Rimba memejamkan mata, mencoba meredakan gejolak dalam dadanya. Di ruang serba putih itu yang entah nyata atau hanya alam bawah sadarnya Rimba berdiri sendirian. Tak ada suara lain, hanya gema napasnya sendiri yang terdengar berat dan patah-patah.
Tangannya terkepal, dan ia menatapnya lagi, seolah mencari makna dari setiap luka, setiap goresan perjuangan.
“Kenapa selalu harus aku?” gumam Rimba pelan. “Kalau mereka mau aku, ambil saja nyawaku. Tapi jangan ganggu Papa, Abang, Adek… Mereka tidak seharusnya ikut menanggung semuanya.”
Bayangan wajah Stevan, Fano yang polos, dan Argo yang keras kepala tapi hangat, melintas satu per satu di benaknya. Seketika itu pula, dadanya terasa sesak. Antara cinta dan keputusasaan.
“Kalau ini harga yang harus kubayar… setidaknya, biarkan mereka tetap tertawa,” bisik Rimba lirih, air mata jatuh untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia berusaha tegar.
Tiba-tiba, suara samar terdengar. Suara Argo. “Kakak… bangun, kita belum selesai… kita masih punya tugas.”
Rimba membuka mata perlahan. Suara itu… nyata. Suara yang selama ini menjadi jangkar baginya.
Di dalam ruang UGD, monitor menunjukkan sedikit peningkatan. Gerakan halus tampak dari jari Rimba. Dan walau tubuhnya masih lemah, sebuah bisikan pelan terdengar di sela alat bantu napas:
“…Abang…”
Rimba belum menyerah. Ia belum selesai.
Begitu Rimba membuka matanya dan menyebut namanya dengan suara nyaris tak terdengar, Argo langsung berdiri, wajahnya yang tegang berubah lega seketika. Ia mendekat sambil menggenggam tangan adiknya erat.
“Rim denger aku, 'kan? Kamu kuat, Rimba… kamu gak sendiri,” ujar Argo dengan suara parau menahan emosi.
Tanpa membuang waktu, Argo segera keluar dari ruang UGD dan memanggil tim medis. Para perawat dan dokter segera bergerak cepat begitu mendengar kabar bahwa Rimba telah sadar. Beberapa di antaranya segera masuk dan melakukan pemeriksaan singkat.
“Stabil. Kita bisa pindahkan dia ke ruang rawat inap untuk observasi lebih lanjut,” ucap salah satu dokter kepada Argo.
Rimba masih tampak lemah, namun matanya terus mengikuti keberadaan Argo di sekitarnya. Saat dipindahkan menggunakan tempat tidur dorong, Argo tetap berada di sampingnya, tak sekalipun melepaskan tangan adiknya.
Sementara itu, di lorong rumah sakit, Stevan tengah berbicara dengan Fano. Ketika melihat rombongan perawat yang mendorong Rimba keluar dari UGD, Stevan segera mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran yang kini perlahan berganti haru.
Fano langsung berlari dan memeluk sang kakak kedua dari sisi tempat tidur. “Jangan sakit terus, ya, Kak… Adek gak suka lihat Kakak kayak gitu,” ucapnya pelan.
Rimba tersenyum tipis, meski wajahnya masih pucat. “Maaf… Kakak janji… gak akan nyerah.”
Rimba memang cepat pulih, karena tekadnya kuat untuk tidak berlama-lama di rumah sakit. Ia merasa trauma jika harus terbaring di sana, takut musuh tiba-tiba menyerang dan membunuhnya saat ia tak berdaya.
Setelah tiga hari dirawat dan kondisinya stabil, Rimba dengan tegas meminta izin pulang. Argo dan Stevan sempat keberatan, tapi melihat kemauan keras dan perkembangan kondisi Rimba yang membaik, akhirnya mereka mengalah.
Saat Rimba kembali ke rumah, suasana berubah seketika. Ia tampak senang luar biasa bisa menghirup udara rumah sendiri. Bahkan, anehnya, flu yang selama ini diderita Stevan seolah hilang begitu Rimba tiba-tiba drop dan mengalami batuk kecil. Seakan-akan rasa sakit Stevan mengalihkan perhatian keluarganya pada kondisi Rimba, membuat ia juga ikut sembuh.
Argo yang melihat perubahan itu tersenyum kecil. “Kalau kamu udah sehat, kita harus jaga bareng-bareng, ya, adik.”
Rimba mengangguk, matanya yang dulu lemah kini penuh semangat baru untuk melindungi keluarganya dari ancaman yang mengintai.
Malam harinya, suasana di ruang keluarga cukup hangat. Rimba duduk di samping Stevan sambil memandangi foto-foto keluarga yang terpajang di dinding.
“Sepertinya dia memang orang jelek,” ucap Rimba dengan nada datar tapi penuh keyakinan. “Mungkin itu sebabnya Mama menolak dia.”
Ucapan polos dan blak-blakan dari Rimba langsung membuat Stevan tertawa keras. Suara tawa sang ayah bergema memenuhi ruang keluarga, membuat suasana yang sempat tegang menjadi lebih ringan. Stevan memandang putranya dengan penuh kasih sayang dan sedikit kekaguman.
“Kamu ini memang selalu jujur apa adanya,” kata Stevan sambil mengusap kepala Rimba. “Kadang Papa heran, kenapa kamu bisa sekonyol itu tapi juga sejujur itu. Itu yang bikin Papa sering lupa sama masalah yang ada.”
Fano, yang duduk tak jauh dari mereka, ikut tertawa sambil berkata, “Kadang aku pikir kakak itu malah lebih muda dari aku, ya! Cara dia ngomong sama sikapnya, mirip anak kecil yang nggak pernah mau diam.”
Rimba hanya tersenyum kecil, tampak bangga karena berhasil membuat suasana jadi ceria. Namun di balik senyumnya itu, ada tekad kuat yang tersimpan dalam hatinya. Ia tahu betul bahwa di balik kelucuan dan kejujurannya, ada tanggung jawab besar menunggu untuk dipikul. Musuh-musuh keluarganya bukan orang sembarangan, dan mereka harus selalu siap menghadapi bahaya yang terus mengintai.
Stevan kembali meneguk kopinya, sambil berkata, “Rimba, kamu memang sedikit berbeda dari kakak dan adikmu, tapi itulah yang membuat keluarga kita unik. Jangan pernah kehilangan kejujuran itu, tapi juga harus belajar kuat, ya.”
Rimba mengangguk pelan, berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap menjadi pelindung bagi keluarga, dengan cara yang hanya dia bisa lakukan. Sementara Fano yang penasaran, mulai bertanya-tanya dalam hati bagaimana rasanya jadi kakak seperti Rimba yang walau kadang nakal, tapi punya hati sebesar dunia.
Rimba menyandarkan tubuhnya santai ke sofa, lalu berkata dengan wajah serius yang dibuat-buat, “Kalau disuruh milih, dibandingkan Darrel yang katanya bisa jadi ayah kandungku, mending Papa Stevan aja deh. Walaupun kejam sama musuh, tapi baik banget sama anak-anaknya.”
Ucapan itu membuat Stevan sempat terdiam. Hatinya terasa hangat. Ada rasa lega sekaligus haru mendengar pengakuan tulus dari Rimba. Ia tahu bahwa Rimba bukan tipe anak yang mudah mengatakan hal-hal sentimental, jadi sekali keluar, rasanya seperti hadiah paling mahal yang pernah ia terima.
Tapi momen haru itu tak berlangsung lama karena Rimba lanjut, dengan gaya khasnya yang sok dramatis, “Tapi ya, Papa tuh galak kadang-kadang. Mana suka banget nyuruh bersihin kandang singa pula! Kayak nggak ada kerjaan lain.”
Stevan yang awalnya ingin membalas dengan kata-kata malah tertawa geli, lalu refleks menangkup wajah anak keduanya itu. Dengan kedua tangannya, ia menarik pipi Rimba ke samping sambil berkata, “Dasar bocah nakal, masih bisa ngeluh juga padahal yang bikin kandang kotor siapa coba?!”
Rimba hanya bisa merintih pelan, “Aw, aw, aw, Papa, pipiku bukan karet!”
Fano yang melihat kejadian itu malah tertawa terpingkal-pingkal dari dapur sambil membawa semangkuk es krim, “Itu hukuman setimpal buat kakak yang kemarin iseng naruh kadal di tas aku!”
“Biarin! Itu kadal emang mau main sama kamu, Dek!” Rimba membela diri, walau pipinya masih ditarik oleh Stevan.
Stevan akhirnya melepas pipi Rimba dan mengacak rambut anaknya dengan lembut. “Kalian ini… ribut terus, tapi kalianlah alasan Papa masih kuat sampai sekarang.”
Rimba dan Fano saling pandang sejenak, sebelum akhirnya tersenyum. Dalam kebisingan dan kejahilan kecil itu, ada rasa hangat yang tak bisa tergantikan rasa menjadi keluarga, walau mereka tumbuh dalam dunia yang penuh bahaya dan konflik.
Namun malam itu, tawa mereka menggema di seluruh rumah, mengusir segala bayang-bayang gelap yang sempat menyelimuti hari-hari mereka.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Kamis 19 Juni 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
