49 (rimba menjahili argo)

932 77 31
                                        

Sebelum matahari terbit, seorang remaja yang terkenal usil telah bangun dari tidurnya. Sekarang, ia tengah berpikir mengenai trik yang cocok untuk sang abang. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia menemukan ide yang pas.

Dengan langkah pelan, Rimba masuk ke kamar sang abang. Benar saja, Argo masih terlelap tidur wajar sih, sekarang masih jam dua pagi. Namun, di luar sudah ramai oleh suara anak-anak yang membangunkan sahur.

Rimba segera masuk ke kamar mandi pribadi milik Argo. Matanya langsung tertuju pada botol pencuci wajah cair milik sang abang yang kebetulan berwarna hitam. Senyum jahil muncul di wajahnya. Dengan cepat, ia mengambil spidol yang sudah ia bawa, lalu membuang isi asli pencuci wajah itu ke wastafel dan menggantinya dengan isi spidol yang sudah ia larutkan sebelumnya.

Setelah puas dengan aksinya, Rimba keluar dari kamar mandi dengan hati-hati. Ia sedikit tertawa membayangkan bagaimana reaksi Argo nanti saat mencuci muka.

Karena merasa tidak mengantuk, Rimba memutuskan keluar rumah dan bergabung dengan para remaja masjid yang tengah membangunkan sahur.

Para remaja di sana yang sudah tahu bahwa Rimba non-Muslim membiarkannya saja. Lagipula, hampir setiap tahun Rimba pasti ikut membangunkan sahur bersama mereka.

Setelah puas berkeliling membangunkan sahur, Rimba justru ikut bergabung dengan para remaja masjid untuk makan sahur bersama. Ia duduk di antara mereka, dengan santai menyendok nasi dan lauk ke piringnya.

“Rim, kau puasa juga?” tanya salah satu remaja dengan nada bercanda.

Rimba hanya tertawa. “Enggak lah, aku cuma nemenin kalian aja. Sekalian sahur gratis,” ujarnya santai, membuat yang lain ikut tertawa.

Mereka makan dengan suasana penuh canda tawa. Meskipun berbeda agama, Rimba tidak merasa canggung sedikit pun. Justru, ia menikmati momen kebersamaan ini. Setelah selesai makan, ia membantu sedikit merapikan piring sebelum akhirnya berdiri dan meregangkan tubuhnya.

“Wah, aku ngantuk banget. Aku pulang duluan ya,” ucap Rimba sambil menguap lebar.

“Paling besok kau datang lagi buat sahur gratis,” goda salah satu remaja, disambut tawa dari yang lain.

Rimba hanya mengangkat bahu santai. “Bisa jadi.”

Setelah berpamitan, ia berjalan kembali ke rumahnya dengan langkah santai. Begitu sampai, ia langsung masuk ke kamarnya dan menjatuhkan diri ke kasur. Tak butuh waktu lama, ia pun tertidur pulas.

Keesokan paginya, suara teriakan menggema di seluruh rumah.

“RIMBAAAA!!”

Rimba yang masih setengah sadar mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha memahami situasi. Sebelum ia sempat bangun sepenuhnya, pintu kamarnya terbuka dengan kasar dan sosok Argo berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh amarah dan tentu saja, wajah yang masih hitam akibat spidol permanen.

“KAMU JAHILIN ABANG YA?!” bentak Argo sambil menunjuk wajahnya sendiri.

Rimba yang masih malas-malasan hanya menyeringai. “Oh, baru sadar, Bang?” tanyanya santai sambil menguap.

“SADAR DARI TADI! KENAPA NGGAK HILANG-HILANG?!” Argo semakin emosi.

Rimba duduk bersila di kasurnya dengan ekspresi santai. “Oh iya, lupa bilang. Itu spidol permanen.”

Argo terdiam sejenak, memproses ucapan adiknya. Setelah beberapa detik, wajahnya memerah karena semakin kesal.

“RIMBA!! KAU MAU AKU PUKUL, HAH?!”

Rimba langsung melompat dari kasur dan berlari keluar kamar, tertawa keras. Argo mengejarnya dengan penuh amarah, sementara Fano yang baru keluar dari kamarnya hanya bisa menonton kejadian itu dengan ekspresi bingung.

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang