Tiga hari kemudian, langkah kaki Rimba menggema di lorong sempit menuju ruang bawah tanah. Suasana gelap dan lembab tak mengusik ketenangan wajahnya. Tangannya membawa berkas baru bukti kuat yang mengarah pada Adeline, yang kini makin jelas telah menyuruh orang baru untuk menutupi jejak Dery, kaki tangannya.
Di ruangan itu, Rimba menatap dingin seorang pria yang terikat di kursi. Nafas pria itu terengah, tubuhnya gemetar, namun Rimba tetap tenang, bahkan santai, seakan ini bukan pertama kalinya.
“Aku bisa membunuh semua orang terdekatmu,” bisik Rimba, lirih namun mengiris. “Tapi sayangnya... aku masih butuh kamu, Dery.”
Wajahnya tak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Rimba meletakkan foto-foto di atas meja beberapa di antaranya wajah orang yang mengenal Dery, termasuk si orang baru.
Sementara itu, di layar monitor pengawas, Stevan duduk diam. Ia memperhatikan Rimba dari jauh rambut kusut anak itu, sorot matanya yang dingin, cara dia duduk di kursi seperti seorang interogator profesional.
“Bukan hanya ceria-nya yang menghilang,” gumam Stevan pelan. “Tapi sebagian cahaya hatinya juga ikut tenggelam.”
Namun sebagai ayah, ia tak menghentikan Rimba. Ia tahu, ini adalah jalur yang dipilih putranya. Dan selama Rimba tidak tersesat dalam gelap, ia akan tetap berada di belakangnya. Mengawasi. Menjaga. Tanpa terlihat.
Rimba menatap tajam ke arah Dery yang kini terlihat pucat pasi. Sorot matanya yang dingin menusuk, jauh melampaui usia remajanya yang baru lima belas tahun. Tubuh Dery gemetar, keringat dingin mengalir di dahinya.
“Dery,” suara Rimba rendah namun penuh ancaman, “aku sudah tahu semuanya. Keluarga kamu, orang-orang terdekatmu… mereka semua sudah ada dalam genggamanku.”
Dery mencoba menarik napas panjang, tapi kata-kata itu membuatnya makin ketakutan.
“Bisa mati hari ini juga. Kalau aku bilang untuk membunuh mereka.” ujar Rimba.
Rimba berdiri, berjalan perlahan mengitari Dery, mengamati reaksi lelaki itu dengan senyum tipis yang menakutkan. “Jangan kira aku masih bocah yang bisa kau anggap remeh. Aku punya bukti, dan aku punya rencana. Semua langkahmu sudah kugaris bawahi.”
Dery terdiam, tak berani mengalihkan pandangan dari mata tajam Rimba yang mengawalnya seperti predator yang siap menerkam.
“Sekarang, katakan siapa orang baru yang kau kirim untuk menutupi jejakmu, atau aku pastikan kamu yang pertama menghilang.” tungkas Rimba dingin.
Rimba berhenti tepat di depan Dery, menundukkan kepala dan mendesah pelan. “Tapi ingat... aku masih memberimu kesempatan terakhir.”
Setelah menatap tajam ke dalam mata Dery, Rimba melangkah mundur perlahan. Suaranya tenang namun penuh ancaman saat berkata, “Kalau kamu tidak memberitahuku rencana Adeline, bukan hanya kamu yang akan mati… tapi seluruh keluargamu juga akan ikut lenyap.”
Dery menggigil, tubuhnya nyaris tak bisa berdiri, namun ia tahu ini bukan omong kosong dari Rimba.
Rimba menoleh ke arah pintu, lalu menambahkan dengan dingin, “Aku beri waktu sampai besok malam. Pilihan ada di tanganmu.”
Dengan itu, Rimba meninggalkan ruangan bawah tanah, meninggalkan Dery dalam keheningan yang mencekam, dipenuhi ketakutan akan nasib yang mengintainya.
Baru saja Rimba melangkahkan kaki keluar dari ruang bawah tanah, langkahnya terhenti saat suara familiar menyapanya.
“Hei, Rimba! Ngapain kamu dari bawah?” tanya Bryan, kakak sepupunya, dengan nada santai namun penasaran.
Rimba menoleh, ekspresinya kembali ceria seketika. “Gabut aja, jadi jalan-jalan ke ruang bawah,” ujarnya sambil terkekeh kecil, menyembunyikan apa yang sebenarnya ia lakukan di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
