Malam itu, Argo baru saja tiba di rumah setelah seharian sibuk dengan kegiatan kampus. Namun, begitu melangkah masuk, ia langsung merasa ada yang aneh terlalu sepi. Biasanya, suara gaduh ulah Rimba akan menyambutnya entah dari ruang tengah, dapur, atau bahkan dari kolong meja makan. Tapi kini, suasana rumah sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding.
Argo mengernyit. Ia langsung tahu, pasti ada yang tidak beres.
Tanpa pikir panjang, ia berlari ke kamar Rimba dan membuka pintunya. Kosong. Ranjang tidak terganggu, bantal masih rapi. Tidak ada jejak bahwa Rimba pernah pulang. Argo semakin panik.
Argo turun ke bawah dan langsung menghampiri para bodyguard yang berjaga di depan. “Rimba ke rumah sakit?” tanyanya cepat.
Salah satu dari mereka menggeleng pelan. “Tuan Muda Rimba, belum kembali ke rumah, Tuan Muda Argo.”
Argo mencengkram rambutnya sendiri, cemas mulai menggerogoti pikirannya. Hatinya yakin, pasti telah terjadi sesuatu pada Rimba.
Tak lama setelah Argo mencoba menghubungi ponsel Rimba dan terus berjalan mondar-mandir di ruang tamu, suara langkah kecil terdengar dari arah tangga.
Fano muncul dengan wajah cemberut, matanya sedikit sembab seolah habis menangis. “Abang…” panggilnya pelan.
Argo langsung menoleh, “Adek? Kamu kenapa? Kamu tahu Rimba di mana?”
Fano mengangguk lemah. “Tadi siang Papa pulang… aku dengar ucapan dari Papa, dia bertengkar sama Kakak. Gara-gara Papa mau dijodohin sama seorang tante, tapi Kakak nggak setuju. Dia marah banget, terus bilang nggak mau punya ibu baru...”
Argo menghela napas panjang, mendengarnya saja sudah cukup untuk membuatnya paham kenapa Rimba menghilang.
“Terus sekarang dia di mana?” tanya Argo cepat.
“Nginep di rumah Om Ed,” jawab Fano pelan sambil duduk di sofa. “Papa tadi jemput ke sana, tapi Kakak nggak mau pulang… jadi sekarang aku ditinggal sendiri di rumah sama para penjaga. Papa katanya khawatir karena Kakak masih belum sembuh total, jadi dia mau pastikan Kakak nggak kenapa-kenapa.”
Argo memejamkan mata sejenak, menahan kekesalan. “Ya Tuhan, Rimba…” gumamnya.
Fano mendongak menatap kakaknya, “Abang… Kakak nggak apa-apa, kan?”
Argo mengangguk, mencoba menenangkan, meski dalam hati ia sendiri tak sepenuhnya yakin. “Dia pasti baik-baik aja, Dek. Besok Abang ke rumah Om Ed, kita bawa pulang Rimba bareng-bareng, ya?”
Fano mengangguk pelan, walau raut khawatir tetap membayang di wajahnya.
Argo yang sudah merasa lelah akhirnya memutuskan untuk membawa Fano ke kamarnya. Dengan lembut, ia menggendong adik bungsunya yang sudah mulai mengantuk. “Ayo, tidur sama Kakak malam ini, ya. Biar kamu nggak merasa sendirian,” bisik Argo lembut.
Fano mengangguk pelan, memeluk leher Argo erat-erat seolah tak ingin ditinggal lagi. Di kamar, Argo membaringkan Fano, lalu ikut berbaring di sampingnya. Malam itu, keduanya tidur dalam diam yang penuh tanya pikiran Argo dipenuhi kekhawatiran tentang Rimba, tapi ia tahu harus tetap tenang demi adik bungsunya.
Sementara itu, di rumah Edward, suasana justru penuh tawa dan kehangatan.
Rimba duduk santai di ruang keluarga, dengan sepotong pizza besar di tangan. “Om Ed! Ini keju mozarellanya banyak banget, enak!” serunya ceria.
Edward tertawa dari seberang meja, “Ya iyalah, Rimba. Kamu kan tamu spesial.”
Di samping Edward, sang istri, Erin, tersenyum hangat sambil menuangkan minuman. “Rimba, kamu nggak perlu sungkan ya. Rumah ini juga rumah kamu.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
