Pagi itu, suasana rumah masih sepi. Entah dari mana idenya, Rimba menyelinap menuju ruang bawah tanah tempat yang hanya beberapa orang tertentu diizinkan masuk. Lampu redup menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan panjang di sepanjang dinding batu. Langkah Rimba bergema ringan, namun ada aura gelap yang menyelimuti kehadirannya.
Udara di ruang bawah tanah semakin lembap dan menyesakkan. Lampu-lampu tua berayun sedikit karena hembusan udara dari ventilasi yang berdesis pelan. Di salah satu ruangan khusus yang tidak tercatat dalam denah utama rumah itu seorang pria duduk di kursi logam yang dirantai ke lantai. Perutnya berdarah ringan, wajahnya bengkak, tapi tidak ada luka parah. Belum.
Rimba berdiri di seberang meja. Tubuhnya tegap, satu tangan bersedekap, satunya lagi memutar pena kecil seperti sedang bermain.
“Namamu Dery, kan?” tanyanya pelan, tatapannya menusuk, tanpa perlu membentak.
Dery mengangguk pelan, matanya memandangi remaja di hadapannya dengan was-was. “Aku… aku sudah bilang, aku cuma kurir—”
“Dan kurir biasanya tidak tahu apa-apa, ya?” potong Rimba, matanya sedikit menyipit. “Aneh. Tapi kenapa kamu tahu kode pintu belakang rumah kami? Kenapa kamu tahu cara mematikan kamera sisi barat hanya dengan satu sentuhan?”
Dery menelan ludah. “Itu... bukan aku yang—”
CLAK!
Pena di tangan Rimba dilempar ke meja, suara benturannya membuat Dery tersentak. Rimba perlahan mendekat, meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Dery, menunduk hingga wajah mereka hampir sejajar.
“Jangan bohong,” bisik Rimba dengan suara hampir tidak terdengar, namun mengandung ancaman yang dingin. “Aku tidak akan memukulmu. Aku hanya akan membuatmu bicara dengan satu cara yang bahkan lebih menyakitkan daripada rasa sakit itu sendiri: rasa bersalah.”
Rimba berdiri kembali, berjalan ke sudut ruangan, lalu kembali sambil membawa map tebal.
“Lihat ini.” Rimba melemparkan beberapa foto ke atas meja gambar-gambar yang tidak seharusnya Dery ketahui dimiliki Rimba. Salah satunya adalah potret dirinya sendiri, tengah berbincang diam-diam dengan seorang wanita yaitu Adeline.
Dery terdiam.
“Sekarang dengarkan aku baik-baik,” suara Rimba berubah tenang namun menusuk. “Kamu akan memberi tahu semuanya. Setiap kalimat. Setiap perintah yang kamu terima. Aku tidak akan menyentuhmu tapi rasa takut akan terus menempel di lehermu seperti bayanganmu sendiri. Dan kalau kamu bohong...” Ia mencondongkan tubuh. “Aku akan menghilang selama beberapa hari... lalu muncul kembali di waktu kamu lengah... dan saat itu, aku tidak akan sekadar bertanya.”
Dery mulai menangis pelan.
Di balik kaca satu arah, Edward menghela napas. “Anak itu… bukan main,” gumamnya.
Stevan berdiri di sampingnya, tangan di saku. Matanya tajam namun penuh rasa sayang. “Dia istimewa. Dan Adeline telah menyentuh api tanpa tahu bahwa ia bermain dengan bara yang belum padam.”
Edward melirik ke arah Stevan. “Kau yakin tidak mau ikut campur langsung?”
Stevan menggeleng. “Dia harus memancing sendiri. Aku hanya akan menjaga... agar dia tidak terbakar terlalu dalam.”
Di dalam ruangan, Dery akhirnya bersuara. “Aku... aku disuruh kirim pesan. Cuma itu awalnya… tapi... lalu disuruh buka jalan masuk… atas perintah... Adeline.”
Rimba tersenyum kecil. Namun senyum itu bukan senyum puas melainkan senyum yang menyeramkan, seperti seseorang yang sudah lama tahu... hanya menunggu lawannya jatuh ke dalam perangkap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Fiksi UmumRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
