Satu minggu kemudian, saat Rimba tengah sibuk bekerja, tiba-tiba restoran kedatangan tiga tamu yang sangat dikenalnya Stevan, sang ayah, Argo, sang abang, dan Fano, sang adik.
Rimba yang sedang membawa nampan berisi pesanan pelanggan langsung terdiam sejenak. Ia menatap mereka dengan ekspresi kaget dan sedikit panik.
"Aduh, kenapa mereka datang ke sini?" gumam Rimba pelan.
Stevan menyeringai, sementara Argo menatap adiknya dengan penuh minat. Fano, seperti biasa, terlihat jahil dan siap mengusili Rimba kapan saja.
"Wah, jadi ini tempat kerja Rimba?" ujar Argo, melirik sekeliling restoran.
Rimba mendekat dengan langkah tergesa. "Ngapain kalian ke sini?" bisiknya kesal.
Fano menyilangkan tangan. "Papa penasaran, Abang juga penasaran, dan adek... ya, ikut aja."
Stevan duduk santai di salah satu meja. "Kebetulan kami lapar. Anak Papa kerja di restoran, masak nggak bisa traktir keluarganya sendiri?" katanya dengan nada menggoda.
Rimba memijat pelipisnya, berusaha menahan rasa kesal sekaligus malu. Para staf lain mulai melirik mereka dengan penuh rasa ingin tahu.
"Aku lagi kerja, Papa. Jangan ganggu," keluh Rimba.
Namun, Stevan justru mengangkat tangan, memanggil salah satu pelayan. "Maaf, bisa panggilkan manajer? Aku mau tanya soal kinerja anakku."
Rimba langsung membelalakkan mata. "PAPA!!"
Manajer restoran yang mendengar panggilan itu segera menghampiri dengan ekspresi ramah, tidak menyadari bahwa pria yang memanggilnya adalah ayah Rimba.
"Ya, Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya manajer dengan sopan.
Stevan menyeringai, melirik ke arah Rimba yang wajahnya sudah memerah karena malu. "Saya cuma ingin tahu, bagaimana kinerja anak saya selama bekerja di sini?"
Rimba menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Ya ampun, Papa..." gumamnya.
Manajer justru tersenyum. "Oh, Rimba? Dia pekerja yang cekatan, cepat belajar, dan sangat mudah bergaul dengan staf lain. Saya cukup terkesan dengannya."
Stevan mengangguk puas. "Bagus. Berarti tidak sia-sia dia bekerja di sini."
Argo tertawa kecil melihat wajah Rimba yang semakin kesal, sementara Fano justru bersandar santai di kursi dengan tangan terlipat di belakang kepala.
"Kalau begitu, boleh dong kita pesan makanan? Soalnya kita benar-benar lapar," ujar Argo.
Rimba akhirnya menyerah. "Iya, iya, aku pesanin makanan buat kalian. Tapi jangan macam-macam lagi!" katanya, lalu bergegas ke dapur untuk memastikan pesanan keluarganya.
Saat Rimba berlalu, Stevan menatap Argo dan Fano. "Anak itu benar-benar keras kepala, ya?"
Argo terkekeh. "Persis siapa, ya?"
Stevan hanya tersenyum kecil, sementara Fano menambahkan dengan nada jahil, "Jelas-jelas kayak Papa."
Rimba baru saja memasuki dapur ketika beberapa rekan kerjanya langsung menghampirinya. Mereka terlihat penasaran dengan kedatangan Stevan, Argo, dan Fano yang ikut mengunjungi restoran tersebut.
"Eh, itu orang-orang siapa, Rimba?" tanya salah satu staf pria yang bernama Dito, sambil menyusun bahan-bahan di meja dapur.
"Papa, abang, sama adik gue," jawab Rimba singkat sambil mulai menyiapkan pesanan. "Jangan banyak tanya ya, gue lagi sibuk."
Namun, Dito dan beberapa rekan lainnya tidak bisa menahan rasa ingin tahu. "Kenapa mereka datang ke sini? Ada apa?" tanya Dito lagi.
Rimba menghela napas. "Gak ada apa-apa. Cuma mau lihat-lihat aja, kayak orang tua yang peduli gitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
