Kesehatan Rimba memang sudah pulih. Stevan juga menyeret sang putra kedua untuk secara rutin berobat ke rumah sakit. Sekarang saja, Rimba tengah memberontak dari gendongan sang ayah Stevan.
"Kita periksa dulu paru-paru kamu," ujar Stevan.
"Tidak mau!" tolak Rimba.
"Papa janji tidak akan disuntik," ujar Stevan.
"Awas bohong!" pekik Rimba.
"Iya tidak akan," ujar Stevan.
Tubuh Rimba akhirnya tenang. Di belakang Stevan ada beberapa pria bertubuh besar dan memakai jas hitam mengikuti. Rimba meledek mereka semua. Tidak ada ekspresi sama sekali dari mereka semua.
"Om semua seperti manekin saja." Wajah anak buah Stevan tidak tersenyum sama sekali. Rimba berusaha untuk membuat mereka tertawa, tidak berhasil sama sekali. "Papa sih hobi banget menghajar kalian ya. Aku akan memukul papa untuk membalas tindakannya kepada kalian," ujar Rimba.
Stevan terkekeh mendengar ucapan sang putra. "Kamu tidak mungkin berani memukul papa nak," ujar Stevan.
"Papa aku mau es krim goreng," ujar Rimba.
"Periksa dulu," ujar Stevan.
Rimba memeluk erat leher sang ayah. Stevan melarang Rimba untuk sekolah. Dia berkata bahwa Rimba perlu berobat hingga sembuh. Rimba menurut saja, dia juga malas bersekolah.
Tak lama mereka tiba di salah satu ruangan. Saat dibuka ternyata ada dua dokter yang memiliki wajah mirip. Rimba memiringkan kepala memperhatikan mereka berdua.
"Kok Om Agam ada dua?" bingung Rimba.
"Itu kembaran Om Agam," ujar Stevan.
"Hay Rimba!" sapa Agam.
"Hay Om Agam!" sapa Rimba.
Rimba turun dari gendongan Stevan. Remaja itu diperiksa oleh Agam. Di sebelah Stevan ada sosok si kembaran Agam yang memperhatikan Rimba.
"Kembaran Om Agam seperti papa saja," komentar Rimba.
"Nama adik kembaran Om, Azzam Abdillah," ujar Agam.
"Beda berapa menit?" tanya Rimba.
"Sepuluh menit," jawab Agam.
Rimba yang fokus memperhatikan Azzam tidak sadar bahwa Agam tengah mempersiapkan suntikan untuknya. Stevan juga berusaha mengalihkan perhatian sang putra.
Sengatan terasa di lengan mengalihkan atensi dia. Ketika Rimba akan memberontak kesadarannya perlahan menurun. Rimba tidak sadarkan diri ini, cara Agam agar lebih mudah untuk memeriksa Rimba.
Seluruh rangkaian pemeriksaan dilakukan kepada Rimba. Stevan juga membantu demi mengetahui sejauh mana penyakit sang putra. Sekitar dua jam kemudian segala hal telah dilakukan.
Saat ini Stevan tengah menunggu hasil pemeriksaan sang putra masih terlelap tidur. Tangan kiri Stevan dipegang erat oleh Rimba. Stevan kadang heran bagaimana sang putra memiliki sisi manis seperti ini, walaupun sifat jahil Rimba lebih mendominasi.
Mendengar nama Rimba disebut Stevan berdiri, dan tetap menggendong Rimba yang terlelap tidur. Sang duda kembali ke ruangan milik Agam.
"Bagaimana?" tanya Stevan.
"Rimba diagnosi infeksi paru-paru. Untungnya, baru tahap awal bukan dalam kategori lebih lanjut. Pengobatan untuk Rimba juga tidak terlalu membuat dia kesakitan," ujar Agam.
"Aku lega mendengarnya," ujar Stevan.
"Rimba perlu beristirahat lebih banyak," ujar Agam.
"Itu sangat sulit. Rimba anak yang super aktif seperti anak usia lima tahun," ujar Stevan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Ficción GeneralRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
