Pagi itu, Rimba tengah duduk santai di bangku depan rumah, mengenakan hoodie tipis dengan headphone menggantung di leher. Ia sedang menikmati udara pagi yang tenang, sampai tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat di pipinya, membuat tubuhnya oleng ke samping.
“Mas... ada apa sih?” tanya Rimba terkejut, menyeka darah yang menetes dari sudut bibirnya. Tatapannya terarah pada sosok yang baru saja memukulnya Bryan, kakak sepupunya sendiri.
“Lu kenapa nyakitin Mami gua, hah?!” bentak Bryan dengan mata membara.
Rimba mengerutkan alis, masih mencoba mencerna tuduhan itu. “Aku bahkan jarang ke mana-mana selain sekolah... keluar rumah juga cuma sesekali. Aku enggak ngerti maksud Mas.”
Bryan dengan cepat merogoh ponsel dan menunjukkan rekaman CCTV dari sebuah gang sempit. Dalam rekaman itu terlihat seseorang yang mirip Rimba tengah beradu argumen sengit dengan Adeline, sang tante, dekat rumah Marcus.
“Ini lu kan?! Mau ngeles apa lagi?!” bentak Bryan, nadanya penuh emosi.
Rimba belum sempat membalas ketika tiba-tiba sebuah tangan menahan lengan Bryan yang hendak kembali memukul. Argo kakak sulung Rimba berdiri di sana, wajahnya datar, tapi matanya tajam penuh peringatan.
“Bryan... kenapa kau menyakiti adikku?” suara Argo tenang, namun dinginnya menusuk.
“Dia yang mulai!” seru Bryan, menunjuk Rimba. “Gara-gara dia, Mami masuk rumah sakit! Kami semua tahu dia selalu bawa masalah, kan?! Harusnya dia dihukum! Kali ini jangan dikasih ampun”
Rimba terdiam. Kepalanya tertunduk, bukan karena rasa bersalah, tapi karena mulai paham. Ini bukan sekadar emosi sepihak Bryan. Ini... jebakan. Adeline ingin menciptakan jurang antara dirinya dan keluarga. Ingin membuat semua membencinya, agar lebih mudah disingkirkan.
Argo menarik napas dalam, lalu menatap Bryan lurus-lurus. “Bukti dari kamera di gang sempit? Di luar rumah Om Marcus? Lu yakin itu cukup untuk memukul adik gua? Bukti murahan kayak gitu?”
Bryan mengepal tangan, wajahnya masih marah.
“Denger ya,” lanjut Argo lebih tegas, “gua enggak akan biarin siapa pun nyentuh adik gua tanpa alasan jelas. Kalau Tante Adeline sakit, kita cari tahu penyebab pastinya. Tapi bukan dengan main hakim sendiri.”
Argo menoleh ke Rimba. “Masuk ke dalam. Bersihkan lukamu.”
Rimba hanya mengangguk kecil dan melangkah masuk dengan kepala tertunduk. Tapi di balik sikap diamnya, ia sudah tahu pasti Adeline sedang bermain licik.
Dan Rimba harus bersiap. Karena ini belum selesai.
Saat Rimba masuk ke dalam rumah dengan napas memburu dan luka di bibir yang masih basah oleh darah, ia langsung melihat sosok sang ayah, Stevan, baru saja muncul dari ruang bawah tanah. Pintu besi berat itu menutup perlahan di belakangnya. Stevan tampak lelah, namun sorot matanya langsung berubah khawatir ketika melihat putranya berlari ke arahnya.
Tanpa kata, Rimba langsung memeluk Stevan erat pelukan yang mencengkeram seakan ingin berkata bahwa dunia di luar sana terlalu berat untuk ia hadapi sendiri. Tubuhnya bergetar hebat, dan akhirnya tangis yang ia tahan selama ini tumpah di pelukan sang ayah.
“Rimba…” gumam Stevan lembut, membalas pelukan itu dengan kedua lengannya yang kuat. Ia mengelus rambut putra keduanya dengan penuh kasih sayang, sesuatu yang jarang ia perlihatkan di hadapan banyak orang.
“Aku gak kuat, Pa… Tapi aku juga gak mau menyakiti balik. Aku… Aku cuma pengen dicintai…” suara Rimba parau di sela isak tangisnya. “Tapi kalau kali ini harus ada yang bertindak, biar Papa aja. Bukan aku…”
Stevan tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggendong Rimba seperti dulu saat anak itu masih kecil perlahan, penuh perlindungan lalu membawanya masuk ke kamar Rimba. Suara langkah sepatunya terdengar mantap di lorong, sementara pelukan Rimba masih erat di lehernya.
Sesampainya di kamar, ia duduk di pinggir ranjang dan membaringkan Rimba pelan. Lalu, dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan yang hanya bisa didengar Rimba, Stevan berkata. “Nak… Ikuti saja permainannya. Kita balikkan semua ini ke dia. Tapi bukan dengan kemarahan.”
Rimba menatap ayahnya dengan bingung, masih terisak pelan.
“Kau akan menghilang untuk sementara,” lanjut Stevan. “Kita buat seolah-olah kau dikirim ke luar negeri… sebagai bentuk hukuman dari Papa atas semua ‘ulahmu’. Biar Adeline tenang… biar dia lengah. Lalu saat waktunya tiba, kita balikkan semua permainan kotor itu padanya. Dengan semua bukti yang valid. Dengan kepala dingin.”
“Aku… pura-pura dibuang?” tanya Rimba, ragu.
Stevan mengangguk pelan. “Hanya untuk sementara. Percayalah, Papa tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh anak Papa tanpa alasan.”
Rimba menggigit bibir, lalu mengangguk dengan berat. Air matanya masih mengalir, tapi untuk pertama kalinya hari itu ia merasa aman.
Beberapa hari setelah kejadian menyakitkan itu, rencana perlindungan mulai dijalankan oleh Stevan dengan sangat hati-hati. Di mata publik terutama keluarga Marcus Rimba “dikirim ke luar negeri” sebagai bentuk hukuman dari sang ayah atas berbagai “ulah” yang membuat keributan. Kabar itu sengaja disebarkan terbatas, cukup untuk sampai ke telinga Adeline dan membuatnya merasa menang, setidaknya untuk sementara.
Namun kenyataannya, Rimba hanya dipindahkan ke sebuah apartemen rahasia yang masih berada dalam pengawasan Stevan. Apartemen tersebut berada di pusat kota, namun tersembunyi dari sorotan publik dan hanya diketahui oleh segelintir orang yang dipercaya.
Argo, sang kakak sulung, sempat terdiam lama saat mendengar rencana ini dari ayahnya. Namun setelah melihat luka di bibir Rimba, dan cara adiknya menangis seperti anak kecil di pelukan ayah mereka, ia hanya mengangguk pelan.
“Aku akan bantu jaga, Pa. Tapi jangan harap aku bersikap ramah kalau si Bryan berani datang ke rumah lagi,” ucap Argo datar, dengan aura dingin khasnya yang membuat orang takut bicara sembarangan di depannya.
Fano, si bungsu, justru bereaksi dengan cara yang sangat berbeda.
Saat malam sebelum Rimba “dikirim”, Fano berusaha keras untuk tidak menangis, tapi matanya berkaca-kaca. Ia menatap Stevan dengan ekspresi menggemaskan, namun sangat serius.
“Papa…” kata Fano pelan, “aku akan pura-pura marah sama Papa di rumah, pura-pura kecewa karena Papa kirim kakakku ke luar negeri.”
Stevan mengangkat alis, bingung. “Tapi kenapa kamu harus marah?”
Fano menunduk, kemudian senyum liciknya muncul. “Biar aku bisa izin tidur di luar rumah. Bilang ke Papa gak tahan tinggal bareng Papa yang jahat. Padahal aslinya… aku nginap bareng Kakak tiap malam.”
Rimba yang duduk di sebelahnya tertawa pelan. “Aduh adikku ini pinter banget sih.”
Fano malah menyeringai. “Ya iyalah. Kakakku lagi disakiti, masa aku tinggal diam? Aku jagain kakakku juga dong.”
Stevan menghela napas pelan, antara bingung, terharu, dan pasrah dengan ide anak bungsunya. Tapi akhirnya ia hanya mengangguk pelan. “Tapi jangan terlalu sering ya. Sekali-sekali aja biar gak ketahuan.”
Fano mengangguk cepat, penuh semangat. “Siap laksanakan, Jenderal!”
Kini, Rimba tinggal di apartemen itu dengan tenang, setidaknya jauh dari pandangan mata Adeline. Argo kadang mampir setelah urusan bisnisnya selesai, dan Fano dengan segala akalnya selalu punya cara menyelinap masuk dan menginap di sana, membawa makanan kesukaan Rimba dan cerita-cerita konyol dari sekolah mereka.
Meski luka batin itu belum sembuh, tapi perlahan, Rimba mulai merasa hidupnya kembali memiliki warna.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Senin 23 Juni 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Fiksi UmumRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
