67 (mengumpulkan bukti)

618 66 4
                                        

Rimba dan Fano sengaja tidak masuk sekolah hari ini. Begitu pula dengan para sepupu mereka, meski Bryan dan Indra tampak lebih sibuk karena tengah fokus belajar menghadapi ujian akhir. Sementara itu, Rimba lebih banyak menghabiskan waktu dengan Bobby, Kevin, dan tentu saja Fano.

“Kakak ke dalam dulu, haus. Mau ambil minum,” ujar Rimba sembari bangkit dari duduknya di halaman belakang.

“Ambilin aku juga, ya!” seru Kevin.

“Iya!” jawab Rimba cepat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Saat melewati dapur yang setengah terbuka, langkah Rimba terhenti. Suara bisik-bisik terdengar dari arah meja makan. Ia mendekat pelan, bersembunyi di balik dinding, dan telinganya menangkap suara yang familiar Adeline.

“Sudah aku bilang, tinggal tukar pilnya. Obatnya dia minum tiap malam, kan?” suara Adeline terdengar rendah namun jelas. “Begitu dia lemas, semua akan tampak alami. Tak akan ada yang curiga…”

Jantung Rimba berdetak kencang. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan napas. Kalimat demi kalimat yang didengarnya membuat tubuhnya kaku. Obat? Pil yang dia minum? Jadi... benar selama ini, Adeline memang berniat mencelakainya.

Rimba mundur perlahan, lalu cepat-cepat kembali ke halaman dengan napas sedikit memburu. Dalam pikirannya, satu hal kini menjadi sangat jelas ia harus lebih waspada dari sebelumnya.

Setelah beberapa menit menenangkan diri dan mengatur napas di halaman belakang, Rimba mencoba mengendalikan gejolak emosinya. Ia menatap tangannya yang sempat gemetar, lalu mengepalkan keduanya kuat-kuat. Tenang, Rimba. Kamu gak boleh gegabah. Belum saatnya... batinnya.

Dengan langkah yang dibuat setenang mungkin, Rimba kembali masuk ke dalam rumah, kali ini benar-benar menuju dapur untuk mengambil minuman. Saat melewati lorong, suara langkah kaki lain terdengar dari arah berlawanan.

Adeline.

Mereka berpapasan di tengah lorong rumah, dan Rimba langsung membentuk senyuman tipis di wajahnya. “Pagi, Tante,” ucapnya datar namun sopan.

Adeline pun membalas senyuman itu, seolah tidak ada apa-apa. “Pagi juga, Rimba. Udah main dari tadi ya?”

“Iya, nemenin sepupu-sepupu main,” jawab Rimba santai, berusaha menyembunyikan detak jantungnya yang masih belum stabil.

“Bagus, anak muda memang harus banyak gerak,” kata Adeline sambil berlalu.

Rimba hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya ke dapur. Saat menuang air minum ke gelas, pikirannya terus memutar kembali kalimat-kalimat yang tadi didengarnya. Tatapan mata Adeline yang terlihat hangat tadi pun terasa jauh berbeda sekarang.

Dengan gelas di tangan, Rimba menatap ke arah jendela. Aku gak akan tinggal diam, Tante. Kalau perlu... aku akan pasang jebakan balik.

Selesai makan malam, suasana rumah Marcus mulai sepi. Anak-anak yang lain sudah sibuk dengan aktivitas masing-masing di kamar. Rimba melirik ke arah Fano yang duduk santai sambil memakan permen karet, lalu memberi isyarat halus dengan anggukan kepala. Fano mengangguk cepat, paham maksud sang kakak.

Mereka berdua pergi ke balkon belakang, tempat yang jarang dilalui orang lain. Angin malam berhembus pelan, dan cahaya lampu dari taman membuat bayangan mereka tampak samar di dinding.

“Adek, dengerin baik-baik,” ucap Rimba serius, memandang lurus ke mata adiknya. “Tante Adeline rencanain sesuatu. Aku denger dia ditelepon orang tadi siang, katanya mereka mau ganti obatku pakai sesuatu yang bisa ngebunuh perlahan.”

Wajah Fano berubah tegang. Ia menggenggam celana pendeknya erat-erat lalu bertanya, “Terus... kita harus gimana, Kak?”

“Kamu bener-bener harus bantuin aku. Kita tukar duluan pil itu pakai yang palsu kapsul kosong atau vitamin biasa. Pil yang asli kamu pegang, simpan baik-baik. Nanti aku bakal pura-pura minum pil yang udah ditukar itu dan... kelihatan kayak mulai kena efeknya.” ujar Rimba.

Fano menelan ludah. “Kakak yakin? Itu bahaya banget...”

Rimba mengangguk mantap. “Kalau kita nggak bertindak sekarang, bisa jadi nanti semuanya terlambat. Kita harus pura-pura masuk ke perangkap mereka, biar bukti bisa kita kumpulin. Kalau mereka yakin aku kena efek pil itu, mereka pasti lengah.”

Fano menunduk, lalu mengangguk pelan. “Baik, Kak. Aku siap. Aku bakal jaga pil aslinya. Tapi janji ya... jangan sampai Kakak beneran kenapa-kenapa.”

Rimba menarik adiknya ke dalam pelukan. “Janji. Kakak bakal hati-hati. Kita harus akhiri ini, Fan. Demi keluarga.”

Fano mengangguk dalam pelukan itu, sementara pikirannya mulai menyusun rencana... dan juga ketakutan akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.

Menjelang waktu tidur, suasana kamar cukup tenang. Rimba sudah bersandar di sisi ranjang, sementara Fano dengan hati-hati membuka kotak obat milik sang kakak. Tangan mungilnya begitu cekatan, mencabut satu per satu pil asli dari dalam botol, lalu menyelipkannya ke dalam tas kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. Tas itu ia simpan di balik tumpukan pakaian dalam lacinya tempat yang dijamin tidak akan disentuh siapapun.

Rimba memperhatikan seluruh proses itu dengan seksama. Meskipun tubuhnya mulai terasa lelah, pikirannya tetap awas. Ia mencium salah satu pil yang baru saja Fano letakkan ke dalam botol obatnya. Aroma khas dari pil asli tak tercium sama sekali sekarang yang ada hanya bau vitamin biasa, agak manis dan sedikit asam. Rimba mengangguk perlahan, memastikan semuanya sesuai rencana.

Fano lalu menutup kembali botolnya, memasang label dengan hati-hati agar terlihat seperti tidak pernah dibuka. “Selesai, Kak,” bisiknya sambil menoleh.

“Bagus,” ucap Rimba pelan. “Kamu pintar banget, Dek. Kakak bangga.”

Fano tersenyum kecil, lalu memanjat ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut. “Kita harus hati-hati besok ya,” katanya, suara pelan tapi mantap.

Rimba menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua. Ia membelai rambut adiknya dengan lembut, lalu menatap langit-langit kamar yang gelap. “Kita sudah mulai langkah pertama... Semoga rencana ini berjalan lancar.”

Malam itu mereka tidur bersama, saling memberi ketenangan di tengah rencana besar yang akan mereka jalankan esok hari.

Besok malamnya, suasana makan malam di rumah Marcus terasa agak berbeda. Rimba duduk di kursinya dengan tubuh tampak lesu dan tatapan kosong, sesekali mengaduk makanan di piringnya tanpa benar-benar menyentuhnya. Fano yang duduk di sampingnya sesekali melirik kakaknya, lalu menatap ke arah Adeline yang duduk di seberang mereka.

Dari sudut mata Fano, ia melihat senyum kecil di wajah Adeline senyum yang seharusnya tidak muncul di tengah kondisi Rimba yang terlihat sakit. Tapi wanita itu cepat-cepat mengubah ekspresinya menjadi khawatir saat Marcus mulai bicara.

“Rimba, kamu kenapa? Dari tadi diam saja,” tanya Marcus dengan nada cemas.

Rimba mengangkat wajahnya perlahan. “Om, aku... kayaknya badan aku nggak enak. Mungkin obatnya nggak cocok... aku mau pulang ke rumah aja.”

Adeline langsung menyela, pura-pura panik. “Astaga, Rimba... kamu kenapa? Mau tante buatkan teh?”

Rimba menggeleng pelan. “Enggak usah, Tante. Aku cuma pengen istirahat di rumah. Dek, bisa hubungi Papa, kan?”

Fano mengangguk patuh, mengeluarkan ponsel kecilnya dan langsung menghubungi Stevan. Sambil menunggu sambungan terangkat, ia kembali melirik Adeline yang masih memasang wajah panik namun Fano tahu betul, ada kebahagiaan terselubung di sana. Bahkan dari cara Adeline menahan senyum kecilnya ketika Rimba menolak makanan, semuanya terasa salah.

Marcus menatap keponakannya dengan prihatin. “Kalau memang kamu merasa nggak enak badan, lebih baik kamu istirahat di rumah. Besok Om ajak ke dokter ya.”

“Enggak usah, Om. Di rumah juga ada dokter kok,” jawab Rimba lemah sambil bersandar ke kursinya.

Tak lama, Stevan mengangkat telepon dan Fano dengan cepat menjelaskan situasi Rimba. Setelah itu, Fano menatap kakaknya dan berkata pelan, “Papa sebentar lagi sampai, Kak.”

Rimba hanya mengangguk kecil, tapi dari sorot matanya, Fano tahu... mereka sudah selangkah lebih dekat ke tujuan mereka.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Selasa 13 Mei 2025

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang