Ketika bangun dari tidur, otak Rimba langsung dipenuhi ide jahil. Dengan pelan, ia melepaskan pelukan Stevan dari pinggangnya, berusaha tidak membangunkan sang ayah.
Dengan langkah hati-hati, Rimba turun dari kasur dan keluar kamar. Matanya berbinar penuh rencana. Hari ini hari libur, yang berarti Fano pasti akan bangun lebih siang dari biasanya.
“Waktunya misi jahil,” gumam Rimba sambil menyeringai kecil.
Rimba mengendap-endap menuju kamar adiknya. Ketika pintu terbuka, terlihat Fano masih tertidur pulas, wajahnya tampak damai tanpa curiga.
Tanpa buang waktu, Rimba langsung beraksi. Setelah sukses menyetel alarm di ponsel Fano, Rimba tersenyum puas.
Adiknya itu, meskipun masih kecil, sudah diberi ponsel oleh Stevan karena sang ayah sedikit khawatir dengan keselamatannya. Namun, berbeda dengan anak-anak lain yang kecanduan gadget, Fano lebih suka bermain di luar daripada tenggelam dalam permainan di ponselnya.
Dengan santai dan penuh perhitungan, Rimba mengatur alarm Fano ke jam sebelas siang.
Ia tahu persis kelemahan adiknya: Fano paling benci terlambat sekolah dan tidak suka bangun lebih dari jam sepuluh pagi, bahkan saat hari libur. Jadi, jika Fano mendengar alarm berbunyi di jam sebelas siang, pastinya dia akan panik dan mengira hari sudah Senin!
Tapi Rimba tidak berhenti di situ.
Setelah memastikan alarm sudah diatur, Rimba melangkah ke arah rak sepatu Fano dengan wajah penuh niat jahil.
Ia mengambil sepatu sekolah kesayangan Fano, lalu menyembunyikannya di tempat yang tidak mudah ditemukan. Bukan hanya itu, ia juga sengaja menaruh beberapa pasang sepatu lainnya di atas lemari baju Fano tempat yang terlalu tinggi untuk dijangkau oleh adiknya yang masih kecil.
Sekarang, yang tersisa hanyalah sepatu biasa yang biasa digunakan untuk bermain, dan tentunya tidak sesuai dengan aturan sekolah.
“Adek pasti bakal panik sendiri,” pikir Rimba sambil menyeringai.
Setelah merasa puas dengan rencana usilnya, Rimba keluar dari kamar sang adik dengan langkah ringan.
Ia kembali ke kamar Stevan, naik ke tempat tidur, dan langsung menarik selimut.
Dengan hati puas dan senyum jahil yang masih tersisa di wajahnya, Rimba tidur dengan tenang, menantikan drama yang akan terjadi beberapa jam lagi.
Beberapa jam kemudian, alarm di kamar Fano berbunyi keras.
Matanya yang masih mengantuk langsung membelalak, menatap layar ponselnya yang menunjukkan pukul 11.00 siang.
Panik melanda.
“ASTAGA! AKU TELAT SEKOLAH!!”
Fano langsung melompat dari kasur, buru-buru mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi dengan terburu-buru. Saking paniknya, dia bahkan nyaris terpeleset saat berlari.
Selesai mandi, Fano bergegas mengenakan seragamnya.
Namun, saat akan memakai sepatu, dia baru sadar…
Sepatu sekolahnya HILANG!
Fano mencari ke bawah tempat tidur, ke rak sepatu, bahkan sampai ke bawah meja belajar. “Mana sepatuku?! Aku nggak bisa ke sekolah tanpa sepatu!”
Sambil masih diliputi kepanikan, Fano buru-buru keluar kamar dengan rambut masih setengah basah. Ia berlari ke ruang tamu, berharap bisa menemukan sang papa Stevan, tapi justru yang ia temui adalah kakaknya sendiri Rimba.
Rimba terlihat santai duduk di sofa, menonton TV sambil ngemil.
Tatapan Rimba penuh kepuasan.
Melihat ekspresi kakaknya, Fano langsung sadar sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
