92 (sisi Marcus)

544 48 13
                                        

Di sisi Marcus, ia kini telah tiba di tempat tujuan bersama keempat putranya sebuah toko buku besar di pusat kota yang cukup tenang pagi itu. Rak-rak tinggi berisi ratusan buku berdiri tegak dengan cahaya lembut dari lampu gantung yang menggantung seperti lentera pengetahuan. Marcus memandangi toko itu dengan senyum tenang, sementara keempat putranya mulai menunjukkan semangat masing-masing.

“Papi! Aku pergi dulu ambil bukunya ya!” pekik Bryan, si sulung, dengan langkah cepat menuju bagian buku ensiklopedia remaja yang kemarin sempat ia incar.

“Papi, aku kesana dulu mau lihat novelnya!” seru Indra tak mau kalah. Ia berlari kecil ke arah rak novel petualangan dan fantasi, tempat favoritnya setiap kali mereka ke toko buku.

Marcus mengangguk dengan sabar sambil mengamati dua putranya yang berlalu dengan penuh semangat.

Lalu Bobby, si anak ketiga, mendekat pelan dan menarik ujung baju ayahnya. “Hm… Papi, komiknya boleh dua gak minggu ini?” tanyanya pelan, sedikit malu-malu.

Marcus menatap Bobby dengan lembut, mengingat kembali jadwal mingguan mereka. “Minggu kemarin memang nggak beli komik?”

Bobby mengangguk cepat. “Enggak… soalnya volume barunya belum ada minggu lalu. Tapi sekarang udah datang!” jelasnya dengan mata berbinar.

Marcus terkekeh kecil lalu mengelus rambut anak ketiganya itu. “Ya sudah, khusus Bobby boleh beli dua komik kali ini.”

Bobby langsung tersenyum lebar dan memeluk erat pinggang ayahnya, seolah ingin menuangkan semua rasa senangnya. “Makasih, Papi…!”

Kemudian Marcus menoleh ke arah putra bungsunya, Kevin, yang sejak tadi diam mengamati rak dari kejauhan. Ia menghampirinya pelan, lalu bertanya, “Adek nggak mau beli buku dongeng?”

Kevin menoleh dan menggeleng sambil menahan senyum. “Dongeng itu terlalu nggak masuk akal, Pi. Aku lebih suka buku sains. Ada penjelasannya, lebih logis.”

Marcus hanya mengangguk setuju sambil terkekeh pelan. “Ya sudah, kalau begitu pilih sendiri bukunya ya.”

Kevin pun tersenyum puas, lalu berlari ringan ke arah rak buku sains anak-anak. Ia mulai membolak-balik beberapa judul tentang planet, energi, dan tubuh manusia.

Sementara itu, Marcus berdiri memandangi keempat putranya yang kini sibuk memilih buku kesukaan mereka. Di matanya, tak ada pemandangan yang lebih indah daripada melihat anak-anaknya senang dan antusias terhadap ilmu pengetahuan. Setiap hari Minggu, ia memang selalu menyempatkan diri membelikan satu buku untuk masing-masing anaknya. Dan jika mereka tidak membeli buku minggu lalu, maka minggu ini mereka berhak memilih dua.

Adeline istrinya  seringkali mencibir kebiasaan Marcus yang menurutnya “terlalu idealis”. Ia pernah berkata bahwa membeli buku terlalu sering hanyalah pemborosan karena keempat putra mereka sudah pasti akan memiliki masa depan cerah. Namun Marcus tak pernah menggubris komentar itu.

Bagi Marcus, pengetahuan adalah warisan terbesar yang bisa ia berikan pada keempat anaknya. Ia ingin mereka tumbuh cerdas, punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan tetap membumi. Ia tahu, saat anak-anaknya membaca dan menemukan istilah asing atau konsep rumit, mereka akan bertanya padanya. Dan momen-momen itu ketika mereka duduk bersama, berdiskusi, saling tertawa adalah harta yang tak tergantikan.

Dalam hati, Marcus berkata pelan pada dirinya sendiri:
Jika anak-anakku bahagia, maka aku pun bahagia. Dan jika mereka tumbuh bijak, maka aku tahu aku sudah menjadi ayah yang baik.

Setelah satu jam menunggu, keempat putra Marcus akhirnya keluar dari toko buku. Mereka terlihat puas, masing-masing memegang satu buku di tangan mereka sesuai perjanjian awal satu buku per anak. Marcus berdiri di dekat pintu masuk sambil tersenyum melihat antusiasme mereka, terlebih Kevin si bungsu yang memeluk bukunya dengan penuh semangat.

“Udah semua?” tanya Marcus lembut.

“Udah papi!” seru Bryan sambil mengangkat bukunya tinggi-tinggi.

“Ini novelnya edisi terbatas, papi!” Indra ikut menimpali dengan mata berbinar.

Marcus tertawa kecil. “Baguslah. Yuk kita ke taman hiburan, seperti yang papi janjiin.”

Namun baru saja mereka melangkah keluar dari toko, Kevin mendadak menghentikan langkahnya. Wajah mungilnya cemberut.

“Kenapa, dek?” tanya Marcus bingung.

Kevin menatap Marcus dengan mata bulatnya. “Katanya ke taman hiburan?”

“Iya, ini kita mau ke taman hiburan,” jawab Marcus sambil membuka pintu mobil.

“Bukan yang itu... Maksud aku tuh... pasar malam, papi!” protes Kevin keras, nadanya setengah merajuk.

Bryan tertawa di sampingnya. “Haha, si Kevin pengennya pasar malam, bukan taman hiburan yang beneran.”

Marcus mengerjap, lalu mengangguk pelan sambil mengusap kepala si bungsu. “Ah, papi salah tangkap ya. Ya udah, kita cari pasar malam aja ya?”

“Yay!” Kevin langsung melompat kecil dengan senang.

Akhirnya, setelah sekitar dua puluh menit menyusuri jalanan kota, Marcus menemukan pasar malam yang cukup ramai di pinggiran kota. Lampu-lampu berwarna-warni menghiasi area itu, suara musik riang berpadu dengan riuh tawa anak-anak dan aroma jajanan menggoda.

Begitu mobil berhenti, Kevin langsung membuka pintu dan melompat keluar tanpa menunggu aba-aba. “Waaaah!” serunya penuh kekaguman, menatap deretan permainan seperti komidi putar, lempar bola, dan rumah hantu.

Tak lama Bryan, Indra, dan Bobby ikut turun dari mobil. Marcus menyusul sambil membeli tiket masuk untuk mereka berlima. Ia lalu menggendong Kevin di sebelah kiri dan Bobby di sebelah kanan. Kedua anak itu tertawa bahagia di pelukannya. Sementara Bryan dan Indra, layaknya anak ayam yang mengikuti induknya, memegang erat bagian belakang kemeja sang papi agar tidak terpisah di tengah keramaian.

“Papi... aku mau main lempar bola ya!” ujar Indra.

“Aku mau naik komidi putar, papi!” sahut Kevin sambil menunjuk-nunjuk.

“Boleh... tapi gantian ya. Jangan rebutan,” jawab Marcus sabar, meski dalam hatinya merasa hangat melihat keceriaan mereka.

Malam itu menjadi malam yang penuh canda dan tawa. Mereka menikmati jagung bakar, balon tiup, dan sempat ikut bermain di beberapa wahana. Marcus bahkan sempat ikut menembak balon bersama Bryan dan memenangkan hadiah boneka kecil untuk Kevin.

Namun, di balik semua kegembiraan itu, mereka tidak tahu. Tidak tahu bahwa di saat mereka tertawa dan berlari-lari kecil menikmati malam, ibu mereka Adeline sudah tak bernyawa. Telah jatuh di lantai rumah, ditembak mati oleh orang yang dikirim oleh Stevan. Sebuah nyawa yang harus dibayar karena perbuatan yang ia mulai sendiri.

Dan Marcus... memilih diam. Karena malam itu, satu-satunya hal yang ingin ia lihat adalah senyum keempat putranya bukan bayangan kelam yang telah ia biarkan pergi selamanya.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Rabu 02 Juli 2025

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang