33 (abang, kakak sayang abang!)

1.5K 90 14
                                        

Mengenai pengkhianatan dalam keluarga, Rimba masih memantaunya dalam diam. Ia telah meminta bantuan ketiga sahabatnya untuk memantau setiap gerak-gerik orang yang dicurigai. Mereka pun membagi tugas masing-masing dengan baik.

Adapun tugas Rimba sendiri adalah mengikuti ke mana pun sang abang, Argo, pergi. Saat ini, Rimba memegang erat tangan kanan abangnya saat mereka berjalan menuju sebuah toko buku.

Interaksi mereka berdua cukup menarik perhatian orang-orang di sekitar. Namun, Rimba tidak peduli sama sekali. Yang ada di pikirannya hanyalah memastikan bahwa Argo tidak melakukan sesuatu yang melibatkan wanita lain. Baginya, ia belum rela jika abangnya memiliki kekasih.

Rimba terus menempel di sisi Argo, memperhatikan setiap gerak-gerik orang di sekitar mereka. Jika ada yang terlihat mencurigakan, terutama wanita muda yang mendekati abangnya, Rimba sudah siap untuk bertindak.

Rimba terus memantau setiap gerak-gerik Argo dengan penuh perhatian. Tugas ini ia ambil dengan serius, terutama setelah ia merasa ada ancaman dari orang-orang di sekitarnya, termasuk usaha Latasya menjodohkan Argo. Saat ini, ia sedang berjalan di samping abangnya, memegang erat tangan Argo saat mereka masuk ke sebuah toko buku.

"Dan, kamu nggak capek apa? Tadi udah lari-larian di taman, sekarang ikut abang ke toko buku," ujar Argo sambil tersenyum tipis.

"Enggak, Bang. Aku nggak mau jauh dari abang. Lagian, siapa tahu ada cewek yang mau modus di sini," jawab Rimba tanpa ragu.

Argo terkekeh pelan mendengar jawaban adiknya. "Kamu ini terlalu lebay. Abang cuma mau beli buku, bukan cari pacar."

"Beli buku bisa nanti, Bang. Tapi kalau ketemu cewek, itu bisa kapan aja. Makanya aku harus awasi," ujar Rimba dengan ekspresi serius.

Orang-orang di toko buku mulai memperhatikan interaksi mereka berdua. Beberapa bahkan tersenyum kecil melihat bagaimana Rimba bertingkah seperti pengawal pribadi Argo. Namun, Rimba tidak peduli. Baginya, memastikan abangnya tidak dekat dengan wanita mana pun adalah prioritas utamanya saat ini.

Saat Argo memilih buku di salah satu rak, Rimba berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat. Ia memperhatikan setiap orang yang lewat dengan tatapan waspada. Jika ada wanita yang terlihat mendekat, ia akan segera bergerak.

"Dan, santai aja. Ini toko buku, bukan medan perang," kata Argo sambil memilih sebuah novel di rak.

"Justru di tempat kayak gini orang suka modus, Bang," balas Rimba.

Argo hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Kamu terlalu berlebihan, Dan."

Namun, tak lama kemudian, seorang wanita muda menghampiri Argo. Ia terlihat ramah, dengan senyum manis dan buku di tangannya. "Maaf, kamu tahu buku ini bagus nggak?" tanya wanita itu kepada Argo sambil menunjukkan sampul buku.

Rimba langsung maju, berdiri di antara wanita itu dan Argo. "Maaf, Kak. Abang saya lagi sibuk. Cari orang lain aja buat tanya, ya," katanya dengan nada ketus.

Wanita itu terlihat bingung, tetapi akhirnya tersenyum canggung. "Oh, baiklah. Maaf mengganggu."

Setelah wanita itu pergi, Argo menatap Rimba dengan tatapan geli. "Dan, kamu itu kelewatan. Dia cuma tanya soal buku."

"Cuma tanya buku bisa cari orang lain, Bang. Abang jangan gampang didekati orang," sahut Rimba.

Argo menghela napas panjang. "Dan, kamu ini benar-benar protektif, ya. Abang nggak akan lupa sama kamu dan Adek, kok. Tenang aja."

Meskipun mendengar itu, Rimba tetap pada pendiriannya. Bagi Rimba, menjaga Argo dari godaan wanita adalah tugas penting. Selama ia bisa, ia akan terus melindungi abangnya dari hal yang menurutnya tidak perlu.

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang