Di ruang makan, suasana tampak hangat dan penuh canda tawa. Marcus dengan semangat menyajikan makanan yang dibawanya, sementara Stevan membantu menyiapkan piring. Rimba duduk di samping ayahnya, tetap diam sambil memperhatikan semua orang di ruangan itu.
Adeline, istri Marcus, tampak sibuk memastikan semua orang mendapatkan makanan. "Rimba, makan yang banyak, ya. Tante masak ini khusus buat kamu," katanya dengan senyum lembut.
Rimba mengangguk kecil, tapi tatapannya tetap waspada. Ia menyadari bahwa kemungkinan pengkhianat berada di antara orang-orang yang duduk di meja ini.
Stevan memecah keheningan Rimba. "Nak, kenapa diam saja? Biasanya kamu cerewet," canda ayahnya sambil meletakkan sepotong ayam di piring Rimba.
Rimba mengangkat bahu. "Cuma lagi mikir, Pa."
Marcus menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa yang kamu pikirkan, Rimba? Jangan-jangan kamu masih kesal sama Om Edward?"
Rimba tidak langsung menjawab, hanya menatap Marcus sekilas sebelum mengalihkan pandangan. "Bukan itu, Om. Aku cuma lelah," jawabnya singkat.
"Kalau lelah, istirahatlah," ujar Marcus sambil tersenyum. "Kita semua di sini keluarga. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Ucapan Marcus membuat Rimba semakin curiga, tapi ia berusaha menyembunyikannya. "Iya, Om," jawabnya datar.
Makan malam berlanjut dengan obrolan ringan, tapi pikiran Rimba tetap gelisah. Setiap senyuman, tawa, dan gerakan kecil orang-orang di ruangan itu ia perhatikan dengan seksama.
Setelah makan malam selesai, Stevan mengajak Marcus untuk berbicara di ruang kerja. Rimba berniat mengikuti mereka, tapi langkahnya terhenti oleh Edward yang tiba-tiba memanggilnya.
"Rimba, sini sebentar. Om mau bicara," ujar Edward.
Rimba ragu, tapi akhirnya mengikuti Edward ke balkon rumah. Angin malam yang dingin menyapa mereka begitu pintu balkon terbuka.
"Ada apa, Om?" tanya Rimba, suaranya penuh kehati-hatian.
Edward menatapnya dengan serius. "Om tahu kamu curiga pada banyak orang belakangan ini. Tapi Om ingin kamu tahu, Om bukan musuhmu."
Rimba mengerutkan kening. "Kenapa Om merasa perlu bilang begitu?"
Edward menarik napas panjang. "Karena Om tahu beban yang kamu rasakan. Hidup di bawah bayang-bayang ayahmu, berusaha membuktikan dirimu, dan sekarang harus menghadapi kemungkinan pengkhianatan dari orang-orang yang kamu percaya."
Rimba menatap Edward dengan tajam. "Jadi, Om tahu apa yang sedang terjadi?"
Edward mengangguk. "Tentu saja. Om selalu memperhatikan kalian, terutama kamu. Om hanya ingin bilang, apa pun yang terjadi, Om akan berada di pihakmu."
Rimba tetap diam, mencerna kata-kata Edward. Ia tidak tahu apakah ucapan itu tulus atau hanya cara lain untuk menutupi sesuatu.
"Terima kasih, Om," jawab Rimba akhirnya, meski hatinya masih penuh keraguan.
Edward tersenyum kecil. "Kembalilah ke kamar. Jangan terlalu memikirkan hal ini sendirian. Om yakin, kebenaran akan terungkap pada waktunya."
Rimba mengangguk, lalu kembali ke dalam rumah. Namun, di dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak bisa hanya menunggu kebenaran muncul. Ia harus mengambil langkah sendiri untuk melindungi keluarganya.
Malam semakin larut, dan suasana rumah keluarga Jovetic mulai tenang. Rimba kembali ke kamarnya, tetapi bukannya tidur, ia malah duduk di meja belajarnya, memandangi tumpukan berkas yang telah disimpan sahabat-sahabatnya. Pikiran tentang siapa pengkhianat itu terus menghantuinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
