Setiap akhir pekan rutinitas Rimba adalah ke rumah sakit. Hari biasa Rimba akan menjadi anak remaja yang biasanya yaitu berbuat onar di sekolah.
Jam masuk telah berbunyi beberapa menit lalu. Keempat remaja laki-laki tengah berada di sebuah pohon di belakang sekolah. Mereka tengah menikmati buah jambu yang berbuah lebat. Rimba berada paling atas dibandingkan ketiga sahabatnya.
"Rimba! Lu jangan ketinggian naiknya! Tar turun repot sendiri lu!" pekik Bagas.
"Ada papa," sahut Rimba santai.
"Lu jangan buat iri deh!" pekik Guan.
"Dih bapak lu ada dua juga!" pekik Rimba.
"Kagak ada perannya di hidup gua!" pekik Guan.
"Rimba enak tahu! Ayah dan ibunya memberinya perhatian. Lha aku tidak sama sekali," ujar Yuda.
"Gua juga sama tahu. Tuh Bagas enak punya bapak yang perhatian," ujar Guan kepada Bagas.
Bagas asyik memakan jambu air berwarna merah. "Bapak gua udah lama di kubur," sahut Bagas.
"Ibu gua, meninggal pas umur gua sembilan tahu," ujar Rimba.
"Walaupun ayah dan ibu hidup, tidak ada peran percuma juga," ujar Yuda.
"Benar sekali! Mana bapak gua dua, ibu juga dua!" pekik Guan.
"Rimba dan Yuda kagak pada ke gereja lu berdua?" tanya Bagas.
"Gua sama Rimba beda gereja," sahut Yuda.
"Udah dibaptis lu?" tanya Guan kepada Rimba.
"Belum," jawab Rimba.
"Pantes kelakuan lu masih di luar nalar," sarkas Bagas.
"Biarin! Gua nanti saja dibaptisnya kalau ingat," sahut Rimba.
"Gua baru sadar tempat ibadah kita berbeda," ujar Guan.
"Walaupun berbeda kita tetap sahabat," ujar Rimba.
"Lu tiap imlek dimana sih, Guan?" tanya Yuda.
"Di rumah nenek. Om dan tante pasti berkunjung. Mereka yang memberiku angpao," jawab Guan.
"Kedua orangtuamu?" tanya Bagas.
"Lupa. Mereka sibuk dengan keluarga barunya," jawab Guan santai.
"Kue keranjang ada tidak?" tanya Rimba.
"Ada," jawab Guan.
"Yuda lu natalan dimana?" tanya Bagas.
"Di apartemen sendirian saja," jawab Yuda.
"Ke rumah gua aja. Ada daging babi goreng enak tuh," ujar Rimba.
"Boleh deh," jawab Yuda.
"Jangan daging babi lha. Gua mau cobain menu lain saja!" protes Bagas.
"Gua sediakan daging ayam dan daging sapi kok," sahut Rimba.
"Rimba!" panggil Guan.
"Ada apa?" tanya Rimba.
Rimba mengambil jambu lantas mengelapnya menggunakan kemeja sekolah. "Pelukan seorang ibu bagaimana?" tanya Bagas.
"Bagas! Kita sudah membahas ini lho!" pekik Rimba.
"Maaf. Gua cuma pengen mendengarkan saja rasanya memiliki ibu saja," ujar Bagas.
"Ibumu orang yang baik. Sayang sekali dia dipanggil sangat cepat," ujar Guan.
"Sang pencipta akan mengambil orang baik dulu," sahut Bagas.
"Lha berarti aku orang jahat," celetuk Yuda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Fiksi UmumRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
