80 (rimba drop)

1K 84 0
                                        

Di sebuah gedung tua bekas kebakaran, sosok Rimba terlihat tengah bersembunyi di balik dinding retak, mengawasi dari kejauhan. Pandangannya tertuju pada Adeline yang sedang berbicara serius dengan seorang pria. Meskipun cukup jauh, Rimba dapat mengenali dengan jelas pria itu adalah Darrell, sosok yang selama ini berada di balik layar, memberikan dana kepada Adeline untuk melancarkan berbagai aksi busuknya. Termasuk usaha untuk membungkam Rimba sendiri, meski selalu gagal.

Minggu lalu saja, puluhan orang mengepung Fano di belakang sekolah. Bocah itu sedang sendirian saat itu, tapi untungnya ia berhasil meloloskan diri meskipun sudut bibirnya sempat terluka. Dan bukan hanya Fano yang menjadi sasaran.

Kemarin malam, giliran Stevan yang diincar. Kini, duda itu hanya bisa beristirahat di rumah sambil terus bersin-bersin musuh diketahui melemparkan bubuk merica ke arahnya. Akibatnya, hidung Stevan masih belum berhenti gatal sampai pagi ini.

Sementara itu, pagi tadi, Argo nyaris celaka. Lima mobil mengejarnya secara bersamaan, tapi beruntung Argo sedang menggunakan sepeda motor saat menuju kampus sehingga ia berhasil lolos berkat kelincahannya bermanuver.

Dan Rimba... ya, dia malah nekat datang ke tempat ini, setelah mendapat informasi dari Guan sahabat dekatnya. Guan telah membayar seseorang untuk memata-matai Adeline setiap hari, dan laporan terakhir menyebutkan bahwa wanita itu akan bertemu seseorang yang dicurigai sebagai sumber dana utamanya. Dan ternyata, itu benar Darrell.

Rimba menggenggam erat ponselnya, bersiap merekam atau bahkan bertindak jika perlu. Tapi untuk saat ini, ia harus tetap tenang. Ini bukan sekadar permainan lagi. Ini pertempuran nyata.

Adeline melirik ke sekeliling, memastikan tak ada yang memperhatikan mereka. Setelah merasa aman, ia menerima sebuah amplop tebal dari Darrel yaitu uang tambahan untuk melancarkan rencana kotor berikutnya.

"Habisi seluruh keturunan Lusiana. Termasuk Stevan. Aku tidak suka melihat dia hidup bahagia sementara aku justru menderita," desis Darrel penuh kebencian. "Putranya bahkan menghabisi keponakanku. Padahal, dialah yang seharusnya jadi pewaris seluruh kekayaanku."

Wajah Darrel terlihat muram, dingin, dan penuh amarah. Sebuah bekas luka melintang di keningnya, menjadi saksi dendam yang belum padam. Tangannya mencengkeram erat luka itu, seolah rasa sakitnya masih membekas.

"Stevan perlu membayar mahal atas ini," gumam Darrell penuh dendam.

Adeline mengangguk dengan senyum licik. "Tenang saja, aku pun menginginkan hal yang sama. Bisnis Stevan harus menjadi milik putra-putraku. Keluarganya tidak pantas mempertahankannya."

Dari kejauhan, Rimba masih membisu, menahan diri agar tidak gegabah. Ia merekam setiap kata, setiap gerakan. Ini bukan hanya bukti penting ini adalah kunci untuk menjatuhkan dua sosok yang telah menebar banyak luka dalam hidup keluarganya. Untuk saat ini, ia hanya bisa mengamati... tapi dalam benaknya, rencana balasan mulai tersusun rapi.

Dirasa cukup mengumpulkan informasi, Rimba perlahan mundur dari tempat persembunyiannya. Ia melangkah hati-hati menjauh dari gedung tua itu, memastikan tak meninggalkan jejak atau suara mencurigakan. Angin malam menusuk kulitnya, namun ia tetap fokus.

Setelah cukup jauh, Rimba berhenti di sebuah gang sepi. Ia bersandar di tembok dingin, berusaha menetralkan napasnya yang mulai memburu. Dada kirinya terasa nyeri, dan napasnya terasa berat penyakit lamanya belum benar-benar sembuh. Tapi baginya, ini semua sepadan demi melindungi keluarga.

"Aku harus cepat pulang... sebelum Abang tahu dan ngomel panjang lebar lagi," gumam Rimba lirih, memaksakan senyum kecil sambil melangkah pelan menuju tempat parkir motornya.

Rimba mengendarai motor dengan kecepatan sedang, menahan rasa nyeri di dadanya yang kian menusuk. Begitu sampai di rumah, ia langsung memarkir motor tanpa banyak suara, lalu masuk dan menjatuhkan diri di sofa ruang tamu. Napasnya memburu, wajahnya pucat dan berkeringat dingin.

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang