Seperti biasa, Rimba harus menjalani terapi untuk penyembuhan paru-parunya yang bermasalah. Meskipun terapi itu menyakitkan, Rimba tetap menjalaninya dengan tenang tanpa mengeluh. Namun, yang justru menangis malah sang ayah, Stevan.
Saat ini, Rimba tengah bersiap masuk ke ruangan terapi, tetapi tiba-tiba Stevan menahan tangan kanannya. Rimba menoleh dan melihat ekspresi khawatir di wajah sang ayah.
Alih-alih ikut terpengaruh, Rimba justru tersenyum lebar, seolah ingin meyakinkan Stevan. “Papa tenang aja, Rimba kuat dan bisa melewati ini semua,” ujarnya dengan nada ceria.
Stevan mengeratkan genggamannya, matanya sedikit memerah. “Papa tahu kamu kuat, Nak… tapi tetap saja…”
Sebelum Stevan bisa melanjutkan, Rimba menepuk punggung tangan ayahnya dengan lembut. “Nanti kalau terapinya selesai, Papa harus traktir Rimba makan enak, ya?”
Stevan menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Baiklah… apa pun yang kamu mau.”
Rimba terkekeh kecil sebelum akhirnya melepas genggaman Stevan dan masuk ke ruangan terapi dengan langkah mantap. Sementara itu, Stevan hanya bisa menatap punggung putranya, berharap kesembuhan segera datang untuknya.
Di dalam ruangan terapi, Rimba tetap berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jelas terlihat bahwa ia sedang menahan rasa sakit. Setiap tarikan napas terasa berat, tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Baginya, ini bukan pertama kalinya, dan ia harus kuat, seberapa pun sulitnya.
Sebelum terapi dimulai, Rimba sudah melarang Stevan untuk masuk. Ia tahu betul betapa emosional ayahnya setiap kali melihatnya menjalani terapi. Stevan selalu menangis diam-diam, dan Rimba tidak ingin membuatnya semakin sedih. Karena itu, lebih baik sang ayah menunggu di luar saja.
Beberapa menit kemudian, terapi akhirnya selesai. Rimba mengusap peluh di dahinya, lalu dengan langkah pelan, ia berjalan keluar dari ruangan. Begitu pintu terbuka, tanpa peringatan, ia langsung disambut oleh pelukan erat dari Stevan.
Stevan mengecup kening putranya dengan lembut, seolah ingin menyalurkan semua kasih sayangnya. “Papa bangga sama kamu, Nak,” bisiknya penuh haru.
Rimba hanya tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa dengan reaksi ayahnya yang seperti ini setiap kali ia selesai menjalani terapi.
“Lelah, kan? Biar Papa gendong saja,” ujar Stevan tiba-tiba.
Rimba sempat ingin menolak, tapi melihat tatapan tegas ayahnya, ia hanya bisa mengangguk pasrah. “Baiklah… tapi kalau Papa pegal, jangan salahin Rimba ya,” candanya ringan.
Stevan tertawa kecil sebelum akhirnya mengangkat tubuh putranya dengan hati-hati. Dalam pelukan ayahnya, Rimba bisa merasakan betapa besar kasih sayang yang selalu Stevan berikan kepadanya.
Sepanjang lorong rumah sakit, Rimba terus melontarkan candaan kepada Stevan. Ia mencoba mencairkan suasana agar ayahnya tidak terus-menerus menunjukkan ekspresi serius seperti biasa.
Namun, di balik candaan itu, ada sesuatu yang mengganjal di hati Rimba. Sejak beberapa waktu lalu, Stevan mulai melarangnya untuk ikut dalam misi apa pun. Dokter telah menegaskan bahwa ia harus fokus pada penyembuhan penyakitnya dan dilarang melakukan aktivitas berat.
“Papa, ini nggak adil,” gerutu Rimba sambil melipat tangan di dada. “Adek aja boleh ikut misi, kenapa aku nggak?”
Stevan tetap melangkah dengan tenang, tidak terpengaruh oleh protes putranya. “Karena kondisimu berbeda, Nak. Kamu perlu sembuh total dulu. Setelah itu, mau ikut misi seberbahaya apa pun, Papa nggak akan melarang.”
Rimba mendesah panjang. Ia tahu ayahnya tidak akan mengubah keputusan, tapi tetap saja, berada di rumah terus membuatnya bosan.
Di tengah percakapan mereka, Rimba tiba-tiba mengingat sesuatu. “Papa… belakangan ini Mama sering mampir ke mimpiku.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Fiction généraleRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
