68 (rimba dimarahin!)

863 64 4
                                        

Sesampainya di rumah Marcus, Stevan langsung turun dari mobil dan tanpa ragu menggendong Rimba yang terlihat lemas. Wajahnya penuh kekhawatiran. Sementara itu, Fano ikut digendong oleh Argo, kakak sulung mereka, yang juga tampak tergesa-gesa. Stevan bahkan tak sempat berpamitan pada Marcus, karena fokus utamanya adalah keselamatan putranya.

Marcus hanya mengangguk paham dari ambang pintu, menyadari betapa cemasnya sang kakak terhadap kondisi Rimba yang memang belum benar-benar pulih.

Di dalam mobil, suasana mendadak berubah ketika Rimba tiba-tiba mencium pipi kiri dan kanan ayahnya dengan senyum ceria. Stevan yang terkejut hanya bisa melotot sebentar sebelum akhirnya tersenyum dan mencubit hidung mancung anak keduanya.

“Kamu ini bikin Papa khawatir terus!” gerutu Stevan, separuh kesal, separuh lega.

“Kan kemarin aku nggak jahilin Papa,” jawab Rimba dengan santai, ekspresinya kembali cerah.

Stevan menggeleng sambil menghela napas, lalu tiba-tiba Argo bersuara dari kursi depan. “Kalian berdua merencanakan apa sih sebenarnya?” tanyanya, menatap ke arah Rimba dan Fano di bangku belakang.

“Maksud abang apa?” Fano berpura-pura bingung, menatap polos.

“Papa, lihat deh... adek nyebelin banget!” keluh Argo, menunjuk Fano.

“Dih! Abang kayak bocil aja!” balas Fano dengan nada tinggi, membuat semua yang ada di dalam mobil spontan tertawa kecil.

Meskipun ketegangan belum sepenuhnya hilang, setidaknya malam itu mereka masih bisa tertawa bersama. Namun Rimba tahu, ini baru permulaan dari rencana besar yang telah ia dan Fano siapkan.

“Abang aneh. Kita cuma main aja di rumah Om Marcus kok,” ujar Fano dengan nada polos.

“Iya, tahu tuh! Mungkin abang kurang hiburan karena gak punya pacar,” timpal Rimba sambil nyengir jahil.

“Kau sendiri yang larang abang pacaran, Rimba!” balas Argo dengan nada setengah kesal.

“Yang penting jangan pacaran sama cowok ya, Bang,” celetuk Rimba sambil tertawa kecil.

“Ya ampun! Abang masih normal, tahu!” protes Argo dengan wajah merah.

Stevan ikut angkat bicara, setengah bercanda tapi tetap serius, “Yang penting jangan kebawa arus soal orientasi menyimpang, Bang.”

“Aku ngerti, kok. Walaupun aku jarang ke gereja, aku tahu mana yang sesuai norma dan mana yang enggak, Pah,” ujar Argo dengan nada tenang.

“Aku gak ngerti,“ sahut Fano, bingung sendiri.

Stevan pun menoleh dan menjelaskan dengan gaya khasnya, “Intinya, kalau ada cowok atau cewek yang aneh-aneh ke kamu, lebih baik langsung hajar aja... bagian sensitifnya.”

“Siap, Papa!” pekik Fano semangat, membuat suasana kembali ramai oleh tawa.

Suasana di dalam mobil semakin riuh dan penuh canda. Rimba, yang duduk di sebelah Stevan, tiba-tiba menjulurkan tangannya dan menarik kumis tipis sang ayah.

“Aduh! Rimba!” seru Stevan, setengah kaget, setengah kesal.

Namun sebelum sempat menegur lebih lanjut, Fano yang duduk di sebelahnya malah ikut-ikutan menarik sisi kumis Stevan yang lain sambil tertawa puas.

“Kumis Papa lucu!” seru Fano dengan polos.

Stevan hanya bisa menghela napas panjang, menatap ke depan dengan wajah pasrah penuh penderitaan kecil. Di kursi depan, Argo tak bisa menahan tawa melihat ekspresi ayahnya.

“Papa udah kayak korban prank bocah-bocah iseng,” ujar Argo sambil terkikik.

“Ya, beginilah nasib punya anak-anak usil,” gumam Stevan sambil tersenyum lelah, tapi hatinya hangat melihat keceriaan anak-anaknya.

Merasa puas setelah berhasil menjahili sang papa, Rimba kini mengalihkan sasaran ke adik kecilnya. Dengan semangat, ia langsung memeluk Fano erat-erat dari samping, lalu mulai memainkan pipi tembam adiknya itu.

“Gemes banget sih pipi kamu, Dek. Kayak mochi!” goda Rimba sambil mencubit pelan pipi Fano.

“Kaak! Jangan mainin pipiku! Aku bukan mochi!” protes Fano, berusaha melepas pelukan Rimba sambil merengut.

“Tapi lucu banget, serius deh,” kata Rimba sambil makin mengencangkan pelukannya.

Fano meronta, wajahnya memerah bukan karena marah, tapi karena malu dan geli sendiri.

“Papaaa! Kakak gangguin Adek lagi!” adu Fano dengan nada setengah rengek.

Stevan yang duduk di sebelah mereka hanya geleng-geleng kepala, lalu melirik ke kaca spion tengah dan menahan tawa.

“Rimba, kasih napas tuh adikmu. Jangan dicekik sayang juga,” ucap Stevan santai.

“Aku cuma gemes, Pa. Adek udah kayak bantal peluk berjalan,” balas Rimba dengan cengiran lebar.

Argo di kursi depan malah menimpali, “Wah, kalau gitu nanti abang bawa bantal aja ke mobil. Aman dari cubitan Rimba.”

Tawa pun kembali meledak di dalam mobil. Suasana hangat dan meriah itu membuat malam terasa lebih ringan, seolah sejenak mereka lupa akan kekhawatiran yang sebelumnya menyelimuti.

Suasana di dalam mobil semakin ceria dengan canda tawa yang tak pernah berhenti. Rimba akhirnya melepaskan pelukannya pada Fano, yang dengan cepat menyusup ke kursi sebelah ayahnya, Stevan, untuk mencari perlindungan. Namun, Rimba tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda adiknya.

“Eh, Dek, jangan terlalu jauh, nanti aku kejar lagi loh!” goda Rimba sambil tertawa kecil.

Fano hanya melirik Rimba dengan mata sebal, namun ada sedikit senyum di ujung bibirnya, menandakan bahwa ia tak bisa marah lama pada sang kakak. Stevan mengusap kepala Fano dengan lembut, mencoba menenangkan suasana.

“Sudah, sudah. Jangan ganggu adikmu terus, Rimba. Kasihan dia,” ujar Stevan sambil tersenyum.

Namun, Rimba tak bisa berhenti tertawa, masih terkesan dengan keusilan yang baru saja dilakukannya. “Tapi Adek lucu banget, Pa. Harus diakui, deh, adik kita ini kayak jadi sasaran empuk buat dijahilin.”

Argo yang mendengarnya langsung berkomentar dengan nada sinis, “Kamu sih, Rimba. Lebih baik jadi anak yang manis dan nggak gangguin yang lain, deh.”

Rimba menyeringai. “Ya, ya. Kapan-kapan, Abang, kalau kamu lagi butuh hiburan, aku siap, kok!”

Mobil melaju dengan suasana yang penuh tawa. Meski di balik itu semua, Rimba tahu ada banyak hal yang harus dia selesaikan dan perhatikan. Namun, untuk malam ini, dia memilih untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga. Di tengah-tengah keusilan dan canda tawa itu, ada rasa tenang yang datang dari kebersamaan mereka.

Sesampainya di rumah, Stevan langsung menurunkan anak-anaknya dengan hati-hati. Fano turun lebih dulu, langsung berlari kecil masuk ke dalam rumah sambil membawa tas kecilnya yang berisi pil asli milik Rimba.

Rimba turun sambil tersenyum lebar, meski tubuhnya sedikit dimiringkan untuk memperlihatkan seolah-olah dia masih agak lemas. Stevan menggeleng pelan melihat tingkah Rimba yang masih sempat berpura-pura.

“Kamu itu ya, Rimba. Mau sehat, mau sakit, usilnya nggak pernah hilang,” celetuk Stevan sambil menepuk punggung Rimba.

“Kan biar papa terus perhatian sama aku,” jawab Rimba santai, membuat Stevan tertawa kecil.

Tak lama, mereka semua masuk ke ruang keluarga. Fano segera menarik Rimba untuk duduk di sofa dan berbisik pelan, “Kak, besok kita lapor papa aja ya soal rencana jahat Tante Adeline. Tapi pelan-pelan, biar papa nggak kaget.”

Rimba mengangguk setuju. “Iya, Dek. Kita harus atur kata-katanya, supaya papa langsung percaya dan bisa bantu kita.”

Sementara itu, Stevan hanya memperhatikan tingkah laku kedua putranya dari kejauhan, merasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan, tapi memilih untuk menunggu Rimba dan Fano membuka cerita sendiri.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Jumat 16 Mei 2025

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang