RUSAKNYA PONSEL WILONA pasti bukan tanpa alasan. Kejadian tadi malam masih terputar jelas di kepala Nares. Sesuatu yang buruk telah terjadi. Hal tersebut kemungkinan sangat menguras emosi sampai-sampai Wilona merasa kalut dan melampiaskannya dengan cara yang tidak biasa.
Sejak menginjakkan kaki di kantor, Nares masih terus terngiang dengan kondisi istrinya. Dia tidak ingin terlalu ikut campur ataupun sok peduli. Bagaimanapun juga, Wilona bukanlah orang terdekatnya. Apalagi, mereka juga belum terlalu lama mengenal. Nares akan menampik anggapan bahwa dia mulai tertarik pada wanita ini. Hanya saja, keinginannya tidak selaras dengan isi pikiran. Keadaan Wilona terus membuatnya bertanya-tanya. Dia ingin tahu keadaan sosok tersebut.
Dan keingintahuan itu mulai merepotkannya karena dia jadi terus teringat dengan sang wanita.
Keingintahuan tersebut juga mendorongnya untuk mulai bertindak tidak biasa, salah satunya adalah dengan mencari tahu tentang sumber masalah sosok itu.
Dari sekian banyak orang yang bisa ditanyai, Nares memutuskan untuk menemui sosok yang mengawal Wilona. Kepentingan Wilona dengan si pengawal pasti mengharuskannya untuk menceritakan detail masalah tersebut. Nares masih sangat enggan menemui Cakra. Namun, hanya dia satu-satunya informan yang tersedia. Cakra tampak mengetahui cukup banyak hal. Dia sedikit mengingatkannya pada Dewan, sesuatu yang makin membuat Nares anti kepadanya.
Namun, keperluannya dengan sosok itu membawanya ke sebuah studio bela diri yang sempat disebutkan si pengawal.
Cakra sempat menyebutkan bahwa dia hanya membantu temannya mempromosikan tempat ini. Walaupun begitu, setelah melihat langsung tempat yang dimaksud sosok itu, Nares tahu betul kalau Cakra hanya membual.
Pasalnya, lihatlah sebuah studio martial arts yang megah dan modern ini. Promosi palsu apa yang disebutkan si lelaki sialan?
Ketika memasuki pintu utama, Nares dihadapkan dengan ruang tunggu dan juga keberadaan seorang resepsionis. Ketika mendatangi resepsionis itu, dia malah sekalian ditawari program-program kelas bela diri dan juga personal training.
Kesabaran Nares tidak pernah lebih tebal dari secarik tisu. Dia segera memotong ucapan si resepsionis dengan menyebutkan janjinya dengan Cakra.
Nama pria itu tampaknya dikenal dengan baik oleh pria muda yang hampir membuatnya marah ini. Dari ucapan sosok tersebut, Nares mulai tahu bahwa Cakra merupakan salah satu personal trainer di sini. Dia juga mengajar di beberapa kelas bela diri mereka. Dan satu hal yang terpenting, sore ini dia belum datang ke studio.
Menakjubkan sekali.
Nares terang-terangan berdecak kesal di hadapan si resepsionis.
Kekesalan Nares terpampang jelas. Resepsionis itu mulai terlihat panik dengan reaksi tersebut. Menjadi seorang pekerja depan selalu mengharuskannya menghadapi tamu-tamu merepotkan. Dia pun segera berusaha untuk menenangkan Nares. Katanya, dia akan segera menghubungi Cakra agar pria itu bisa datang lebih awal dari biasa.
"Di sini kami juga menyediakan gimnasium yang bisa digunakan oleh anggota maupun non anggota," jelasnya cepat. "Bang Cakra paling cepat datang sekitar satu jam lagi. Jadi, Kakak mungkin bisa menggunakan fasilitas latihan dari kami dulu, siapa tahu—"
"Seramai apa tempatnya?" potong Nares.
Resepsionis itu terdiam sesaat. Dia terlihat sedang memupuk kesabaran karena harus menghadapi orang seperti Nares di jam-jam terakhir sifnya.
"Karena sekarang hari kerja, tempat gym kami sedang cukup sepi. Silakan Kakak bisa coba melihat-lihat. Ini kartu masuk dan kunci lokernya."
Nares melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Dengan pertimbangan singkat, dia memutuskan untuk menerima tawaran dari resepsionis ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Glasses [END]
RomanceBook 4 Indonesian Bachelor Series ** Luka dan sakit di masa lalu membuat Wilona pesimis dengan sebuah pernikahan. Baginya yang sempat gagal dan sedang dalam masa pemulihan, pernikahan tidak lagi sakral. Pernikahan bukan lagi benang yang akan memper...
![Broken Glasses [END]](https://img.wattpad.com/cover/361048098-64-k868825.jpg)