50 (berbagi)

795 71 11
                                        

Seorang remaja berlari masuk ke dalam rumahnya, napasnya sedikit terengah-engah. Tanpa membuang waktu, ia langsung berteriak, memanggil sang papa.

“Papa! Papa, di mana?!” serunya.

Namun, tidak ada jawaban. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tetapi sang papa tidak terlihat di mana pun. Dengan cepat, ia menghampiri salah satu bodyguard yang berjaga di dekat pintu.

Remaja itu menepuk pundak sang bodyguard, membuat pria tersebut sedikit terkejut. Namun, setelah menyadari siapa yang menyentuhnya, sang bodyguard segera membungkukkan badan dengan sopan.

“Om tahu tidak Papa kemana?” tanya Rimba, masih dengan napas sedikit tersengal.

“Tuan Stevan baru saja pergi. Ia berkata akan membereskan seseorang di markasnya,” jawab sang bodyguard dengan nada formal.

“Oh, gitu,” gumam Rimba, mengangguk paham.

Tanpa membuang waktu, ia segera mengucapkan terima kasih kepada sang bodyguard dan kembali berlari keluar rumah. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus ia bicarakan dengan Stevan, dan ia tidak akan menunggu lebih lama lagi.

Perjalanan menuju markas Stevan cukup memakan waktu. Saat hampir tiba, Rimba menghentikan langkahnya sejenak, lalu mengambil topeng yang ia bawa dan segera memakainya untuk menutupi wajah tampannya. Ia tidak bisa menunjukkan wajah aslinya di depan para anak buah Stevan semua ini demi keselamatannya sendiri.

Belakangan ini, banyak orang jahat yang mengincarnya untuk dihabisi. Maka dari itu, ia harus selalu berhati-hati.

Setelah melewati hutan belantara, akhirnya ia tiba di markas milik sang ayah. Begitu Rimba membuka pintu, semua orang di dalamnya secara serempak membungkukkan badan sebagai tanda hormat kepadanya.

Namun, Rimba tidak terlalu peduli. Ia langsung berlari melewati mereka, fokusnya hanya satu mencari Stevan.

“Papa!” seru Rimba, memanggil ayahnya sambil berjalan cepat menuju ruang kerja Stevan.

Rimba tahu pasti bahwa ayahnya ada di dalam. Namun, saat pintu ruangan itu terbuka, ia justru mendapati ruangan tersebut kosong.

“Huh? Nggak ada?” gumam Rimba dengan alis berkerut.

Merasa malas menunggu, ia pun berbalik, memutuskan untuk pergi. Namun, baru saja akan melangkah, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya dari belakang.

Refleks, Rimba langsung menoleh dan mendapati sosok yang dicarinya berdiri di sana Stevan.

Stevan menatap putranya dengan alis sedikit terangkat. “Kenapa kamu tiba-tiba datang ke markas? Ada perlu apa?” tanyanya dengan nada datar.

Rimba, yang masih mengenakan topengnya, menyeringai kecil. “Mau minta uang,” jawabnya santai.

Stevan mendengus pelan. “Uang buat apa?”

“Pokoknya ini penting.” tegas Rimba tidak mau memberitahu alasan ia meminta uang.

Walaupun heran dengan jawaban Rimba, Stevan tetap merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Namun, saat hendak memberikannya, Rimba menggeleng.

“Butuhnya dua juta, Pa,” ujar Rimba tanpa ragu.

Stevan menghela napas kasar, lalu menarik dompetnya. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil uang yang diminta Rimba dan menyerahkannya. Namun, tidak hanya itu, ia juga menyelipkan sebuah black card ke tangan putranya.

“Biar nggak ribet, pakai ini aja kalau butuh lebih,” ucap Stevan.

Rimba menerima kartu itu tanpa protes. Namun, sebelum ia bisa pergi, Stevan kembali bertanya, “Buat apa uang segini banyak?”

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang