52 (rimba si matahari)

1K 93 58
                                        

Hari ini sebenarnya bukan jadwal terapi Rimba, tetapi ia tetap datang ke rumah sakit seorang diri. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya, menunjukkan bahwa ia langsung ke sini tanpa pulang lebih dulu.

Rimba hanya ingin memastikan satu hal apakah infeksi paru-parunya semakin memburuk atau mulai menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.

Sesampainya di ruangan dokter Agam, ia langsung mengutarakan rasa penasarannya. Sang dokter menatapnya dengan serius sebelum akhirnya menghela napas.

"Infeksi paru-parumu menunjukkan hasil yang semakin parah, Rimba. Kamu sering lupa minum obat, kan?" ujar dokter Agam tegas.

Rimba menggaruk belakang kepalanya, mencoba mencari alasan. "Soalnya obatnya pahit banget, Om Agam..."

Dokter Agam menggelengkan kepala. "Setiap obat memang pahit, Rimba. Tapi itu untuk kesembuhanmu."

Rimba menunduk, lalu berbisik pelan, "Kadang aku merasa selama ini terlalu menyusahkan Papa..."

Dokter Agam terdiam sejenak, menatap anak itu dengan sorot mata iba. Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Rimba sudah buru-buru berpamitan. "Kalau gitu, aku pulang dulu ya, Om Agam."

Namun, begitu membuka pintu, tubuhnya langsung menegang.

Di depan sana, berdiri sosok yang sama sekali tidak ingin ia temui dalam situasi seperti ini Stevan dan Edward.

Mata Stevan menatapnya dalam diam, tak ada amarah, hanya sorot yang sulit dijelaskan. Tatapan itu membuat Rimba semakin gugup.

Tanpa pikir panjang, ia mencoba kabur. Namun, baru saja ia berbalik, Stevan sudah lebih dulu menangkap pergelangan tangannya dengan cengkeraman kuat.

“Rimba.” Suara itu terdengar dalam dan tegas, membuat Rimba menelan ludah. Ia tahu, kali ini, ia benar-benar tidak bisa lari dari sang ayah.

Rimba tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang. Namun, Stevan tidak tertawa sama sekali.

Dengan gerakan cepat, Stevan memegang kedua bahu Rimba dengan kuat, membuat remaja itu terdiam. Mata tajam sang ayah menatapnya dalam-dalam, penuh ketegasan dan sesuatu yang sulit dijelaskan seperti luka yang disembunyikan.

“Aku tidak suka ucapanmu barusan,” suara Stevan terdengar lebih dalam dari biasanya, membuat Rimba menelan ludah.

Rimba membuka mulutnya, tetapi sebelum sempat berbicara, Stevan melanjutkan dengan suara tegas, “Jangan pernah bilang kamu anak yang menyusahkan.”

“Tapi, Pa—” ucapan Rimba terpotong.

“Senakal, sejahil, sekonyol apa pun tingkahmu, kamu tetap anakku. Kamu tetap anak dari Stevan dan Lusi,” tegas Stevan lagi.

Stevan mengeratkan genggamannya di bahu Rimba, seolah ingin memastikan putranya benar-benar mendengar dan memahami setiap kata yang ia ucapkan. “Aku tidak suka kamu bicara seperti itu,” lanjutnya dengan suara yang lebih pelan, tetapi penuh ketulusan.

Rimba terdiam. Dadanya terasa hangat, dan entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Ia tidak terbiasa melihat sisi emosional dari sang ayah seperti ini.

Edward yang menyaksikan dari samping memilih tetap diam, memberikan ruang bagi ayah dan anak itu untuk berbicara dari hati ke hati.

Stevan menarik napas panjang, menghilangkan ketegangan yang sempat muncul di antara mereka. Dengan satu tarikan lembut, ia menggenggam tangan Rimba dan berkata, “Sudahlah, daripada kita berdiam diri di sini, lebih baik kita cari takjil saja.”

Mata Rimba langsung berbinar, dan senyum lebarnya kembali muncul. “Serius, Pa? Ayo!” serunya penuh semangat.

Stevan terkekeh kecil melihat perubahan mood putranya yang begitu cepat. Tangan besarnya tetap menggenggam erat tangan Rimba saat mereka berjalan keluar dari rumah sakit. Ia juga menyadari sesuatu tubuh Rimba terasa lebih ringan dibanding sebelumnya. Mungkin ini efek dari terapi yang mulai menunjukkan hasilnya.

Saat mereka mulai menyusuri jalanan, Rimba tiba-tiba berseru, “Pa, kita ini Kristen, tapi malah berburu takjil seperti orang yang berpuasa!”

Stevan hanya tertawa kecil. “Terus kenapa? Papa bosan di markas, jadi mending ajak kamu jalan-jalan cari takjil.”

Rimba menggeleng-geleng sambil tertawa. “Ya ampun, Pa. Papa ngajak aku beli takjil bukan karena ingin berbuka puasa, tapi karena bosan? Dasar aneh!”

“Terserah,” jawab Stevan santai.

Mereka terus berjalan, menikmati suasana sore yang mulai dipenuhi aroma makanan khas berbuka. Rimba terlihat antusias melihat berbagai jajanan yang dijual, sementara Stevan hanya mengikutinya dengan tatapan hangat. Sesekali, tangan Stevan masih menepuk punggung putranya, seolah memastikan bahwa Rimba benar-benar ada di sisinya.

Bagi Stevan, hari ini bukan sekadar berburu takjil tetapi menikmati waktu berharga bersama putranya.

Rimba berjalan dengan penuh semangat, matanya berbinar melihat berbagai jajanan yang dijual di sepanjang jalan. Seolah-olah tidak ada beban di pundaknya, seolah-olah ia adalah remaja biasa yang sehat dan bebas melakukan apa pun.

Stevan mengamatinya dari samping, bibirnya melengkung tipis, tetapi jauh di dalam hatinya, ada kekhawatiran yang tidak pernah bisa ia hilangkan. Rimba selalu terlihat ceria, terlalu ceria, seakan menutupi kenyataan bahwa tubuhnya tidak sekuat yang ia tunjukkan.

Kadang, Stevan ingin menegur, ingin menyuruh Rimba untuk lebih berhati-hati, untuk tidak terlalu mengabaikan kesehatannya. Namun, ia juga tidak ingin merenggut kebahagiaan putranya.

Setiap malam, saat dunia mulai sunyi, Stevan sering duduk di ruang kerjanya, menatap foto keluarga mereka yang sudah lama tak utuh. Ia selalu berharap bahwa keesokan paginya, ia masih bisa melihat senyum cerah Rimba, masih bisa mendengar suaranya yang penuh energi, masih bisa melihatnya mengganggu orang-orang dengan kejahilannya yang khas.

Karena bagi Stevan, suara Rimba baik itu tawa, omelan, atau teriakannya saat menjahili orang adalah bukti bahwa putranya masih ada bersamanya. Dan ia tidak ingin kehilangan itu. Tidak sekarang, tidak selamanya.

Setelah selesai membeli berbagai jenis takjil bahkan sampai memborong beberapa pedagang Rimba justru tidak membawa semua makanan itu pulang. Sebaliknya, ia membagikan takjil kepada orang-orang yang membutuhkan di sepanjang jalan.

Wajahnya tampak cerah, senyumnya tak pernah luntur saat ia menyodorkan satu per satu makanan kepada anak-anak jalanan, pekerja kasar, serta orang tua yang duduk di pinggir jalan. Sesekali, ia bercanda dengan mereka, membuat suasana menjadi lebih hangat.

Dari kejauhan, Stevan dan Edward mengawasi. Edward menyilangkan tangan di dada sambil mengamati Rimba yang terlihat begitu menikmati kegiatannya. Ia kemudian berkata pelan, “Rimba itu seperti matahari di antara kedua saudaranya yang seperti bulan.”

Stevan melirik sekilas ke arah tangan kanannya, lalu mengangguk pelan. “Aku setuju.”

Matahari yang selalu bersinar terang, membawa kehangatan dan cahaya bagi orang-orang di sekitarnya. Begitulah Rimba. Ia selalu berhasil membuat suasana di rumah menjadi hidup. Jika dia sakit, rumah terasa sunyi, kehilangan keceriaan yang biasa ia tebarkan. Tidak ada lagi suara berisiknya, tidak ada lagi kejahilan yang membuat orang sebal sekaligus rindu.

Stevan menghela napas panjang. Sejujurnya, ia selalu takut. Takut kehilangan matahari kecilnya. Namun, melihat Rimba yang begitu bahagia hari ini, ia hanya bisa berharap bahwa sinar itu tidak akan pernah padam.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Jumat 21 Maret 2025

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang