BAB 11 (18+) 🔥

8K 340 9
                                        

Malam semakin larut. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Becky mondar mandir di kamar asramanya.

Dia bisa saja menginap di rumah Mewah Non atau rumah mewah keluarganya karena besok hari libur. Tapi Becky tidak terbiasa tidur tanpa memeluk Freen. Setelah pertemuannya dengan Non tadi, dia minta segera diantar kembali ke Asrama.

Harapannya untuk segera bertemu pangerannya sepertinya harus tertunda. Kamar itu kosong.

"Sudah jam segini. Kenapa Freen belum kembali.
Huff tahan Beck! Jangan hubungi Freen. Kamu sudah pernah mengatakan padanya untuk membebaskannya melakukan apapun yang dia mau.
Please tahan tanganmu untuk memintanya pulang"

Becky mondar mandir gelisah sambil memegang handphonenya.

"Tapi aku khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu? Freen tidak pernah pergi selarut ini tanpa memberi kabar padaku. Itu pertama kalinya dia tanpa kabar"

Becky terus bergelut dengan pikirannya sendiri.

"Apa jangan jangan dia cemburu karena phi Non menciumku di depannya? Lalu dia merajuk dan tidak mengirim pesan"

Muncul sedikit senyuman di sudut mulut Becky karena dugaannya itu.

"Huaaaa tetap saja aku gelisah. Ini sudah hampir tengah malam bagaimana ini"
Becky melompat ke tempat tidurnya lalu mengguling-gulingkan tubuhnya.

*************

Sementara itu di sebuah club malam. Freen bergoyang-goyang tanpa arah akibat lima sloki Whiskey yang dia minum.

"Nam, hatiku sakit sekali. Becky ku disentuh orang lain" ujar Freen setelah Nam menariknya ke pinggir menuju kursi bar.

"Dia bukan Becky mu! Sadari itu. Kalau tidak kuat, sudahi perasaanmu padanya. Bukankah kamu bilang Becky membebaskanmu?, jadi kamu tidak harus terus-terusan menempel padanya sekarang. Lagi pula yang menyentuhnya itu bukan orang lain, itu kekasihnya" Nam mengingatkan Freen

"Bagaimana bisa aku tidak menempel padanya. Dia satu-satunya semangat hidupku"

Mata Freen mulai berkaca-kaca.

"Nam aku benar-benar mencintainya" lirih Freen lalu menangis sampai sesegukan.

Nam hanya bisa memeluk dan menepuk punggung Freen. Berusaha membuat sahabatnya tenang.

Malam ini dia benar-benar menumpahkan apa yang dia rasakan selama sekian tahun memendam perasaan yang tak terungkapkan, dalam alkohol, racauan dan tangisan. Dan Nam sebagai saksi hidup dari perjalanan Freen mencintai Becky.

"Freen, kita pulang ya" ujar Nam kemudian.

"Aku harap kamu segera bisa menemukan seseorang yang mencintaimu sehebat kamu mencintainya" Batin Nam

Nam merasa sangat bersyukur karena dia hanya mencoba satu sloky minuman beralkohol. Jika tidak bagaimana dia akan mengurus temannya yang sampai saat ini pun masih bergerak-gerak tidak karuan karena mabuk.

Freen melepas pelukan Nam, lalu bergerak berbalik dan secara tiba-tiba menoel bahu seorang pria yang duduk di sebelahnya

"Sendirian saja tuan? Dimana kekasihmu? Apa kau seperti aku yang mencintai seseorang tapi tak berani mengungkapkanya karena dia kekasih orang?" Freen kembali meracau dengan wajah tipsy nya.

Nam menepuk jidatnya. Dan segera bangkit dari kursinya.

"Tuan, maafkan teman saya. Dia mabuk" ucap Nam seraya menarik Freen menjauhi pria itu.

"Tak apa-apa nona" sahut pria itu singkat

Freen lalu melepas cengkraman tangan Nam dan berjalan dengan tidak seimbang menuju sofa kosong di sisi lain bar.

I am Here For YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang