66 (menyelidik musuh)

618 60 6
                                        

Dini hari yang masih sunyi, udara terasa dingin menusuk kulit. Rimba berdiri di depan rumah Om Marcus sambil menggandeng tangan Fano yang masih menguap-nguap karena ngantuk. Di belakang mereka berdiri Stevan dengan wajah datar khasnya, dan Argo yang menahan kantuk sambil menyender di mobil.

"Ini idemu, Rimba. Kenapa harus sepagi ini?" gumam Argo sambil mengusap wajahnya.

"Biar lebih lama di rumah Om Marcus. Gak dihitung sebagai satu hari penuh kalau masih dini hari," jawab Rimba dengan senyum penuh kepolosan yang terselip niat licik.

Stevan menggeleng pelan, "Kamu pintar ya kalau soal akal-akalan kayak gini."

"Papa kan yang ngajarin logika," celetuk Rimba santai.

Fano menguap lebar lalu berkata, "Tapi aku ngantuk banget, Kak…"

"Tenang, nanti di dalam kita bisa tidur lagi," jawab Rimba sambil mengelus kepala adiknya.

Tak lama, pintu rumah Marcus terbuka. Marcus yang masih mengenakan baju tidur tampak terkejut melihat rombongan di depan rumahnya. "Abang? Rimba? Argo? Fano? Jam segini?"

"Titip anak dua ini, ya," ucap Stevan sambil menepuk bahu adiknya.

Marcus menatap keponakan-keponakannya lalu menatap kakaknya, "Ini pasti ide Rimba lagi, kan?"

Stevan mengangguk pelan. "Tebakanmu selalu benar."

"Argo tidak ikut juga?" tanya Marcus sambil menoleh ke arah Argo yang tampak masih berjuang melawan kantuk.

Argo langsung mengangkat tangan buru-buru, "Enggak, Om. Aku cuma nganterin aja. Mau balik tidur, kuliah jam delapan."

Marcus tertawa kecil, "Pantas muka kamu kayak bantal gitu. Ya udah, hati-hati di jalan, Go."

"Siap, Om. Titip bocah-bocah ini ya," sahut Argo sambil melirik ke arah Rimba dan Fano.

Fano melambaikan tangan kecilnya. "Bye Abang!"

Sementara itu Rimba sudah melangkah masuk ke rumah Marcus dengan semangat, seperti hendak memulai misi besar. Stevan hanya bisa menarik napas panjang sambil berpesan pada Marcus, "Kalau ada yang aneh-aneh, langsung kabarin aku."

Marcus mengangguk santai, "Selama belum ngebakar rumah, semua masih aman."

Rimba yang mendengarnya dari dalam langsung berseru, "Om, itu bisa diatur lho!"

Stevan langsung memelototi putranya, tapi Marcus tertawa keras, "Ah, pagi-pagi sudah hiburan. Ayo masuk!"

Setelah mereka masuk, Marcus mempersilakan Rimba dan Fano duduk di ruang keluarga. Rumah Marcus cukup luas dan hangat, penuh dengan aroma kopi pagi yang masih tersisa di udara. Adeline belum tampak, membuat suasana terasa sedikit lebih lega bagi Rimba.

“Rimba, kamu mau kamar yang biasa atau di lantai atas?” tanya Marcus sambil menuang air minum ke gelas.

“Yang lantai atas aja, biar bisa lihat pemandangan,” jawab Rimba santai, padahal sebenarnya ia ingin punya ruang gerak lebih untuk menyusun rencana diam-diam.

Fano ikut duduk di sofa dan langsung menguap lebar. “Aku capek, tapi nanti kakak jangan tinggalin aku ya.”

Rimba menoleh dan mengangguk. “Iya, aku janji. Tapi kamu harus tetap hati-hati. Kalau ada yang mencurigakan, langsung kabarin aku.”

Marcus yang memperhatikan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. “Dua bocah ini serius amat dari pagi.”

Tak lama kemudian, Adeline muncul dari tangga dengan senyum tipis. “Pagi-pagi sudah ramai ya di rumah ini?”

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang