Selama dua minggu terakhir, suasana rumah keluarga Jovetic terasa berbeda. Rimba, yang biasanya bebas berkeliaran, kini seperti burung di dalam sangkar. Keputusan Stevan untuk membatasi pergerakan putra keduanya memang membuat kepala Rimba hampir meledak, apalagi saat tebakan Fano soal Adeline perlahan-lahan terbukti benar hanya saja, tanpa bukti kuat, Rimba seperti berteriak di ruang kosong.
Setiap kali Rimba mencoba mencari celah untuk keluar, Stevan selalu muncul layaknya bayangan yang tak bisa dihindari. “Kamu di rumah saja, Rimba. Papa nggak mau dengar kabar kamu bikin ulah atau terlibat bahaya lagi,” begitu selalu kata sang ayah dengan nada tegas tapi khawatir.
Akhirnya, satu-satunya hiburan Rimba hanyalah kedatangan ketiga sahabat setianya Bagas, Guan, dan Yuda. Mereka sudah hafal dengan kelakuan Rimba, jadi tiap kali datang, suasana rumah kembali hidup dengan suara tawa, candaan, hingga keluhan khas Rimba yang merasa dikurung seperti tahanan rumah.
“Gue rasa, lu itu tahanan VIP, Rim. Bisa main PS, makan pizza, tidur di kasur empuk, dan masih banyak yang jagain,” celetuk Yuda saat mereka asyik main di kamar.
“Tahanan apaan? Ini lebih mirip burung beo di dalam kandang emas,” balas Rimba sambil menjatuhkan tubuhnya ke kasur, mendesah panjang.
Meski tampak ceria di depan teman-temannya, di dalam hati Rimba tetap gusar. Ia tahu, Adeline bukan orang baik, tapi tanpa bukti valid, semua perkataannya dianggap omong kosong remaja yang suka cari masalah.
Rimba duduk bersila di lantai kamarnya, wajahnya serius jauh dari ekspresi jahil yang biasa ia tunjukkan. Di hadapannya, Bagas, Yuda, dan Guan terdiam mendengar nada bicara Rimba yang kali ini benar-benar berbeda.
“Aku nggak main-main, Bagas, Yuda, Guan,” ucap Rimba pelan, tapi nadanya tajam. “Buat buktiin Tante Adeline berkhianat itu nggak segampang nyari tahu siapa yang nyolong es krim di kulkas. Dia licik, geraknya halus. Semua bukti bisa dia bersihkan seolah nggak pernah ada jejak.”
Bagas menatap Rimba lekat. “Tapi Rim… kalau lu terus kejebak di rumah gini, gimana mau nyari bukti?”
“Itulah masalahnya,” Rimba mengusap wajahnya kasar. “Gue kayak tahanan yang nggak punya kuasa. Mau ngapa-ngapain harus seizin Papa. Gimana mau gerak? Gimana mau mikir jernih? Gue cuma bisa ngandelin kalian bertiga sekarang.”
Yuda yang biasanya suka bercanda pun ikut menunduk, ikut merasakan tekanan yang dialami Rimba.
“Bayangin aja,” lanjut Rimba, suaranya mulai naik, “Waktu gue di rumah sakit aja tempat yang seharusnya paling aman ada orang nyoba ngebunuh gue, terang-terangan! Di tempat umum, bro! Itu berarti mereka udah nekat. Udah yakin nggak bakal ketahuan, atau udah merasa dilindungi sama orang dalam. Dan gue curiga... Tante Adeline itu dalangnya.”
Guan akhirnya bersuara, kalem tapi penuh arti, “Kalau mereka aja berani nyerang lu waktu lu dalam kondisi lemah, berarti emang niat ngelenyapin lu. Kita harus cari celah, Rim. Pelan-pelan, tapi pasti.”
Rimba menatap mereka satu-satu, sorot matanya penuh keteguhan. “Gue nggak bakal mundur. Selama gue masih bisa mikir dan punya kalian... gue bakal cari cara. Gue janji, akan gue bongkar semua kedok Tante Adeline. Biar Papa juga lihat siapa yang selama ini dia percaya.”
Rimba menarik napas dalam, matanya menatap kosong ke arah langit-langit seolah sedang mencoba menyusun potongan-potongan puzzle dalam kepalanya.
Bagas akhirnya buka suara duluan, “Tapi Rim… alasan utamanya apa? Maksud gue, kenapa tante Adeline jadi musuh? Padahal kan selama ini keliatannya baik, ya. Om Marcus, adiknya Om Stevan aja… dia baik banget, serius orangnya.”
Guan mengangguk setuju, duduk menyilangkan kaki di ujung ranjang. “Iya, bener. Gue sering lihat cara Om Marcus mandangin Adeline tuh penuh sayang, loh. Kayak… dia tuh cinta banget sama istrinya. Bahkan kalo di acara keluarga, dia kayak rela ngelakuin apapun buat tante Adeline.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Fiksi UmumRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
