Di pagi yang seharusnya cerah, Rimba justru membuat keputusan yang berbahaya. Ia menemui Adeline secara diam-diam, hanya untuk memastikan sesuatu yang selama ini mengusik pikirannya.
“Untuk apa kamu datang ke sini, Rimba?” tanya Adeline dengan nada tajam, penuh kecurigaan.
“Aku hanya ingin memastikan satu hal,” jawab Rimba tenang, namun sorot matanya tajam. “Kenapa tante menginginkan aku mati?”
Adeline menyeringai kecil. “Karena kamu bodoh. Dan karena aku yakin kamu bukan anak kandung Stevan dan Lusiana.”
Rimba terdiam sejenak, namun tetap menjaga ketenangannya. “Tante punya bukti?”
“Saat kamu lahir, ada bayi lain yang lahir di waktu yang hampir bersamaan denganmu. Kamu pikir tidak mungkin tertukar?” jawab Adeline dengan santai, seolah tuduhan itu hal biasa.
“Tapi Papa bilang aku mirip Mama,” sanggah Rimba, nada suaranya mulai meninggi.
“Itu cuma alibi. Coba lihat dirimu kamu bodoh, emosional, tidak seperti kedua saudaramu yang jenius. Kamu pikir itu tidak aneh?” sindir Adeline sinis.
Rimba mengepalkan tangan. Hatinya panas, tapi ia tahu harus tetap tenang. Dia datang untuk jawaban, bukan untuk terpancing.
Adeline menyipitkan matanya, ekspresinya berubah menjadi lebih tajam. Ia mendekat satu langkah, lalu berkata dengan suara sinis. “Seharusnya Bryan, putra sulungku, yang berdiri di sisi Argo menjaga warisan mafia milik Stevan. Bukan kamu, Rimba. Kamu terlalu bodoh untuk itu. Terlalu lembek.”
Rimba menatap lurus ke arah wanita yang dulu ia panggil tante itu. Matanya tak berkedip, suaranya lirih namun penuh tekad saat ia menjawab. “Aku anak kandung Papa. Bukan Mas Bryan yang seharusnya mendampingi abangku.”
Adeline terkekeh pelan, senyum miringnya membuat suasana semakin menusuk. “Anak kandung? Stevan mungkin membesarkanmu, tapi dia dibutakan oleh rasa bersalah. Kamu itu kelemahan.”
Rimba mengepalkan tinjunya, tapi masih menahan diri. “Kalau benar aku bukan anak Papa, kenapa Tante repot-repot ingin aku mati? Kenapa tidak abaikan saja aku?”
“Karena kamu tetap di jalur warisan itu!” bentak Adeline. “Selama kamu masih berdiri di dekat Argo dan Fano, kamu tetap ancaman. Bryan seharusnya yang diakui sebagai pewaris sah. Bukan kamu.”
Rimba menggeleng pelan. “Tante bisa benci aku sepuasnya. Tapi aku bukan orang yang akan mundur hanya karena direndahkan. Aku tidak minta dilahirkan di tengah kekacauan ini, tapi aku tidak akan membiarkan orang sepertimu menghancurkan keluargaku.”
Adeline menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca. Ada rasa muak, tapi juga sedikit kekhawatiran seolah dia tahu bahwa Rimba, meski dianggap bodoh, jauh lebih keras kepala dari yang ia duga. “Kamu akan menyesal menantangku, Rimba.”
Rimba berbalik, tidak menjawab. Tapi sebelum melangkah pergi, ia sempat berkata tanpa menoleh. “Kalau aku harus menyesal karena melindungi keluargaku, aku terima. Tapi jangan harap aku tinggal diam.”
Dan dengan itu, Rimba pergi, meninggalkan Adeline dengan amarah yang membara dan rencana yang semakin kelam.
Dalam beberapa minggu setelah pertemuan dengan Adeline, Rimba berubah. Ia lebih sering diam, pandangannya kosong, dan senyumnya jarang sekali muncul. Biasanya Rimba yang paling ramai di antara saudara-saudaranya, kini lebih banyak termenung sendirian di balkon, di pojok ruang tamu, atau bahkan di perpustakaan rumah yang dulu jarang ia kunjungi.
Stevan memperhatikan semuanya dalam diam. Ia tahu sesuatu mengganggu putra keduanya, tapi ia memilih tidak langsung bertanya. Ia ingin Rimba bercerita sendiri… namun kekhawatiran dalam hatinya tumbuh hari demi hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Ficção GeralRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
