75 (masuk markas musuh)

459 48 4
                                        

Sore itu, cahaya matahari mulai meredup, menyinari lembut ruang tamu rumah keluarga Jovetic. Rimba duduk bersandar di sofa dengan raut wajah serius, tak seperti biasanya. Di hadapannya, Stevan sedang membaca berkas, namun langsung menutupnya begitu melihat ekspresi putranya.

“Papa,” panggil Rimba pelan namun tegas.

“Ada apa, Rimba?” tanya Stevan, menegakkan tubuhnya.

Rimba menghela napas panjang, lalu menceritakan kejadian yang terjadi di belakang gudang sekolah tentang orang suruhan Adeline yang menyerangnya, hingga pengakuan bahwa Fano menjadi target selanjutnya bila Rimba masih hidup minggu ini.

“Kalau hanya nyawaku yang diincar, aku masih bisa terima. Tapi kenapa Adek juga harus dibawa-bawa?” ucap Rimba, suaranya rendah namun bergetar.
“Dia masih kecil, Papa. Dia gak salah apa-apa.”

Stevan mengepalkan tangan. Sorot matanya tajam menahan emosi. “Adeline sudah melewati batas,” gumamnya. “Kalau dia berani menyentuh Fano… aku sendiri yang akan bertindak.”

“Papa… aku minta ijin untuk menyusun rencana. Aku gak akan tinggal diam. Tapi aku juga gak akan bertindak tanpa Papa tahu.” ujar Rimba.

Stevan terdiam sejenak, lalu berjalan mendekati Rimba dan menepuk pundaknya dengan lembut. “Kita lakukan ini bersama, Rimba. Mulai sekarang kamu gak sendirian.”

Untuk pertama kalinya sejak ancaman ini dimulai, Rimba merasa sedikit lega. Tapi ia tahu, ini hanya awal dari badai yang jauh lebih besar. Dan keluarga adalah sesuatu yang tak akan pernah ia biarkan

Malam itu, kamar Rimba dipenuhi suasana serius. Lampu temaram menerangi wajah keempat sahabat itu yang duduk melingkar di atas karpet. Piring sisa camilan berserakan, namun tak ada yang memperhatikan. Semua fokus pada topik yang jauh lebih penting.

“Jadi, kenapa sekarang Adek yang jadi target?” tanya Rimba dengan nada pelan, tapi penuh tekanan.

Bagas menatap layar tablet-nya lalu menghela napas. “Dari informasi yang gue dapat, Adeline merasa kamu mulai terlalu sulit dikendalikan. Jadi dia cari titik lemah kamu. Dan Fano... dia anak paling kecil dan paling dekat sama kamu.”

“Brengsek,” gumam Rimba, mengepalkan tangannya.

Guan bersandar pada dinding, matanya tak lepas dari Rimba.
“Rim, bukan cuma soal kamu atau Fano. Adeline itu mulai kehilangan kesabaran. Dia makin ambisius. Target dia sekarang bukan cuma kamu, tapi seluruh keluarga Om Stevan.”

Yuda mengangguk sambil memutar kursi ke arah mereka.
“Gue juga udah gali info. Dari dulu Adeline gak pernah suka sama keluarga Om Stevan. Dia pengen anaknya jadi pewaris utama Jovetic. Makanya dulu dia mendesak Om Marcus untuk menikahi dirinya sebelum Om Stevan menikah dengan Tante Lusi, dan berharap anaknya lahir duluan. Tapi kenyataannya, Argo lahir lebih dulu daripada Bryan putra sulungnya.”

“Makanya dia dendam sama keluarga gue,” tukas Rimba pelan, matanya menerawang.
“Tapi Papa selalu bilang Om Marcus gak tahu apa-apa soal kelakuan istrinya.”

“Itu benar,” jawab Yuda. “Tapi akhir-akhir ini Om Marcus mulai gerak. Dia udah mulai curiga dan katanya diam-diam nyelidikin Adeline.”

Rimba terdiam sesaat, menatap wajah sahabat-sahabatnya satu per satu.
“Berarti… kita harus lebih cepat. Sebelum Adeline bergerak lagi, kita kumpulkan semua bukti. Kita bongkar semuanya.”

“Setuju,” kata Bagas. “Kita bantu lo, Rim. Kita semua tahu lo gak akan tinggal diam kalau Fano sampai kenapa-kenapa.”

“Bukan cuma Adikku,” gumam Rimba, kali ini dengan tatapan tajam. “Siapapun yang sentuh keluarga gue, harus siap nerima balasan.”

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang