Dua hari kemudian, Marcus datang ke rumah Stevan. Ia memperhatikan wajah sang abang kandung, lalu memandang satu per satu keponakannya yaitu Argo, Rimba, dan Fano.
“Om sudah memutuskan bahwa mengenai Adeline, Om serahkan sepenuhnya kepada kalian semua. Om yang akan jelaskan pada Bryan, Indra, Bobby, dan Kevin. Itu urusan Om. Walaupun berarti mereka berempat harus kehilangan figur seorang ibu, tapi ini lebih baik daripada membiarkan dia menjadi monster dalam keluarga abangku sendiri,” ujar Marcus dengan nada tenang.
“Om serius nggak masalah?” tanya Rimba dengan nada tak yakin.
“Tidak masalah. Lagipula, Adeline sudah membunuh ibu kalian. Jadi anggap saja ini balasan dari semua niat jahatnya dulu, termasuk yang dia rencanakan pada Argo,” jawab Marcus.
“Pemikiran Om memang sangat bijaksana,” ujar Argo menatap penuh hormat.
“Daripada keempat putra Om jadi jahat di masa depan, lebih baik dicegah sejak sekarang,” tambah Marcus santai.
“Oh, pantes Mas Kevin bilang maminya jarang jemput di sekolah,” celetuk Fano polos.
“Aku nggak akan serakah. Abang sudah menyerahkan perusahaan padaku, jadi soal dunia mafia itu bagian abang dan ketiga putra abang. Aku mengajarkan keempat anakku berbagai ilmu soal perusahaan secara bertahap... supaya mereka nggak tumbuh serakah seperti maminya,” ujar Marcus dengan tatapan tajam.
“Tapi Tante Adeline jahat... dia udah buat mama aku pergi ke surga,” lirih Fano sambil menunduk.
Marcus mendekat dan memeluk erat tubuh kecil Fano. Sebagai seseorang yang juga pernah ditinggal ibu, ia sangat memahami rasa kehilangan itu. Apalagi, Lusiana ibu Fano telah tiada sejak Fano berusia tiga tahun. Pelukannya bukan sekadar menenangkan, tapi juga janji tak akan membiarkan Fano merasa sendiri.
Beberapa menit kemudian, Marcus melepaskan pelukannya dari tubuh kecil Fano. Ia menatap ketiga keponakannya dan Stevan sebelum akhirnya membuka suara.
“Om mau jemput anak-anak dulu. Bryan walaupun udah tujuh belas tahun, tapi masih aja minta dijemput. Katanya malas nyetir sendiri, padahal SIM-nya udah ada,” ujar Marcus sambil menghela napas kecil.
“Indra masih empat belas tahun, Bobby dua belas, dan si bungsu Kevin baru sepuluh tahun. Mereka semua lagi di rumah temannya Bryan,” lanjutnya sambil mengambil kunci mobil dari meja.
“Mas Kevin pasti senang banget ketemu aku!” seru Fano semangat.
“Jangan ajarin dia kenakalan baru ya,” potong Argo cepat sebelum Fano makin semangat.
Rimba hanya tertawa kecil sambil mengangkat tangan seolah tak bersalah. Marcus tersenyum lalu melangkah pergi, meninggalkan suasana hangat di ruang keluarga yang meskipun penuh keributan kecil, tetap terasa erat.
Melihat Marcus pergi, meski raut wajahnya tetap tenang, sorot matanya tak bisa menyembunyikan beban di hati. Ia tahu keputusannya bukan hal mudah bagaimanapun Adeline adalah istrinya, ibu dari keempat anaknya. Tapi Marcus juga sadar, tindakan Adeline sudah terlalu jauh. Demi menyelamatkan masa depan anak-anaknya dan menjaga hubungan baik dengan Stevan, abang kandungnya, ia memilih untuk mundur.
Marcus masih ingat jelas saat dirinya jatuh dalam tekanan dunia bisnis, Stevanlah yang berdiri paling depan membantu. Hutang budi itu tak akan pernah ia lupakan, dan kali ini, Marcus membalasnya dengan memilih berpihak pada kebenaran, bukan pada ikatan semu dengan Adeline yang ternyata selama ini hanyalah “ular berbisa” yang menebar racun dalam keluarganya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Marcus berhenti di depan rumah salah satu teman Bryan. Belum sempat Marcus mematikan mesin, si bungsu Kevin sudah berlari kecil menghampiri dengan wajah ceria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
