spesial ulang tahun rimba

544 56 8
                                        

Hari itu, langit tampak lebih cerah dari biasanya. Angin bertiup sejuk, dan suasana rumah keluarga Jovetic terasa lebih hangat, meski tidak ada hiasan meriah atau pesta besar yang digelar. Hari ini adalah hari spesial bagi Rimba Dan Jovetic tepat tanggal 10 Juni. Ia lahir ke dunia, dan kini ia genap berusia enam belas tahun.

Meski usianya bertambah, Rimba tetaplah sosok yang sederhana dan tak suka kemewahan, apalagi sejak kepergian sang mama tercinta, Lusiana. Bagi Rimba, ulang tahun bukan lagi tentang pesta besar, melainkan tentang kebersamaan dengan orang-orang yang ia cintai. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Di ruang tengah yang hangat, hanya ada keluarga inti Stevan sang papa, Argo sang kakak sulung, dan Fano sang adik bungsu. Selain itu, hadir pula ketiga sahabat dekat Rimba yang setia sejak kecil, satu sahabat Argo yang memang sering main ke rumah, dan beberapa teman kecil Fano yang selalu meramaikan suasana. Meski jumlah mereka sedikit, tapi suasana hangat dan penuh cinta memenuhi ruangan.

Stevan, dengan kemeja santainya, menatap Rimba dengan bangga. “Papa tahu kamu nggak suka pesta besar. Jadi, papa siapkan yang sederhana saja. Tapi lihat, semua orang yang kamu sayang ada di sini,” ucapnya sambil menepuk bahu putra keduanya itu.

Rimba tersenyum, sedikit malu, tapi matanya menunjukkan betapa ia menghargai setiap momen itu. “Ini sudah cukup banget, Pa. Nggak perlu lebih. Yang penting, kita kumpul bareng,” balas Rimba.

Di meja kecil terletak kue sederhana berwarna coklat favorit Rimba. Di atasnya hanya ada lilin angka “16” yang menyala. Fano bersemangat menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara lantang, diikuti oleh yang lain. Bahkan Argo yang biasanya cuek pun ikut bernyanyi dengan senyum di wajahnya.

Setelah tiup lilin dan potong kue, Rimba duduk di antara semua orang dan mendengar ucapan dari mereka satu per satu. Tak ada hadiah mahal, hanya doa-doa yang tulus dan pelukan hangat.

“Tahun ini kamu makin dewasa, Rimba,” ucap Bagas sambil menepuk bahunya. “Tapi jangan berubah jadi tua ya.”

Rimba tertawa kecil. “Tenang aja, tua itu pilihan,” jawabnya, membuat semua orang tertawa.

Stevan menatap putranya itu lama. Dalam hati, ia bersyukur. Meski dunia mereka tak sempurna, penuh ancaman dan masa lalu yang kelam, setidaknya hari ini mereka bisa merayakan sebuah kebahagiaan kecil. Hari kelahiran seorang anak yang tak hanya membawa nama keluarga, tapi juga cahaya di tengah segala bayang kelam kehidupan mereka.

Dan di hari ulang tahun Rimba yang ke-16 itu, tak ada kembang api atau keramaian mewah, tapi ada tawa, ada cinta, dan ada harapan. Dan untuk keluarga seperti mereka, itu lebih dari cukup.

Setelah suasana ulang tahun menjadi lebih santai, tawa masih terdengar di ruang tengah rumah keluarga Jovetic. Kue sudah hampir habis, dan semua orang kini duduk melingkar sambil ngobrol santai. Di antara mereka, tiga sahabat Rimba Bagas, Guan, dan Yuda mulai membuka obrolan khas anak sekolah.

"Rim," panggil Guan sambil mengangkat alisnya iseng, "besok traktiran di sekolah, ya! Nggak bisa kabur, loh. Ini hari spesial kamu, jadi kewajiban moral tuh."

"Iya dong, udah 16 tahun gitu, masa nggak mentraktir sahabat-sahabat tercinta ini," timpal Yuda sambil memeluk pundak Rimba, membuatnya hampir terjengkang.

Bagas ikut tertawa dan menambahkan, "Minimal gorengan satu ember atau mie ayam tiga porsi buat kita bertiga. Nggak bisa ditawar."

Rimba yang tengah memegang piring berisi potongan kue langsung mengangguk cepat, senyum jahil terpampang di wajahnya. “Sahabat macam kalian kok kayak lagi demo ya. Tenang, tenang... besok gue traktir, asalkan jangan minta makanan di resto bintang lima. Kantin sekolah aja ya cukup.”

Mereka semua tertawa mendengar itu. Stevan yang duduk tidak jauh dari mereka ikut tersenyum melihat betapa hidupnya dunia Rimba. Meskipun ia tahu anaknya itu sering berada dalam bahaya karena masalah keluarga dan masa lalu yang gelap, tapi Rimba masih bisa tertawa lepas bersama orang-orang yang tulus di sekitarnya.

“Yang penting jangan sampai kamu yang ditraktir balik karena uang kamu habis duluan,” celetuk Argo dari balik gelas tehnya.

“Tenang, Abang. Aku sudah siapkan dompet tempur khusus buat traktiran besok,” jawab Rimba sambil mengangkat dompetnya tinggi-tinggi, membuat semua yang melihat tertawa lagi.

“Jangan sampe malah ngutang ya,” ledek Fano sambil nyengir.

Rimba mengangkat alis penuh gaya, “Kalau ngutang, gue ngutang ke papa dong, kan papanya kaya.”

Stevan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil terkekeh pelan. “Papa transfer nanti malam, yang penting jangan bikin keributan di kantin.”

Obrolan kecil itu terasa sangat berarti. Di balik semua ancaman dan luka yang pernah mereka alami, tawa bersama sahabat dan keluarga tetap menjadi pengingat bahwa Rimba adalah anak muda yang masih ingin menikmati masa remajanya. Dan hari itu, ulang tahunnya yang ke-16, bukan hanya dirayakan dengan sederhana tapi juga dengan kehangatan yang tak bisa dibeli.

Setelah candaan seputar traktiran mereda, suasana hangat kembali menyelimuti ruang tengah keluarga Jovetic. Di tengah kumpulan keluarga dan sahabat, Arik satu-satunya sahabat dekat Argo yang juga akrab dengan Rimba mendekat sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna biru kehijauan.

“Rim,” ucap Arik dengan senyum tenangnya. “Ini dari aku. Nggak besar sih, tapi aku tahu kamu suka pegang-pegang yang aneh-aneh pas lagi mikir. Jadi aku bikinin slime buatan sendiri. Teksturnya bisa ganti-ganti juga, ada yang lembut, ada yang lengket sedikit.”

Rimba langsung berseru gembira, “Yah, Mas Arik tahu aja! Ini favorit aku sekarang! Cocok buat diremes pas lagi stres mikirin tugas atau... musuh hidup.”

Semua tertawa. Rimba menerima slime itu dengan senyum lebar dan tanpa ragu langsung membukanya, memainkannya di tangannya sambil mengangguk puas.

“Nih, ini lebih bagus dari fidget spinner!” kata Rimba riang.

Tak lama, para sahabat kecil Fano yang juga hadir mulai mendekat malu-malu sambil membawa kado mereka masing-masing. Mereka adalah bocah-bocah sembilan tahun yang sering bermain di rumah Fano. Tiga di antaranya paling dekat dan setia menempel seperti adik-adik tambahan bagi Rimba.

Nama mereka adalah:

1. Nico Alverio Pratama , si bawel yang suka menggambar dinosaurus.

2. Rafael Dimas Aryandika  , si pemalu yang hobi membaca dan selalu bawa buku kemana-mana.

3. Ziya Nareswari Putri , satu-satunya perempuan di antara mereka, tapi juga yang paling galak dan suka melindungi dua temannya dari usilnya anak-anak lain.

Mereka memberikan hadiah sederhana gambar buatan sendiri, gantungan kunci karakter anime, dan sebuah gelang karet berwarna-warni hasil buatan tangan Ziya.

“Ini buat Kak Rimba,” ucap Nico sambil menyerahkan gambar seekor singa bertaring emas.

Rafael dengan pelan menyodorkan bukunya sambil berkata, “Aku tempelin stiker Kakak di dalam... cuma punya satu stiker Kak Rimba.”

Ziya dengan wajah sedikit memerah memberikan gelangnya. “Ini... kuat lho, bisa tahan kalau Kak Rimba mau dipakai pas berantem.”

Rimba tak bisa menahan tawa bahagianya. Ia menerima semuanya dengan hati yang benar-benar tulus.

“Wah... hadiah kalian luar biasa,” kata Rimba sambil mengacak rambut mereka satu per satu. “Terima kasih, bocil-bocil kesayanganku!”

Stevan memperhatikan momen itu dari kejauhan. Anak keduanya memang seperti magnet kebaikan bisa dicintai siapa saja dari anak kecil sampai orang dewasa. Dan di ulang tahunnya yang ke-16 ini, Rimba tak hanya mendapat slime atau gelang buatan tangan, tapi juga hadiah yang jauh lebih berharga cinta yang tulus dari orang-orang di sekelilingnya.

Dan itu, lebih dari cukup.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Selasa 10 Juni 2025

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang