Rimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya.
Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya.
"Aku suka membuat papa pusing." Rimba
Start : 22 September 2024
Finish...
Malam harinya, Rimba yang baru saja meminum obatnya, menghampiri sang ayah, Stevan, yang sedang sibuk berbicara dengan Edward. Melihat putra keduanya mendekat, Stevan sudah bisa menebak pasti ada saja tingkah si anak tengah itu.
“Papa, izin main ke lapangan basket di belakang, ya,” ujar Rimba.
“Ganti dulu bajumu. Pakai jaket dan training, cuaca malam ini cukup dingin. Kondisimu belum sepenuhnya pulih,” balas Stevan sambil tetap memperhatikan Rimba.
Rimba mengangguk cepat dan langsung berlari kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Edward terkekeh pelan melihat tingkah laku anak bosnya itu.
“Argo di mana? Dari tadi tidak kelihatan,” tanya Edward.
“Dia sibuk meminta uang ke aku, alasannya mau bersihin wajahnya gara-gara ulah Rimba,” jawab Stevan, sedikit menghela napas.
“Kalau Fano?” tanya Edward lagi.
“Dia di ruang musik, biasa... Lagi meng-cover lagu pakai gitar kecil yang dulu kubelikan,” jawab Stevan dengan nada penuh kasih.
“Anak bungsumu multitalenta sekali,” puji Edward.
“Selagi dia suka dan serius, aku akan dukung terus,” ujar Stevan santai.
Sementara itu, di kamar lain, Rimba memperhatikan adiknya yang tengah memetik senar gitar dengan lincah. Mulut Rimba sempat terbuka, takjub melihat kepiawaian Fano.
Fano yang menyadari kehadiran kakaknya menghentikan permainannya, lalu melirik ke arah Rimba. “Kakak, masuk saja!” ajak Fano.
“Nggak, kakak mau ke halaman belakang, main basket dulu,” balas Rimba sambil tersenyum.
“Oke deh. Adek selesai ini nyusul, ya!” ujar Fano semangat.
“Siap!” jawab Rimba ringan sebelum beranjak pergi.
Rimba berlari kecil menuju halaman belakang sambil menenteng bola basket. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan sensasi memantulkan bola dan mencetak skor. Sebelum memulai permainan, ia melakukan pemanasan ringan meregangkan tangan, bahu, pinggang, lalu berlari-lari kecil mengitari lapangan untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku.
Begitu merasa cukup, Rimba mulai menggiring bola. Ia berlari ke sana kemari, mencoba melakukan lay-up sederhana ke dalam ring. Tawa kecil pun meluncur dari bibirnya, ekspresi wajahnya terlihat sangat bahagia. Bermain basket seperti ini membuatnya lupa sejenak tentang semua masalah.
Namun, saat sedang asyik menggiring bola, tiba-tiba sebuah ide jahil melintas dalam pikirannya. Ia berhenti di tengah lapangan, memandangi ring basket tinggi di depannya.
Tanpa pikir panjang, Rimba menaruh bola di atas tanah, lalu berlari, memanjat tiang penyangga, dan melompat hingga berhasil duduk di atas ring basket. Kedua kakinya menggantung bebas sambil sesekali berayun pelan.
“Hehe... seru juga duduk di sini,” gumam Rimba dengan tatapan puas sambil menikmati hembusan angin malam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.