BAB 57

2.4K 193 30
                                        

"Beck!! Maafkan aku! hiks.... hiks...."
Ujar Freen seraya jatuh dengan lutut terlebih dahulu menyentuh lantai.

Becky yang terkejut segera meraih tubuh Freen yang ada di depannya.

"Kenapa tiba-tiba seperti ini sayang? Ada apa sebenarnya?" Ucap Becky dengan kebingungan.

"Becky.....,, hiks hiks"
Freen terus saja menangis dan Becky dengan setia tetap memeluk dan mengelus punggung pangerannya, dengan harapan Freen bisa lebih tenang.

"Tenangkan dirimu dulu Freen,, setelah itu baru ceritakan padaku apa yang terjadi dan apa yang kamu rasakan. Okay?" Tutur Becky dengan lembut sambil mengecup pucuk kepala Freen beberapa kali dengan sayang.

Beberapa menit kemudian, isakan tangis Freen mulai berkurang. Dia tampak lebih tenang dari sebelumnya.

Freen mulai menceritakan segala hal yang terjadi di markas milik Non tanpa ada yang ia tutupi termasuk usahanya mengejar Primiily namun gadis itu berakhir dengan kondisi memilukan.

"Aku hanya bersimpati padanya karena dia partner kerjaku selama tiga tahun ini sayang. Aku tidak ada perasaan lain padanya, Apa kau marah dengan sikapku?" Tanya Freen kemudian dengan wajah sendu.

Becky menatap Freen dengan dalam, menimang-nimang akan memberikan jawaban seperti apa.

Dia merasa kaget mendengar cerita Freen bahwa biang keladi dari tersebarnya video mereka adalah teman kekasihnya sendiri. Namun Freen seolah lupa akan hal itu, malah masih berusaha melindungi Primiily.

Beberapa saat kemudian, Becky berdiri dan keluar dari kamarnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Apa dia benar-benar tidak suka pada apa yang aku lakukan tadi? Primiily bahkan sudah tidak bernyawa saat ini. Apa aku tidak termaafkan?" guman Freen dalam kesendiriannya, masih dengan posisi yang sama.

Freen memasukkan tangan kanannya ke saku jaketnya. Menggenggam erat benda yang ia simpan disana dalam waktu lama.

"Aku harus buru-buru melakukannya. Aku tidak ingin dia meninggalkanku lagi seperti dulu. Setidaknya aku akan mencoba." Freen lagi-lagi berbisik pada dirinya sendiri.

"Hmmmm..,, apakah situasi seperti tepat untuk melakukannya?" Freen sibuk dengan pikirannya dengan posisi kepala menunduk, sampai-sampai tidak sadar seseorang telah kembali dari luar kamar dan kini berjongkok di depannya.



"Freen Chankimha!!!"




"Will you marry me????"






Mata Freen hampir meloncat dari tempatnya bertengger, mendengar kalimat itu. Lalu segera ia dongakkan kepalanya ke depan.

Tuan putrinya tampak sangat maskulin menunjukkan sebuah kotak perhiasan berwarna biru yang sudah dalam keadaan terbuka. Di dalamnya terdapat dua buah cincin berlian kembar yang sepertinya memiliki ukuran yang sama.

Freen tak bisa berkata-kata. Kepala nya kini sibuk mencerna dan menerka tentang apa yang sedang terjadi.

Becky mulai memunculkan senyum khasnya yang manis karena melihat wajah syok kekasihnya.

"Ini bukan mimpi sayang. Aku melamarmu? Apa kau tidak mau menikah denganku, makanya kamu diam saja?" Becky tiba-tiba tampak murung.


"MAUUUUUU!!!!"



Teriak Freen dengan cepat. Bahkan cenderung berlebihan.

"Ak.....aku.... hanya bingung. Aku pikir kamu marah princess karena sikap perhatianku ke Primiily tapi tiba-tiba malah kamu mencuri start duluan untuk melamar, ini harusnya menjadi bagianku" ucap Freen dengan wajah bingungnya.

I am Here For YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang