46 (apakah dia?)

936 70 12
                                        

Sesuai janji, Stevan mengajak Rimba untuk membeli es krim. Argo serta Fano juga diajak, meskipun awalnya mereka menolak. Namun, seperti biasa, Stevan tetap memaksa mereka ikut. Akhirnya, daripada ribet, mereka menurut saja.

Sekarang di dalam mobil, Edward si supir mengemudi dengan tenang, sementara Stevan duduk di kursi belakang, diapit oleh ketiga putranya. Argo menyender di bahu Stevan, Rimba tidur di paha kanan Stevan, dan Fano duduk nyaman di paha kiri.

Tangan kiri Stevan bergantian mengelus rambut ketiga anaknya, sementara Edward yang duduk di depan hanya memperhatikan tanpa berkomentar.

Suasana dalam mobil terasa hangat dan nyaman. Namun, kehangatan itu seketika menghilang ketika mereka mulai memasuki wilayah hutan belantara. Suasana di sana gelap, tanpa ada cahaya sedikit pun.

Fano, yang masih berusia sembilan tahun, tiba-tiba bangkit dari pangkuan Stevan. Tatapan matanya tajam saat ia memperhatikan keadaan sekitar.

“Om Ed, ada seorang sniper mengincar kita dari arah jam sembilan,” ujar Fano dengan nada datar, tetapi penuh kewaspadaan.

Ucapan Fano langsung membuat Argo dan Rimba yang sebelumnya setengah tertidur kini sepenuhnya terjaga. Mereka dengan sigap meraih pistol yang tersimpan di kursi belakang.

Stevan tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam. “Siap siaga. Kita hadapi mereka,” ucapnya dengan nada rendah namun penuh wibawa.

Benar saja, tak lama kemudian suara tembakan terdengar. Dengan gerakan gesit, Edward berhasil menghindari setiap tembakan tersebut, membawa mobil melaju dengan lincah di antara pepohonan.

Di sisi penumpang, Argo, Rimba, dan Fano langsung bereaksi. Dengan mata tajam mereka, mereka mulai menembak ke beberapa titik, mengincar siluet-siluet yang bersembunyi dalam bayangan.

Sementara itu, Stevan tetap tenang di tengah situasi yang menegangkan. Dengan sigap, ia menghubungi bawahannya melalui alat komunikasi. “Segera tiba di lokasi. Tangkap mereka yang masih hidup,” perintahnya singkat, memastikan para sniper yang telah dilumpuhkan oleh ketiga putranya bisa diamankan.

Namun, tanpa diduga, sebuah motor muncul dari arah samping. Sang penumpang, yang sudah siap dengan senjatanya, melompat ke arah mobil dan mengayunkan benda keras ke kepala Rimba yang sedang fokus menembak.

Stevan, yang memperhatikan setiap gerakan di sekitar, langsung bereaksi cepat. Dengan satu tarikan kuat, ia menarik tubuh Rimba masuk ke dalam mobil, menghindarkannya dari serangan mendadak itu.

Rimba cukup terkejut dengan kejadian barusan, namun ia tetap bersyukur dan berterima kasih kepada sang ayah yang telah menyelamatkannya. Namun, situasi belum berakhir.

Tiba-tiba, sebuah mobil muncul begitu saja dari arah berlawanan, menghadang langkah Edward. Meskipun sedikit oleng akibat kejutan itu, Edward dengan sigap berhasil menyeimbangkan mobil dan menghindari tabrakan fatal.

Di tengah kekacauan, suara ledakan bom terdengar, membuat mereka semua sedikit kaget. Namun, bukan ledakan itu yang membuat Stevan terdiam.

Dari kejauhan, terdengar suara seseorang berteriak lantang, “Ini semua adalah perintahnya! Perintah dari seorang wanita yang telah menjadi bagian dari keluargamu selama puluhan tahun, Stevan!”

Kalimat itu seketika membuat Stevan membeku. Matanya menyipit, pikirannya berputar cepat. Jika ucapan itu benar, maka semua dugaannya selama ini salah besar.

Ternyata, pelaku yang berniat menghabisi putra keduanya, Rimba, bukanlah orang asing. Tetapi seseorang yang selama ini ia kenal bahkan seseorang yang telah menjadi bagian dari keluarganya.

Suasana di dalam mobil semakin tegang setelah mendengar ucapan orang tak dikenal itu. Semua terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka dapatkan.

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang