia.
Aku tersenyum-senyum sendiri membayangkan kami memakai dress kembar di hari pernikahan kami, mengatakan janji suci pernikahan, lalu berciuman di depan semua tamu. Oohh Freen. Seandainya kau tahu, aku benar-benar menginginkan itu terjadi.
Hanya saja, aku ingin kebersamaan kita direstui orang tua kita berdua. Terutama mama ku.
Aku menghelaaa nafas panjang.
Sampai saat ini aku belum memberinya jawaban.
Sejujurnya aku sengaja menunda-nunda. Bukan sekali dua kali Freen memintaku untuk mengungkapkan hubungan kami kepada mama ku, tapi berkali-kali selama dua tahun lebih kami bersama sebagai pasangan kekasih.
Yaaahh... tentunya dengan berbagai alasan.
Karena apa??
Karena aku tidak sanggup menerima akibatnya. Entah kenapa aku lebih yakin mama akan tetap memilih Non, dan bukan Freen sebagai menantunya. Jika itu terjadi, aku tidak sanggup untuk berpisah dengan gadis yang selalu menjadikan aku tuan putrinya disetiap hari yang kami lewati.
Sudah pasti, aku akan dilarang bertemu apalagi kembali dekat dengan Freen.
Maka dari itu. Penundaan itu selalu aku lakukan setiap Freen meminta ku memperjelas statusnya dan berhenti menjadikan dia yang kedua. Agar aku bisa bersama Freen lebih lama lagi.
Tapi aku lupa.....
Aku tidak menyadari, jika kesabaran seseorang yang walaupun setebal batu gunung sekalipun akan terpecah juga jika terhantam hujan terus menerus.
Dan kini kesabaran kesayanganku telah habis menghadapiku.
Sudah hampir satu bulan ini komunikasi kami tidak lancar. Beberapa kali dia mau datang sebentar menemuiku, entah karena terpaksa atau kasihan mendengar tangisanku di telepon yang merenggek karena merindukannya.
Ego dan Harga diriku yang biasanya tinggi jatuh terjerembab ke dasar jurang disaat aku mengemis perhatian dan memohon padanya agar dia mau menemui ku.
Padahal biasanya, aku tidak perlu melakukan itu. Freen lah orang yang selalu menelponku sesering yang dia bisa disaat kami tidak sedang bersama. Freen lah yang selalu datang menghampiri dimanapun aku berada disaat dia tidak sibuk, bahkan saat jam istirahat kuliah, dia akan berjalan jauh dari Fakultas Bisnis menuju fakultas Psikologi hanya untuk mengajakku membeli makanan sehat. Dia juga yang selalu mengatur pola makanku agar aku tidak telat makan, mengatur jam tidurku agar aku tidak mengantuk di kelas, bahkan dia juga menyiapkan pakaianku sehari-hari.
Hikz hikz.
Tidak terasa air mata ku mengalir kembali seperti hari-hari sebelumnya. Entah sudah berapa malam aku lewati sendirian di kamar sederhana ini, merindukan sosoknya. Di kamar yang menjadi saksi bisu betapa bahagianya kami selama ini.
"Freen tidak bisa kah kamu memahami kondisiku? Aku takut dengan mama" gumanku tanpa bisa didengar olehnya.
"Kamu tidak membiarkan Freen melamarmu karena kamu takut mamamu akan menjauhkanmu dari Freen. Lalu apa bedanya dengan sekarang? Hey Beck! kamu sudah berada di titip hampir kehilangan Freen! Ingat, waktumu hanya beberapa hari lagi"
KAMU SEDANG MEMBACA
I am Here For You
Teen FictionTidak apa-apa jika tidak sesuai keinginanku, tidak apa-apa jika kamu tidak menjadi milikku, sungguh. Yang terpenting bagiku adalah kamu bahagia. Senyummu, tawamu, bahagiamu adalah prioritasku. Warning 18+ 🔥 #GXG #freenbecky
