Mata ku mendelik ketika dia menyebut nama Freen di hadapanku.
Apa yang dia ketahui yaa...,,
Dengan ragu aku menuruti ajakannya lalu mengikutinya memasuki rumah itu. Sepertinya aku benar-benar sedang mencari jenis penyakit baru yang tidak dapat didiagnosa oleh dokter ahli manapun.
Aku mengalami reaksi aneh ketika memasuki rumah ini. Jantung yang berdetak secara ireguler, tekanan pada daerah ulu hati yang membuat nafasku tersendat, bahkan cairan bening yang mengaburkan mata pun mulai muncul.
"Mengingat sesuatu Nona?" Ucap wanita yang menawariku untuk memasuki rumahnya.
Aku berusaha menetralkan perasaanku terlebih dahulu sebelum menjawabnya. Aku tidak ingin membiarkan hati mellow ku mengusaiku saat ini.
"Bagaimana kamu tahu tentang aku dan Freen?" Tanya ku to the point.
"Bagaimana jika kita berkenalan dulu. Namaku Marissa Lloyd. Sepertinya kita sebaya, kau bisa memanggilku Marissa" ujarnya lalu tersenyum ramah.
Aku tersenyum kecut. Aku rasa, aku melupakan sopan santunku. Aku belum berkenalan dengan wanita berwajah setengah asing ini. Kurasa dia juga seorang blasteran sepertiku.
"Maafkan aku Marissa. Karena langsung bertanya. Aku hanya penasaran. Nama ku Becky Armstrong. Umur dua puluh empat tahun"
"Umur kita sama. Duduklah dulu. Aku akan membuatkanmu minuman"
Aku melihat sekitar saat duduk di ruang tamu rumah itu. Semuanya berubah drastis. Tampak lebih lengang daripada saat keluarga Freen masih tinggal disini.
"Aku tidak suka terlalu banyak barang. Jadi aku hanya mendesign ruang tamu ini dengan barang sebutuhnya saja" ujar nya sambil membawa segelas orange juice, seolah tahu apa yang ada dalam benak ku.
Aku hanya tersenyum pada nya. Lalu mata ku kembali melihat sekitar dan terkunci pada sebuah pintu di ujung tangga lantai dua.
Kamar lama Freen.
"Kau ingin masuk kesana?" Lagi-lagi Marissa bisa membaca pikiranku. Apakah dia sesosok paranormal dengan penampilan modern?
"Bagaimana kamu tahu aku ingin kesana?"
"Ayo kita kesana. Kamar itu aku biarkan kosong karena aku hanya tinggal berdua saja setelah aku menikah. Aku lebih suka tidur di kamar yang ada di lantai dasar"
Marissa tidak menjawab pertanyaanku.
Segala sikapnya membuatku bingung. Tapi aku malah tetap mengikuti langkahnya menaiki tangga.
Pintu terbuka......
Aku memasuki kamar itu sendirian karena Marissa meninggalkanku.
Hanya ada sebuah Ranjang dan sebuah lemari berbahan Oak, salah satu jenis pohon tertua di dunia yang terkenal kuat.
Kenapa aku bisa tahu?
"Keluarga Freen tidak membawa dua benda itu, entah kenapa" ucap Marissa setelah tiba-tiba muncul di sebelahku.
"Yaakk! Marissa! kau seperti hantu" aku terkejut sambil memegang dada ku yang naik turun mengikuti irama jantung yang terpompa kuat oleh karena terkejut.
Marissa nampak cekikikan sebelum memberiku sebuah buku tebal.
"Nih!, sepertinya kamu lebih berhak membawanya. Aku bahkan tak bisa membukanya"
Aku yakin ini sebuah Diary book. Untuk membuka nya perlu menggulir enam buah angka yang berderet. Kenapa dia mengatakan bahwa aku punya hak untuk mengambil alih buku ini. Siapa pemilik buku ini sebenarnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
I am Here For You
Dla nastolatkówTidak apa-apa jika tidak sesuai keinginanku, tidak apa-apa jika kamu tidak menjadi milikku, sungguh. Yang terpenting bagiku adalah kamu bahagia. Senyummu, tawamu, bahagiamu adalah prioritasku. Warning 18+ 🔥 #GXG #freenbecky
