70 (si drama rimba)

640 67 6
                                        

Selama beberapa minggu terakhir, Stevan mulai menyadari sesuatu yang ganjil dari putra keduanya. Wajah Rimba terlihat lebih pucat dari biasanya. Awalnya ia mengira anak itu hanya kurang tidur atau terlalu banyak bermain. Tapi setelah seminggu, kekhawatiran itu semakin besar.

“Rimba, kita ke rumah sakit ya besok. Papa cuma mau pastikan kamu sehat,” ujar Stevan lembut saat mereka duduk di ruang keluarga.

Rimba langsung menatap sang ayah dengan ekspresi curiga. “Aku gak mau. Aku baik-baik saja kok, papa. Lihat nih!” katanya sambil lompat-lompat kecil. Tapi sesudah lompat, dia langsung pegang pinggang. "Aduh… punggungku…”

“Justru itu yang papa maksud!” seru Stevan sambil mendekat. “Kamu pucat, terus sekarang ngeluh sakit pinggang. Papa khawatir.”

Besoknya, pagi-pagi sekali, Rimba malah mogok bicara. Dia hanya menunjuk ke arah makanan saat sarapan, menulis pesan di kertas, dan bahkan menolak menjawab saat Fano menggoda.

“Kakak kenapa, Papa? Kok diem kaya patung?” tanya Fano sambil menyuap roti.

“Drama. Mau diajak ke dokter aja kayak mau dikirim ke medan perang,” jawab Stevan sambil mendesah.

Yang lebih parah, Rimba sempat duduk di atas lemari tertinggi di ruang tengah entah bagaimana dia bisa naik ke sana. Ia duduk sambil menyilangkan kaki seperti yogi.

“Papa, kalau maksa aku ke dokter, aku akan tinggal di sini sampai tua nanti,” teriak Rimba dari atas lemari.

“Rim, turuuuun! Mau jadi burung hantu?" seru Argo yang baru pulang.

“Aku tidak bisa turun…” jawab Rimba lirih setelah beberapa menit.

Akhirnya, setelah segala bujukan gagal, Stevan menawarkan satu solusi. “Kalau kamu ikut papa ke rumah sakit, nanti papa traktir es krim jumbo rasa apapun yang kamu mau.”

Mata Rimba langsung bersinar. “Termasuk rasa strawberry double topping cokelat keju?”

“Termasuk topping bubuk emas juga boleh,” kata Stevan, pasrah.

Dan benar saja, mereka akhirnya berangkat. Tapi tragedi terjadi begitu masuk ruang pemeriksaan.

Perawat muncul sambil membawa suntikan. Rimba langsung memeluk kaki kursi.

“TIDAAAK! KITA TIDAK BERBICARA TENTANG SUNTIKAN!” teriak Rimba panik.

“Tenang, Mas Rimba, ini cuma suntik vitamin—”

PLAK!
Tangan Rimba malah refleks memukul pipi sang dokter muda.

“Rimbaaaa!!” seru Stevan terkejut.

“Aku gak rela tubuhku ditembus jarum!” tangis Rimba sambil melotot.

“Rimba, itu vitamin, bukan panah raksasa,” ujar Argo yang akhirnya ikut menyusul ke rumah sakit setelah dikabari.

Setelah drama lima belas menit dan janji tambahan dua es krim, Rimba akhirnya pasrah disuntik, tapi tetap sambil menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.

“Sakit banget… rasanya seperti diselingkuhi mantan,” isak Rimba.

Stevan hanya menghela napas sambil menepuk jidat. “Padahal umurmu udah lima belas…”

Setelah urusan pemeriksaan selesai dan resep obat ditebus, Rimba langsung menyeret tangan sang ayah menuju kios es krim di dekat rumah sakit. Wajahnya yang tadi penuh air mata kini berseri kembali seperti tidak pernah terjadi drama sebelumnya.

“Papa, aku mau yang strawberry double topping cokelat keju, janji kan?” kata Rimba sambil menunjuk menu dengan antusias.

“Iya, iya... pilih dua sekalian deh, buat menebus semua rengekan dan tamparan ke dokter tadi,” sahut Stevan dengan lelah.

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang