Beberapa hari kemudian, pagi itu suasana rumah keluarga Jovetic agak ramai.
“Pokoknya jangan kamu lakukan hal aneh lagi, Rimba,” tegur Argo sambil melipat tangan di depan dada.
Rimba yang sedang duduk di sofa, mengunyah roti bakar, hanya mengangkat bahu santai. “Nggak aneh, Bang. Cuma nyamar jadi detektif bayangan doang kok, biasa aja.”
“Biasa aja apanya? Kamu itu nyaris ketahuan waktu pura-pura jadi tukang ledeng, terus malah jatuh ke kolam ikan musuh!” Argo sudah mulai naik nada suaranya.
“Itu kolamnya yang nggak sopan, Bang! Tiba-tiba nongol di depan kaki Rimba!” bela Rimba dengan ekspresi polos.
Argo mendesis frustasi. “Rimba! Kamu itu keras kepala banget sih! Dibilangin malah ngeles terus!”
“Bukannya ngeles, Rimba tuh kreatif,” sanggah Rimba sambil menyembunyikan senyum nakalnya.
Sementara itu, Fano duduk di lantai ruang tengah, memeluk boneka dinosaurusnya, matanya bolak-balik melihat kedua kakaknya yang ‘berdebat’. Ia mengunyah snack pelan, seolah menonton acara favoritnya.
“Hmm... seru juga pagi ini,” gumam Fano pelan.
Di sisi lain ruangan, Stevan tengah duduk santai di kursi kayu, menikmati kopi pagi. Ia menatap kedua putranya yang sedang ‘adu strategi’ itu dengan ekspresi datar namun dalam hati menahan tawa.
Stevan mengangkat cangkir kopinya, menyeruput pelan, lalu berkata ringan, “Pertengkaran pagi hari anak-anakku ini… lebih ribut dari perang rahasia internasional.”
“Papa harusnya dukung Rimba, dong. Detektif gitu, keren kan?” ujar Rimba sambil menoleh ke arah Stevan, berharap dukungan.
Stevan hanya mengangkat alis. “Rimba, kalau kamu tiba-tiba nyamar jadi satpam sekolah bahkan jadi ibu-ibu komplek buat nyari info, itu bukan detektif. Itu ngawur.”
Fano akhirnya tertawa terbahak. “Kakak kalah!”
“Adek! Jangan ikut-ikutan!” protes Rimba dengan pipi yang mulai merah.
Suasana pagi itu pun dipenuhi dengan gelak tawa dan kehangatan khas keluarga mereka sebelum badai besar kembali datang.
Pertengkaran Argo dan Rimba yang makin memanas tampaknya mulai menarik perhatian seisi rumah. Rimba yang tetap keras kepala tak mau kalah argumen, sementara Argo semakin frustasi menghadapi adik yang tak tahu takut itu.
“Rimba, kamu tuh nggak bisa terus-terusan nekat kayak gini!” bentak Argo.
“Rimba juga nggak bisa diem aja kalau yang diincar nyawa keluarga sendiri!” balas Rimba.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Edward, mengenakan jas gelap dengan ransel di punggungnya, baru saja tiba dari luar kota. Ia melewati keduanya yang masih saling beradu mulut tanpa ekspresi, hanya melirik mereka sekilas.
“Pertengkaran khas keluarga masih rutin tiap pagi, ya?” gumam Edward dengan nada dingin.
Stevan menoleh dari kursi santainya. “Selamat datang kembali, Ed. Dapat apa saja?”
Edward membuka tas dan menyerahkan satu map tebal kepada Stevan, tapi saat Argo dan Rimba masih saling senggol, ia meletakkan map itu tepat di antara mereka.
“Berhenti berisik. Kalian butuh ini lebih dari teriakan kalian,” ujar Edward tenang, lalu duduk di sofa.
Rimba dan Argo terdiam, langsung menatap map yang bertuliskan:
"CONFIDENTIAL: DARRELL VON LUTHOR - CLASSIFIED DOSSIER"
Stevan membukanya perlahan. Di dalamnya:
- Foto Darrell dari muda hingga terbaru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Fiksyen UmumRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
