Malam itu gelap. Langit tertutup awan tebal, dan bulan pun enggan menampakkan wajahnya. Angin berhembus pelan, membawa bisik dendam yang telah lama membara. Di depan markas Darrell, berdiri empat sosok laki-laki dengan usia yang berbeda, menyatu dalam diam yang penuh makna.
Yang berdiri paling depan adalah Stevan Kabar Jovetic, pria paruh baya dengan tatapan tajam dan rahang mengeras.
Di belakangnya berdiri Argo, di sebelah kanan, gagah dan tegap, matanya menatap lurus ke depan penuh tekad. Rimba, sang putra tengah, berada di sisi kiri dengan ekspresi serius yang menyalin aura ayahnya. Dan di tengah-tengah mereka, sang bungsu Fano, baru dua hari lalu merayakan ulang tahunnya yang ke sepuluh, memandang markas itu dengan sorot mata polos yang telah direnggut dari masa kanak-kanaknya.
Fano melirik kakaknya, lalu menarik sedikit celana milik Rimba sambil berbisik dengan nada khas anak kecil yang mencoba menyembunyikan amarahnya. “Kakak... kita akan balas dendam, kan? Karena om jelek itu udah bunuh mama...”
Rimba menoleh, tersenyum tipis walau matanya menyiratkan luka. Ia menunduk sedikit dan menepuk kepala sang adik dengan lembut, seperti ingin melindunginya dari dunia yang kejam. “Tentu saja, Dek. Dia akan mati di tangan Papa. Dan kalau bukan Papa, maka kita sendiri yang akan menghabisinya.”
Argo melangkah maju mendekati Stevan, lalu berdiri sejajar di sisi kanan ayahnya. Tanpa menoleh, ia bersuara rendah namun tegas. “Pah, biar kita bertiga saja yang membunuhnya. Dia musuh kita, bukan cuma musuh Papa.”
Stevan hanya tertawa kecil sambil mengusap surai rambut Argo. Ia menatap putranya satu per satu sebelum akhirnya menatap tajam ke arah markas yang kelam. “Papa ingin menghabisinya dengan tangan Papa sendiri. Darrell bukan cuma musuh, dia adalah pengkhianat. Dia mencoba merebut kalian, membunuh mama kalian... dan hampir membuat kita hancur.”
Argo menoleh ke ayahnya dengan raut bingung. “Tapi... bukannya dulu dia cuma ngajak aku jalan-jalan? Aku masih inget dia beliin aku es krim.”
Stevan mendesah panjang, wajahnya menjadi suram seiring kenangan pahit kembali menghampiri. “Kamu masih kecil kala itu, Abang. Kamu gak tahu... waktu itu dia mencoba menculikmu. Kalau Papa terlambat satu menit saja, kamu udah gak di sini sekarang. Setelah itu, dia niatnya mengambil mama juga. Dan kalau saat itu Papa gak sigap, mungkin Adek... gak akan lahir.”
Rimba mengepalkan tangan, napasnya terdengar berat. “Jadi... kita nunggu apa lagi, Pa? Aku udah gak sabar! Lama banget sih!”
Fano ikut berseru dengan gaya khasnya yang penuh semangat meski tubuhnya kecil. “Tahu nih! Aku udah siap buat mukul mereka satu-satu! Dan ngejek mereka juga! Mau lihat wajah Darrell waktu aku bilang dia mirip kodok tua!”
Stevan tertawa keras mendengar celetukan anak bungsunya. Bahkan dalam ketegangan, Fano selalu bisa menyelipkan sedikit tawa dalam keluarga mereka yang telah lama kehilangan kebahagiaan.
Argo menggeleng perlahan, meskipun tersenyum. “Dek, kamu ini... Tapi ya, biar bagaimanapun, malam ini milik kita.”
Stevan menarik napas panjang. Angin malam semakin kencang, membawa aroma tanah basah dan kematian yang mendekat. “Dengar baik-baik... setelah ini, tidak ada yang sama. Setelah malam ini... dendam mama kalian akan lunas. Tapi kalian harus siap. Ini bukan sekadar pertempuran ini penebusan.”
Rimba dan Argo saling bertukar pandang. Fano menggenggam erat tongkat kayu yang dibuatnya sendiri, seolah-olah itu adalah pedang suci untuk membalaskan ibunya.
Dan dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki pertama dari pasukan bayangan yang mulai bergerak mendekati markas.
Perang telah dimulai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
