55 (bukber!)

762 88 29
                                        

Rimba berjalan santai ke ruang kerja Stevan, di mana sang ayah sedang sibuk dengan beberapa dokumen.

Tanpa ragu, Rimba langsung duduk di sofa dan menatap ayahnya dengan mata berbinar. “Pa, aku mau minta izin buat buka puasa bareng di sekolah”  katanya antusias.

Stevan mengangkat alis, menatap putranya dengan ekspresi datar. “Kamu kan nggak puasa.”

“Iya, tapi seru, Pa!” Rimba membalas cepat. “Aku kan selalu ikut setiap tahun, lagian aku juga mau nyumbang buat makanannya biar lebih enak.”

Stevan menghela napas dan bersandar di kursinya. “Kamu ini Kristen, tapi lebih semangat dari yang puasa,” ujarnya sambil menggeleng.

“Ya, kan ikut senang, Pa,” Rimba tertawa kecil. “Lagian, makan bareng itu seru. Kalau aku nggak ikut, nanti malah sepi.”

Stevan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tapi pulangnya jangan kemalaman. Suruh Argo jemput.”

“Siap, Pa!” Rimba berseru senang sebelum melompat dari sofa. “Pa, mau aku bawain makanan nanti?”

Stevan menatap putranya dengan ekspresi bingung. “Kamu kan yang nyumbang uangnya.”

“Iya, tapi kan bisa aja aku dapet makanan lebih!” Rimba menyeringai jahil sebelum cepat-cepat kabur dari ruang kerja Stevan.

Stevan hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis.

Anak ini memang selalu punya cara untuk membuat suasana rumah tetap hidup.

Rimba berjalan menuju kamar Argo, lalu langsung masuk tanpa mengetuk sebuah kebiasaan yang sering membuat kakaknya kesal.

“Bang, antar aku ke sekolah! Aku mau bukber!” seru Rimba penuh semangat.

Argo, yang sedang bersandar di tempat tidur sambil main ponsel, menoleh dengan ekspresi heran.

“Bukber?” Argo mengulang kata itu sambil tertawa kecil. “Kamu kan nggak puasa, Rimba. Ngapain ikut-ikutan?”

Rimba menyeret kursi di dekat meja belajar Argo dan duduk santai. “Ya ampun, Bang, bukber itu bukan cuma soal puasa atau nggak. Ini acara tahunan! Seru-seruan bareng teman-teman!”

Argo masih terkekeh, lalu menggeleng. “Ada-ada aja kamu ini. Udah kayak panitia bukber aja tiap tahun.”

“Iya dong! Aku bahkan nyumbang biar makanannya lebih enak.” Rimba menyombongkan diri dengan bangga.

Argo mencibir main-main. “Ck, baik banget sih kamu. Harusnya uangnya buat traktir abang aja, biar lebih bermanfaat.”

Rimba langsung merajuk. “Duh, Bang! Jangan gitu, dong. Makanan di bukber kan lebih meriah. Lagian, aku juga udah izin Papa, lho!”

Argo tertawa lagi, lalu bangkit dari tempat tidur sambil mengambil kunci mobilnya. “Yaudah, yaudah. Aku antar. Siap-siap dulu sana, sebelum aku berubah pikiran.”

“Mantap, Bang! Emang abang paling the best!” Rimba cepat-cepat keluar dari kamar dengan wajah puas.

Argo menghela napas sambil tersenyum tipis.

Adiknya ini memang selalu punya cara untuk membuat segala hal lebih hidup.

Rimba telah siap dengan pakaian rapi, tapi tetap mempertahankan gaya favoritnya hodie oversize dan celana pendek.

Saat ia berlari menuju kamar Argo, tiba-tiba suara Stevan menghentikannya di tengah jalan. “Rimba, berhenti.”

Rimba mengerjap, menoleh ke belakang. “Hah? Kenapa, Pa?”

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang