Di sebuah ruangan yang penuh aroma darah menyengat, seorang pria dewasa tengah berusaha melepaskan pelukan erat seorang remaja.
Pria itu adalah Stevan, yang semula berniat memberikan hukuman berat kepada seorang pengkhianat. Namun, aksinya tiba-tiba terhenti saat Rimba, putranya, datang dan memeluknya erat.
Stevan, meski kesal, tak berani memarahi anaknya. “Rimba, lepas. Papa sedang bekerja,” ujarnya tegas namun pelan.
Namun, Rimba tak menggubris. Ia hanya memeluk tubuh ayahnya semakin erat. Tak punya pilihan lain, Stevan akhirnya menggendong putranya keluar dari ruangan tersebut. Sebelum keluar, ia mengenakan kembali topeng yang sempat dilepasnya dan memberikan sebuah topeng lain kepada Rimba.
“Pakai ini,” perintah Stevan.
Rimba menggeleng kuat-kuat. “Nggak mau!” jawabnya singkat.
Menghela napas, Stevan menundukkan kepala Rimba, menyembunyikannya di dada bidangnya. “Diam di situ, jangan lihat apa pun,” ujarnya lembut.
Rimba patuh dan memilih diam, merasa nyaman dalam pelukan ayahnya. Perjalanan mereka di koridor terasa lama, tapi akhirnya mereka tiba di ruangan pribadi Stevan.
Sesampainya di sana, Stevan hendak menurunkan Rimba ke sofa, tapi remaja itu melingkarkan kedua kakinya di pinggang ayahnya. “Kakak nggak mau turun,” katanya dengan nada manja.
“Dasar putra jahil Papa,” ujar Stevan sambil mencubit pipi Rimba.
“Kakak kesal!” seru Rimba tiba-tiba.
Stevan mengernyit. “Kesal kenapa, Nak?” tanyanya sambil mengelus lembut rambut putranya.
“Itu, guru fisika bilang kalau aku bukan anak Papa dan Mama!” keluh Rimba dengan nada marah.
Mata Stevan menyipit. Ia mencubit pipi Rimba lagi, kali ini sedikit lebih keras. “Dan itu omong kosong besar. Kamu itu anak Papa Stevan dan Mama Lusi. Kalau perlu, guru itu Papa beri pelajaran!”
“Iya! Dia bilang aku harusnya tinggal di panti asuhan. Padahal aku bodoh bukan karena aku malas belajar, tahu!” seru Rimba penuh emosi.
Stevan menaikkan alis. “Oh ya? Kalau bukan malas belajar, kenapa, Nak?” tanyanya, mencoba menahan tawa.
“Kakak nggak suka lihat angka-angka rumit dalam rumus saja,” jawab Rimba polos.
Stevan terkekeh mendengar jawaban putranya. Anak tengahnya ini memang selalu punya cara unik untuk mengekspresikan diri. Walau banyak yang berpendapat buruk tentang Rimba, ia tahu pasti bahwa putranya adalah anak yang istimewa.
Rimba, dengan segala tingkah lakunya, adalah kebanggaan yang tak tergantikan bagi Stevan.
“Dan kamu jangan terpengaruh ucapan mereka, ya,” ujar Stevan sambil menatap Rimba dengan serius.
Rimba mengangguk pelan, masih melingkarkan kedua tangannya di leher ayahnya. “Tapi mereka tuh nyebelin, Pa. Kayak nggak ada kerjaan lain selain ngomongin aku.”
Stevan tersenyum tipis sambil mengelus rambut putranya. “Biarkan saja mereka bicara. Tugas kamu itu bukan mendengarkan omongan mereka, tapi membuktikan kalau kamu tetap bisa jadi yang terbaik versi dirimu sendiri.”
Rimba menatap ayahnya dengan mata berbinar. “Papa yakin aku bisa?”
“Papa selalu yakin sama kamu,” jawab Stevan tegas. “Dan jangan lupa, kamu itu anak Papa Stevan. Nggak ada yang bisa merendahkan anak Papa.”
Mendengar itu, Rimba tersenyum lebar. “Iya, Kakak janji nggak akan peduli sama mereka lagi!”
“Bagus,” balas Stevan sambil memeluk putranya lebih erat. “Tapi Kakak juga harus ingat, walaupun nggak suka angka-angka, tetap coba belajar sedikit-sedikit, ya?” godanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
