Sementara itu, di dalam apartemen tempat persembunyian sementara Rimba, suasana begitu sunyi hanya terdengar bunyi dengungan lembut dari alat perekam suara yang telah dimodifikasi oleh Argo, sang kakak tertua yang jenius. Rimba duduk di lantai bersama Argo dan si bungsu Fano yang tak kalah serius menatap layar laptop kecil.
“Apa alat sadap ini benar-benar berhasil, Bang?” bisik Rimba, mencoba menahan detak jantungnya yang tiba-tiba melonjak.
Argo mengangguk tenang, jarinya lincah mengetik di keyboard. “Tentu. Darrel dan Adeline memakai jaringan WiFi dari salah satu kantor kosong milik Om Marcus, dan kita berhasil menangkap sinyal rekamannya. Dengarkan baik-baik.”
Kemudian suara samar mulai terdengar dari speaker kecil.
Adeline: “Akhirnya! Stevan percaya juga bahwa Rimba itu bukan anaknya. Gampang sekali dibohongi. Aku bahkan tidak perlu terlalu banyak akting.”
Darrel: “Bagus, berarti kita tinggal tunggu Stevan benar-benar mencoret namanya dari warisan keluarga. Sisanya akan lebih mudah setelah itu.”
Adeline: (Tertawa puas) “Anak bodoh itu, pasti sekarang sedang ketakutan atau dikirim jauh entah ke mana. Ini hukuman karena membuat Bryan dan aku menderita malu. Biar tahu rasa!”
Wajah Rimba memucat. Fano mencengkeram ujung bajunya dengan kesal. Sementara Argo mengunci rahangnya, menahan amarah.
“Dia… mereka benar-benar ingin menghancurkanmu, Rimba,” desis Argo.
Rimba mengangguk pelan, suaranya nyaris tercekat. “Jadi ini semua jebakan sejak awal. Bahkan sampai mama dulu…”
Argo menoleh cepat, tatapannya tajam. “Rim, jangan bawa-bawa mama. Fokus dulu. Kita sudah punya bukti. Sekarang tinggal tunggu Papa bertindak.”
“Tapi Bang, mereka sudah terlalu jahat,” ucap Fano pelan namun penuh tekanan. “Kita enggak bisa terus diem aja.”
Rimba mengepalkan tangannya. Matanya menatap tajam ke layar yang masih memutar suara tawa Adeline. “Aku enggak akan sembunyi selamanya. Kalau perlu, aku yang akan buka semua topeng mereka di depan keluarga besar biar semuanya tahu siapa sebenarnya yang pantas disebut penghancur keluarga.”
Argo menoleh ke adik-adiknya, lalu dengan tenang berkata, “Kita main cantik. Tunggu lampu hijau dari Papa. Tapi kalau semua rencana darurat gagal… kita jalankan rencana cadangan: bongkar semuanya di pertemuan keluarga.”
Rimba menundukkan kepala, napasnya terasa berat menahan beban yang terus menumpuk di pikirannya. Dengan suara pelan, ia berkata, “Aku capek, Abang… Capek. Padahal aku cuma remaja biasa, tapi kenapa harus dibebani darah mafia dan masalah yang tidak ada habisnya?”
Argo, yang duduk di sampingnya, tak berkata apa-apa, hanya membalas pelukan itu dengan hangat. Matanya penuh perhatian, mencoba menguatkan adiknya yang selama ini tampak kuat tapi ternyata menyimpan banyak luka.
Tak lama kemudian, Fano ikut memeluk Rimba, seolah ikut merasakan kepedihan yang dirasakan kakak keduanya. “Kak, kita ada di sini kok. Kita bakal hadapin semuanya bareng-bareng,” ucap Fano dengan suara lembut, penuh keyakinan.
Rimba mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. Ia tersenyum tipis, merasa sedikit lega walaupun masalahnya belum berkurang. “Makasih, kalian berdua… Aku nggak akan kuat tanpa kalian.”
Dalam pelukan itu, meski badai masalah masih mengelilingi, setidaknya ada rasa aman dan kekuatan dari keluarga kecilnya yang tetap bersama menjadi sandaran saat dunia terasa berat.
Tak lama pintu ruang tamu terbuka perlahan, dan sosok Stevan masuk dengan langkah tenang namun penuh kekuatan yang menggetarkan. Matanya yang biasanya tegas kini lembut melihat tiga putranya yang tengah berpelukan. Tanpa berkata sepatah kata, ia melangkah mendekat dan ikut merangkul Rimba, Argo, dan Fano dalam pelukan hangat yang menguatkan.
Suasana hening sejenak, hanya denting detak jam dinding yang menemani. Stevan menarik napas dalam, lalu dengan suara yang bergetar oleh perasaan dan tekad, ia berkata, “Kalian adalah darah dagingku, masa depanku, dan alasan aku berjuang. Aku tahu dunia ini tidak mudah untuk kalian, penuh dengan bahaya dan pengkhianatan yang tak terlihat. Tapi dengarkan aku baik-baik…”
Ia melepaskan pelukannya dan menatap mata masing-masing putranya satu per satu, memastikan pesannya sampai ke hati mereka.
“Aku berjanji, dengan nyawaku sendiri, aku akan melindungi kalian bukan hanya dari musuh di luar sana, tapi juga dari rasa takut dan kesepian yang mungkin kalian rasakan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian, tidak peduli sekuat apa pun mereka atau betapa dalamnya luka yang mereka bawa.”
Stevan melanjutkan, “Kalian tidak harus memikul beban ini sendiri. Kita adalah keluarga, dan keluarga berarti kita saling menjaga, saling menguatkan, dan tetap berdiri bersama, meskipun badai paling ganas menerjang. Percayalah, aku ada di sini untuk kalian, selalu.”
Rimba, yang sebelumnya merasa lelah dan terpuruk, kini merasakan hangat yang mengalir dalam dadanya. Air mata yang sempat tertahan mulai menetes perlahan. Argo dan Fano pun merasakan kekuatan baru yang menguatkan jiwa mereka.
Stevan menepuk bahu ketiga putranya dengan lembut, senyum kecil mengembang di wajahnya yang penuh luka dan perjuangan.
“Kita akan hadapi semuanya bersama. Jangan pernah merasa sendiri,” ucap Stevan, dengan suara penuh harapan dan kasih sayang yang tulus.
Malam itu, dalam keheningan yang penuh makna, tiga anak lelaki itu dan ayah mereka menguatkan ikatan keluarga mereka. Meski dunia di luar penuh ancaman, di dalam rumah itu, cinta dan tekad menjadi perisai terkuat mereka.
“Papa minta roti tawar campur susu cokelat,” ujar Rimba dengan nada ceria, mencoba mencairkan suasana hangat yang baru saja mereka rajut bersama.
“Mau juga!” seru Fano sambil melompat kecil, matanya berbinar penuh semangat seperti anak kecil yang sedang menantikan camilan favoritnya.
Stevan menoleh ke arah putra sulungnya, dengan senyum lembut tapi penuh perhatian, “Abang?”
Argo, yang duduk agak menyendiri, tiba-tiba memalingkan wajahnya sambil pipinya memerah, “Aku susu strawberry saja,” jawabnya pelan, sedikit canggung namun jelas ikut merasakan kehangatan di antara mereka.
Di sisi lain, Reiner yang sejak tadi memperhatikan keakraban mereka, tampak sedikit iri namun mencoba menyembunyikannya. Tatapannya sesekali menoleh ke arah Rimba dan saudara-saudaranya, merasakan suasana kekeluargaan yang selama ini mungkin belum ia rasakan sepenuhnya.
Stevan menoleh ke Reiner dan bertanya dengan ramah, “Reiner, kamu mau juga?”
Reiner menggeleng pelan, “Gak perlu, Om.”
Stevan tak langsung menyerah, “Kamu alergi susu, kan?”
“Enggak sih, cuma kurang suka cokelat saja,” jawab Reiner, mencoba bersikap santai.
“Baiklah,” ujar Stevan dengan senyum hangat, lalu melepaskan pelukan dari ketiga putranya dan beranjak menuju dapur apartemen mereka yang sederhana namun nyaman.
Sementara itu, Rimba dengan sigap menarik tangan Reiner, “Ayo sini, Reiner, duduk dekat aku sama abang dan adikku,” ajaknya penuh antusiasme.
Reiner sempat ragu, tapi melihat wajah-wajah hangat dan penuh perhatian dari ketiga putra Stevan, ia akhirnya menurut dan duduk di samping mereka, merasa sedikit terbawa oleh kehangatan yang terpancar di antara mereka.
Kehadiran Reiner di sisi Rimba dan saudara-saudaranya seolah menambah warna baru dalam keluarga kecil itu, memberikan secercah harapan bahwa mungkin, perlahan-lahan, luka dan kesepian bisa terobati dengan ikatan yang mulai terbentuk kembali.
Di dapur, Stevan mulai menyiapkan roti tawar dan susu cokelat dengan penuh perhatian, sambil sesekali melempar senyum penuh arti ke arah ruang tamu tempat anak-anaknya duduk. Suasana yang sederhana, tapi penuh makna, menjadi oase di tengah badai yang mengintai kehidupan mereka.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Rabu 25 Juni 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
