29 (kecurigaan rimba)

1.3K 81 6
                                        

Di sebuah kamar berdominasi warna peach, empat remaja laki-laki tengah duduk lesehan. Di hadapan mereka, tumpukan kertas penuh dengan informasi tentang orang-orang yang mereka curigai sebagai pengkhianat di keluarga Jovetic.

Mereka terlibat dalam diskusi serius tentang siapa yang kemungkinan besar berkhianat di keluarga itu.

“Menurutku Tante Latasha,” ujar Bagas sambil menatap salah satu berkas.

“Instingku bilang Om Marcus,” timpal Guan, suaranya tegas.

“Aku malah curiga sama Om Edward,” Yuda menambahkan, tangannya menunjuk salah satu nama di daftar itu.

Rimba, yang sedari tadi mendengarkan, menggelengkan kepala. “Ayolah! Mereka itu orang-orang kepercayaanku. Mana mungkin mereka berkhianat?”

Guan menatap Rimba tajam. “Kau lupa? Pria tua yang sebelumnya kita interogasi, tiba-tiba saja ditembak sniper. Ada kemungkinan salah satu dari mereka yang memerintahkan.”

“Maksudku... tetap saja, rasanya tidak mungkin mereka,” Rimba bersikeras.

“Mungkin ada alasan kuat di balik pengkhianatan itu,” ujar Bagas, mencoba tetap rasional.

Rimba menarik napas panjang. “Aku belum bisa menemukan alasan kenapa salah satu dari mereka bisa menghianati keluargaku.”

Bagas menatapnya serius. “Atmijo pernah bilang, ada kemungkinan besar salah satu dari mereka punya dendam masa lalu. Kau harus ingat itu.”

Guan mengangguk. “Benar. Mungkin ada sesuatu yang dilakukan oleh kedua orangtuamu di masa lalu hingga seseorang menyimpan dendam.”

Rimba mengerutkan kening. “Aku masih heran, kenapa orang bisa sedendam itu.”

“Aku tahu rasanya,” ujar Yuda tiba-tiba, suaranya pelan tapi penuh luka. “Aku saja sering jadi incaran musuh ayahku sendiri, padahal aku tidak pernah diakui sebagai anaknya.”

Bagas mengambil salah satu berkas. “Informasi terbaru mengatakan bahwa musuh kali ini akan terus mengincarmu, Rimba. Tujuannya jelas: melemahkan ayahmu dengan cara menghabisimu.”

Rimba mendesah keras, mencoba menyingkirkan pikiran buruk itu. “Alasan kalian mencurigai mereka masih terasa kurang masuk akal. Om Marcus itu adik kandung papa, Tante Latasha adik mama, dan Om Edward sahabat dekat papa. Mereka semua punya hubungan keluarga atau persahabatan yang kuat.”

Yuda menyilangkan tangan di dadanya. “Tapi setiap pengkhianatan pasti ada alasannya, Rimba. Kadang, luka dari orang terdekat justru yang paling menyakitkan.”

Guan mengetuk-ngetuk meja kecil di dekatnya. “Kita harus menyelidiki lebih dalam. Tidak ada cara lain.”

Bagas menatap Rimba tajam. “Petunjuk kita sejauh ini hanya satu: dia adalah seseorang yang kamu sayangi. Itu saja.”

Rimba berdiri dengan wajah lesu. “Sudahlah, aku malas memikirkan ini sekarang. Petunjuknya terlalu sedikit. Lebih baik aku tidur.”

Bagas, Guan, dan Yuda saling pandang, lalu mengemasi semua berkas. Mereka tahu Rimba cukup ceroboh, jadi lebih baik dokumen itu disimpan di tempat yang lebih aman.

“Kami pamit dulu, Rimba,” ujar Bagas.

Rimba hanya mengangguk lemah, lalu merebahkan dirinya di atas kasur, membiarkan pikirannya yang kalut perlahan tertidur.

Rimba perlahan menutup matanya, berusaha beristirahat setelah hari yang melelahkan. Pintu kamarnya sengaja dibiarkan tidak terkunci, toh, ini rumah keluarga. Ia merasa aman dan percaya tidak ada ancaman di sini.

Namun, dugaannya salah. Seorang penyusup dengan langkah pelan memasuki kamar. Pistol di tangan orang itu terarah tepat ke dada Rimba, tepat ke arah jantung. Saat pelatuk hampir ditarik, tangan Rimba dengan sigap menahan pistol itu.

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang