93 (belum berakhir)

532 37 1
                                        

Sementara itu di dalam mobil hitam yang melaju tenang di tengah sunyinya malam, Edward menoleh ke belakang. Di kursi belakang, tergeletak tubuh tak bernyawa Adeline yang kini telah menjadi mayat dingin. Wajahnya pucat, darah mengering di sekitar dada dan kedua kakinya. Mobil terus melaju dengan pelan, seolah tidak tergesa, seolah kematian hanyalah bagian dari perjalanan biasa dalam hidup Edward.

Edward menyandarkan punggung, lalu tersenyum miring. Senyum seorang pemburu yang berhasil mengeksekusi target tanpa cela. “Pada akhirnya... kau hanya manusia biasa, Adeline,” gumamnya datar.

Tangannya mengusap pelan sisa darah di sarung tangannya. Lalu ia menatap lekat wajah mayat itu.

“Walaupun kau tidak pernah ikut campur dalam kematian nyonya kami, tapi kau tetap bersalah karena membantu Darrell...” ucap Edward lirih, namun dingin. “Karena diam tak pernah jadi hal netral dalam dunia kami.”

Edward menunduk sebentar, memejamkan mata. Lalu kembali membuka dan menatap kosong ke jalanan gelap yang hanya diterangi lampu jalan sesekali. “Kau membiarkan mereka menangis sendiri. Ketiga tuan muda kehilangan ibunya... dan sekarang, keempat putramu akan kehilanganmu juga." Nada suaranya datar, tanpa empati sedikit pun. "Darah dibayar darah. Nyawa dibalas nyawa. Begitulah cara kami menyelesaikan urusan.”

Edward terdiam sejenak, lalu menyambung, seolah berbicara kepada seseorang yang tak akan pernah bisa membalas lagi. “Jangan khawatir... mereka tidak akan lama menangisi kematianmu. Anak-anak selalu tahu siapa yang benar-benar melindungi mereka. Dan mereka akan mengerti... bahwa ini bukan tragedi, melainkan konsekuensi.”

Sementara itu, di masa lalu, Rimba pernah menaruh curiga terhadap Edward. Menuduhnya sebagai mata-mata. Tapi alih-alih marah atau membela diri, Edward memilih diam. Diam dan membuktikan kesetiaannya secara perlahan. Dengan bukti. Dengan tindakan.

Dan sejak itu, perlahan tapi pasti, Rimba pun tahu pria itu bukan sembarang pion. Ia adalah tangan kanan setia milik Stevan. Pria yang rela menodai tangannya dengan darah demi menjaga nama keluarga.

Mobil hitam itu akhirnya berhenti di tempat sepi. Edward membuka pintu belakang, memanggil salah satu anak buahnya.

“Ambil dia. Buang dengan cara yang biasa. Pastikan tak ada jejak,” perintah Edward tenang.

Anak buahnya mengangguk dan menarik tubuh Adeline dari dalam mobil. Tidak ada lagi isakan. Tidak ada permohonan ampun. Hanya tubuh dingin yang tak bernyawa... dan sejarah yang kini tertutup untuk selamanya.

Di sisi markas Darrell yang dikelilingi puing bangunan dan debu peperangan, tiga bersaudara berdiri dengan tubuh dipenuhi keringat dan napas memburu. Rimba menatap sekeliling dengan tajam. Tanah di bawah kaki mereka dipenuhi jejak pertempuran-darah yang mulai mengering, peluru kosong berserakan, dan tubuh-tubuh tak bergerak milik anak buah Darrell yang telah tumbang di tangan mereka bertiga.

Di kejauhan, malam mulai turun sempurna. Langit mendung tampak berat, seakan ikut murung menyaksikan tragedi yang sedang berlangsung.

Pedang Argo masih meneteskan darah segar, senjata yang telah merenggut banyak nyawa malam itu. Ia berdiri sedikit di depan, bahunya naik turun cepat menandakan betapa keras pertempuran barusan. Rimba di sisi lain memegang dua pistol di tangannya, siap siaga, waspada seperti serigala yang tak ingin terkecoh dua kali. Sementara Fano sibuk memeriksa alat canggih di pergelangan tangannya-alat buatan Guan yang selalu menjadi andalan di saat genting.

Yuda, yang tidak tampak di hadapan mereka, tengah bekerja dalam senyap. Di ruangan terpisah, dia berhasil menembus sistem keamanan rahasia milik pemerintah. Tujuannya bukan sekadar meretas. Ia mencari sesuatu-dokumen penting yang bisa menjadi bukti bahwa Darrell bermain kotor di level lebih tinggi.

Keheningan di antara mereka hanya bertahan beberapa detik sebelum Rimba mencoba mencairkan suasana.

“Bang, Papa kita jagoan lho,” kata Rimba sambil tersenyum kecil. “Dia itu ketua mafia paling keren yang pernah ada.”

Fano ikut menimpali, kali ini dengan semangat anak kecil yang sangat percaya pada ayahnya. “Tahu tuh. Abang ini dari tadi kaya orang panik. Padahal papa hebat banget, lawan segitu aja dia nggak takut. Papa itu petarung sejati!”

Argo tak langsung menjawab. Matanya masih fokus ke arah bangunan utama di depan mereka-tempat Darrell dan ayah mereka bertarung.

“Aku hanya merasa...” Argo akhirnya berbicara, suaranya pelan namun penuh beban, “...Darrell belum memainkan kartu terakhirnya. Sepertinya dia sudah menyiapkan sesuatu untuk menahan kita di sini. Ini terlalu sunyi sekarang, terlalu aneh.”

Fano mengernyit, mencoba memahami maksudnya. “Apa maksud abang? Kau pikir... jebakan?”

Argo mengangguk pelan, namun tak mengatakan lebih. “Entahlah. Intuisiku saja. Tapi aku sudah lama hidup di dunia ini, dan biasanya... kalau semuanya terlihat tenang setelah badai-itu artinya ada badai yang lebih besar menunggu.”

Rimba diam, namun perlahan memutar pelatuk pistolnya. Ia tahu Argo tak pernah sembarangan bicara. Jika abangnya gelisah, maka sesuatu memang sedang tidak beres.

Sementara itu, di lantai paling atas markas Darrell-dalam ruangan luas dengan jendela kaca besar yang kini retak dan hampir runtuh-dua pria berdiri saling berhadapan.

Darrell berdiri dengan napas kasar, tangannya memegang sebilah belati yang berlumuran darah. Penuh kebencian, penuh amarah. Di hadapannya, Stevan masih berdiri tegak, meski tubuhnya dipenuhi luka lebam dan darah segar menetes dari sudut bibirnya. Tapi mata pria itu tetap dingin, penuh determinasi.

Pertarungan mereka sudah berlangsung lama. Lantai telah dipenuhi bercak darah dan bekas hantaman. Tapi Stevan tetap tidak mengambil senjata.

“Kau bodoh sekali, Stevan!” teriak Darrell penuh amarah. “Gunakan senjatamu! Atau kau ingin mati dengan cara menyedihkan seperti anak-anakmu nanti?!”

Stevan tersenyum dingin. Ia meludahkan darah ke lantai, lalu menyeka sudut bibirnya. “Aku... tanpa senjata pun... bisa membuatmu kewalahan seperti ini,” ujarnya penuh ejekan. “Kau pikir aku datang ke sini untuk main adil? Tidak, Darrell. Aku datang untuk menyelesaikan ini. Dengan tangan kosong... dan tekad penuh.”

Darrell menggeram dan langsung menyerang lagi, tapi Stevan kali ini bergerak lebih cepat. Ia menangkap lengan Darrell, memelintirnya, dan menghantam dada pria itu dengan lutut. Darrell terjatuh membentur dinding, terengah-engah.

“Aku sudah kehilangan istri karena kelicikanmu... dan hampir kehilangan anak-anakku juga. Tapi malam ini, Darrell... ini malam terakhirmu,” gumam Stevan tajam.

“Beraninya kau bicara soal keadilan setelah semua darah yang kau tumpahkan, Stevan!” balas Darrell sambil tertawa getir.

Stevan tidak menjawab. Ia melangkah pelan, mendekat. Tidak tergesa. Setiap langkahnya membawa beban masa lalu, dendam, dan cinta seorang ayah yang selama ini tersembunyi di balik ketegasan.

Pertarungan belum usai. Tapi satu hal sudah pasti malam ini akan menjadi malam paling berdarah dalam sejarah keluarga mereka.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Kamis 03 Juli 2025

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang