Disebabkan kesulitan tidur, Rimba memilih untuk pergi ke kamar sang ayah, Stevan. Saat pintu terbuka, ia melihat Stevan sudah tertidur lelap, napasnya teratur dan tenang. Tubuh tegap ayahnya terlihat jelas dalam cahaya redup, apalagi Stevan bertelanjang dada, memperlihatkan abs yang tercetak sempurna.
Rimba awalnya berniat mendekat, tetapi ragu. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi keluar saja, berkeliling kompleks seperti biasa.
Namun, tepat saat ia akan melangkah keluar dari kamar, suara berat Stevan terdengar. “Rimba?”
Rimba refleks menoleh. Stevan sudah terjaga, menatapnya dengan mata yang masih sedikit mengantuk.
“Kenapa belum tidur?”tanya Stevan, suaranya terdengar serak karena baru bangun.
Rimba malah tersenyum jahil. “Mau keliling kompleks bareng remaja masjid, soalnya aku susah tidur.”
Stevan menghela napas. Ia tidak melarang, tetapi tatapannya seolah memperingatkan. “Baiklah, tapi setelah keliling kompleks, langsung pulang dan tidur bersama papa. Mengerti?”
Rimba terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk cepat. “Siap, Papa!” ujarnya sambil tertawa kecil.
Stevan hanya menggelengkan kepala, tapi bibirnya sedikit melengkung membentuk senyuman kecil.
Rimba pun pamit dan segera keluar bergabung dengan para remaja masjid. Di luar, tawa serta semangat Rimba terdengar jelas saat ia bercanda dengan anak-anak seusianya.
Stevan yang masih terjaga hanya duduk di tepi tempat tidur, mengawasi putranya dari jendela kamar. Ia tidak bisa tidur kembali, tetapi melihat Rimba begitu bersemangat, meski tubuhnya tidak sekuat dulu, membuat hati Stevan sedikit tenang.
Sementara itu, di bawah, Rimba terlihat bersemangat berlari-lari kecil sambil ikut membangunkan warga kompleks untuk sahur. Suara teriakannya yang nyaring bercampur dengan tabuhan alat seadanya membuat suasana semakin ramai.
Para remaja masjid yang sudah terbiasa dengan kehadiran Rimba hanya tersenyum melihat tingkahnya. Ini bukan pertama kalinya Rimba bergabung dalam kegiatan mereka. Setiap tahun, bocah itu selalu ada, menambah keributan tapi juga membawa keceriaan.
“Woy, lebih semangat dikit dong! Masa kalah sama anak kecil sepertiku?” seru Rimba sambil tertawa.
Salah satu remaja masjid, Aldi, hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Lu sih, bukan anak kecil, tapi bocah jahil!”
Tawa mereka pecah, tetapi tidak ada yang benar-benar mempermasalahkan kehadiran Rimba. Mereka justru senang, karena suasana membangunkan sahur jadi lebih hidup dan seru.
Bahkan, beberapa dari mereka sudah terbiasa menambah satu porsi makanan sahur khusus untuk Rimba.
“Rim, nanti sahur bareng kita aja, ya?” ujar salah satu remaja masjid.
“Serius?! Boleh dong!” Mata Rimba langsung berbinar senang.
Mereka semua tertawa kecil melihat reaksi antusias Rimba. Remaja itu memang seperti matahari membawa energi ke mana pun ia pergi.
Karena di antara mereka Rimba masih yang paling muda, meskipun ada beberapa yang seumuran dengannya, tetap saja tingkah laku Rimba sering kali lebih mirip bocah daripada seorang remaja lima belas tahun.
Seperti sekarang, saat semua berjalan dengan tenang membangunkan warga untuk sahur.
Rimba malah melompat-lompat di belakang mereka, menggedor tiang listrik dengan botol plastik, dan sesekali berlari ke depan untuk meneriakkan “SAHUUUUR!” dengan suara yang lebih nyaring dari yang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
