Pagi hari itu seharusnya menjadi waktu santai untuk keluarga Jovetic. Tapi tidak bagi rumah mereka yang kini lebih mirip dapur uji coba gagal.
Tepung terigu beterbangan di udara, menempel di tirai dan sofa. Lantai ruang tamu seperti pelangi yang tumpah, penuh cipratan pewarna makanan dari merah, biru, hijau, hingga ungu mencolok. Bahkan tangga ya, tangga sekarang seperti jalur pelukis yang lupa konsep, berkilau merah terang seolah siap menyambut parade sirkus.
Stevan berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah beku, secangkir kopi masih di tangannya, yang kini penuh tepung. Edward muncul dari dapur dengan sendok kayu di tangan dan wajah bingung.
“Aku kira ini ladang percobaan alkemis,” gumam Edward.
Sementara itu, sang dalang Rimba sedang bersembunyi di atas pohon mangga di halaman belakang. Ia meringkuk di antara ranting, menahan tawa sambil memegang ember kecil yang masih ada sisa adonan di dalamnya.
“Aku cuma mau bikin kejutan kue warna-warni buat sarapan...” bisik Rimba ke dirinya sendiri, walau ekspresi penuh tawa mengkhianati niat ‘baik’-nya.
Fano yang muncul sambil pakai pelampung renang dan topi chef malah tertawa melihat kondisi rumah. “Warna-warni kayak pesta ulang tahun alien!” serunya.
Sementara Argo baru turun dari lantai dua, terpeleset pewarna makanan, dan nyaris jatuh. Ia mendongak ke arah luar jendela, tepat melihat Rimba di atas pohon.
“RIMBA!!” pekik Argo.
Rimba hanya menjawab dengan satu kata sambil nyengir, “Ups?”
Rimba yang kini mulai menyadari posisinya terjebak di atas pohon hanya bisa memeluk batang pohon dengan pasrah. Ia menatap ke bawah, lalu ke arah jendela tempat Argo berdiri sambil masih menahan emosi.
“Eh... Abang... bantuin dong... lupa caranya turun,” ujar Rimba dengan cengiran bodoh.
Argo mendengus, “Kamu naik kayak monyet, tapi turunnya kayak bayi baru lahir.”
Sementara itu, Stevan duduk di sofa penuh tepung dengan ekspresi trauma ringan. Ia mencoba menyeruput kopi yang tadi ia bawa dengan harapan menenangkan diri, tapi setelah satu tegukan, wajahnya langsung meringis.
“Pahit... asin... ini kopi apa air cucian kaki?” gumam Stevan, meletakkan cangkir dengan pelan seolah takut rumahnya meledak lagi.
Edward tertawa kecil di sampingnya, “Mungkin pewarna makanan ikut masuk ke dalam kopi, atau ada jejak adonan Rimba di mana-mana.”
Fano malah datang membawa kursi kecil dan camilan, duduk di bawah pohon sambil menatap kakaknya yang masih terjebak. “Ayo kak, aku kasih nilai 10 kalau gayanya bagus waktu jatuh!” serunya polos.
Rimba makin panik. “Gak mau jatuh, nanti mukaku gepeng!”
Argo akhirnya keluar rumah, masih dengan wajah kesal, membawa tangga lipat. Tapi bukan untuk langsung menyelamatkan. Ia meletakkan tangga dengan perlahan, lalu berdiri menatap Rimba.
“Kalau turun, janji gak bikin kekacauan kayak tadi lagi?” ujar Argo.
“Janji... sementara... mungkin... ehm... ya, janji deh!” kata Rimba tergagap.
Argo memutar bola matanya. “Satu hari damai aja gak bisa ya...”
Dengan bantuan tangga, Rimba akhirnya berhasil turun. Tapi begitu sampai di tanah, Argo langsung menjepit telinga Rimba dan menyeretnya masuk rumah sambil berkhotbah panjang.
“Anak orang tuh kalau bosan tidur, baca buku... bukan ngecat rumah pakai pewarna makanan!” omel Argo.
Stevan hanya bisa menggeleng. “Hari Minggu yang damai... gagal total.”
Sementara Fano tertawa senang. “Besok kita eksperimen pakai coklat cair aja, ya kak!”
Argo langsung menjawab, “TIDAK!!”
Di dalam rumah, Stevan memandangi dinding yang kini belang-belang dengan warna merah, ungu, dan hijau mencolok, sementara tangga terlihat seperti pelangi gagal. Ia menghela napas panjang, lalu menatap putra keduanya yang masih berdiri dengan wajah tak bersalah.
“Warna cat yang kamu pakai itu permanen, Rimba...” ucap Stevan tenang, terlalu tenang malah.
“Lho, masa sih? Kirain bisa hilang pakai air,” jawab Rimba polos sambil nyengir, seolah tak merasa bersalah sedikit pun.
“Ya jelas nggak bisa, Nak. Itu cat untuk mural jalanan! Sekarang satu-satunya solusi... cat ulang semuanya,” ujar Stevan, kemudian menyesap kopi barunya yang kali ini sudah bebas dari campuran terigu dan pewarna.
“Wah... ribet ya,” gumam Rimba pelan.
“Nah, karena kamu yang bikin ribet, kamu juga yang harus tanggung jawab. Papa hukum kamu buat pergi ke toko cat dan beli semua yang diperlukan. Lengkap. Paham?” ujar Stevan.
“Yah...” keluh Rimba.
“Dan Adek ikut,” tambah Stevan sambil menatap si bungsu yang tadinya hendak kabur perlahan ke dapur.
Fano mematung. “Lho, kenapa aku ikut? Aku kan cuma kasih ide... bukan eksekutor.”
“Justru karena kamu ngasih ide,” potong Stevan cepat. “Kalian berdua tim kreatif, ya tanggung jawab bareng.”
Rimba menggaruk kepala sambil ngedumel, “Aku jadi detektif... bukan tukang cat...”
Fano menyikut kakaknya, “Tapi kita bisa nyamar jadi teknisi bangunan, Kak.”
“Idemu makin aneh aja,” keluh Rimba.
Sementara itu, Argo duduk di sofa sambil membuka laptopnya, pura-pura tidak peduli, padahal sebenarnya dia menikmati tontonan harian keluarganya ini.
“Beli cat warna normal ya! Bukan warna pelangi, bukan warna glow in the dark!” teriak Stevan ketika Rimba dan Fano melangkah keluar rumah.
“Yaaah... padahal aku udah ngincer warna biru menyala,” keluh Fano kecewa.
Rimba menepuk jidat. “Kayaknya rumah kita butuh liburan, bukan kita.”
Rimba dan Fano melangkah keluar rumah dengan wajah manyun, keduanya membawa daftar belanja cat yang diberikan Stevan. Di belakang mereka, langkah tegap Edward menyusul sambil mengenakan kacamata hitam dan jaket kulit seolah mau misi rahasia.
“Kenapa Om Edward ikut sih?” tanya Rimba curiga.
“Karena kalian berdua bukan bocah biasa. Kalian adalah tim sukses kenakalan, dan butuh pengawasan ketat,” jawab Edward santai.
“Kan kita cuma mau beli cat...” celetuk Fano sambil berbisik ke Rimba, “Kita bisa lari kan nanti?”
“Kalian bisik-bisik apa tuh?” tanya Edward tanpa menoleh, namun suara dinginnya cukup membuat keduanya langsung jalan lebih lurus dari biasanya.
Sesampainya di toko cat, Rimba mulai menunjuk beberapa pilihan warna, sebagian besar masih aneh dan mencolok.
“Kalau tangga pakai warna silver hologram kayaknya keren, deh,” ujar Rimba.
“Trus dinding warna hitam doff, biar aura misterius!” tambah Fano semangat.
Edward langsung menepuk kepala keduanya pelan. “Normal. Kalian cari warna normal. Beige, putih tulang, abu muda. Itu. Titik.”
“Tapi—” ujar Rimba.
“Nggak ada tapi.” tegas Edward.
Dengan ogah-ogahan, Rimba dan Fano akhirnya mengambil pilihan warna yang disarankan Edward. Sepanjang perjalanan pulang, keduanya terus mengeluh, namun diam-diam sudah menyusun rencana baru yang lebih “berwarna”.
“Kalau kita bikin mural wajah papa di garasi gimana?” bisik Fano.
“Wajah papa yang lagi marah, bagus tuh. Tapi jangan sekarang, tunggu minggu depan,” bisik Rimba membalas, membuat Edward hanya bisa menghela napas sambil berdoa dalam hati agar kesabaran Stevan tetap kuat seminggu ke depan.
Rumah keluarga Stevan memang tak pernah sepi, apalagi dengan dua tokoh kekacauan berjalan seperti Rimba dan Fano.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat
Sampai jumpa
Senin 16 Juni 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Narrativa generaleRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
