Beberapa bulan terakhir, Rimba masih sibuk menjalani pengobatan dan juga menyelidiki wanita yang ia curigai sebagai musuh dalam selimut. Fokusnya tidak berubah kalau tidak soal kondisi tubuh, ya soal intrik yang mencurigakan. Tapi kali ini, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sepulang sekolah, Stevan mendadak muncul di gerbang sekolah dan mengajak Rimba pulang bersama. Rimba sempat mengernyit heran, lalu bertanya, “Lho, kenapa Adek nggak ikut? Biasanya kan jemputnya barengan.”
Stevan hanya tersenyum samar. “Nanti juga nyusul. Dia pulang sama Abang.”
Kecurigaan kecil langsung menyelinap di benak Rimba, tapi ia memilih diam. Ia mengikuti sang ayah masuk ke mobil tanpa banyak tanya.
Ternyata, mobil berhenti di sebuah restoran. Di dalamnya, duduk dua wanita yang satu sudah tua dengan rambut disanggul rapi, yang satu lagi tampak lebih muda, berpenampilan elegan, dan… terlihat sangat memperhatikan penampilan. Mata Rimba langsung menyipit. Kalau dia tak salah ingat, wanita tua itu adalah kerabat jauh dari pihak ayahnya. Tapi rasanya sudah sangat lama mereka tak pernah bertemu.
Dan anehnya, wanita tua itu sama sekali tidak menyapa Rimba. Seolah dia tidak ada. Rimba hanya menatapnya datar, lalu memilih menggenggam erat tangan besar sang ayah. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Dan benar saja. Tak lama, wanita tua itu membuka suara. “Kami ke sini karena ingin menjodohkan putri saya dengan Stevan. Lagipula, dia bisa bantu mengurus ketiga anak Stevan dengan baik.”
Seketika, udara terasa membeku. Rimba mendelik, tapi belum sempat Stevan menjawab, Rimba sudah lebih dulu bersuara.
“Aku nggak mau punya ibu baru!” kata Rimba keras, membuat suasana langsung hening.
Rimba menatap langsung ke arah wanita tua dan si perempuan muda dengan ekspresi tak gentar. “Lagi pula, aku ini udah remaja, Bu. Umurku lima belas tahun. Abangku udah delapan belas, dan adikku sembilan tahun. Selama ini Papa ngurusin kami sendiri juga masih bisa, dan kami baik-baik aja. Jadi nggak usah repot-repot nyodorin orang buat jadi ibu baru.”
Stevan hanya bisa menghela napas panjang, memandangi putranya yang kini duduk bersedekap dengan wajah tak suka. Dalam hati, ia tahu pertemuan ini memang tak akan berjalan mulus. Apalagi kalau Rimba sudah bicara… maka susah untuk menghentikannya.
Stevan langsung menoleh tajam, menatap Rimba yang kini duduk bersedekap dengan ekspresi tak terima. Suaranya terdengar tegas tapi masih berusaha tenang, “Jangan begitu, Rimba. Papa cuma mau kamu kenal dulu, bukan langsung—”
Namun ucapan itu dipotong tajam oleh suara Rimba.
“Kalau Papa setuju sama perjodohan ini,” ucap Rimba, menatap lurus pada ayahnya dengan sorot mata terluka, “aku bakal berhenti berobat. Nggak usah repot-repot lagi. Aku bakal pergi aja ke tempat Mama.”
Perkataan itu langsung membuat atmosfer meja makan membeku. Stevan menegang, kedua wanita di seberang meja saling pandang tak nyaman. Wajah sang wanita muda terlihat syok, sementara wanita tua mulai berbisik dengan nada tak senang.
Stevan menatap anak keduanya lekat-lekat. Sorot mata Rimba bukan hanya penuh penolakan, tapi juga menyimpan luka yang dalam. Luka yang mungkin belum pernah benar-benar sembuh sejak kepergian mendiang istrinya. Dan kini, Rimba dengan jelas memberi pilihan: pilih anakmu… atau pilih hidup barumu.
Seketika, Stevan menyadari, sebesar apapun niatnya, tak ada yang lebih penting dari menjaga utuh kepercayaan anak-anaknya.
Setelah melontarkan kalimat ultimatum yang mengguncang, Rimba berdiri dari kursinya dengan gerakan tegas. Ia melangkah cepat meninggalkan restoran, wajahnya penuh amarah dan kekecewaan. Langkahnya tidak ragu, bahkan tak menoleh sedikit pun ke belakang, seakan memutuskan bahwa ia tak ingin lagi mendengar penjelasan apa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
