Kadang Rimba pikir setiap ucapan orang lain ada benarnya juga. Stevan, sang papa, Lusi, sang ibu, Argo, sang abang, dan Fano, sang adik. Mereka semua jenius. Sedangkan Rimba? Tidak sama sekali. Ia seolah hanya bayangan saja dalam keluarga ini, tidak lebih dari sebuah noda yang kebetulan ada.
Di tangannya, ada hasil ulangan harian matematika. Nilainya sangat buruk, nol. Semua pertanyaan dibiarkan kosong, karena Rimba benar-benar tidak tahu harus menulis apa. Bahkan guru yang mengajar sempat berkomentar bahwa mungkin saja Rimba bukan anak kandung Stevan dan Lusi.
Ucapan itu masih terngiang di kepalanya. “Rimba, kamu yakin kamu anaknya Pak Stevan dan Bu Lusi? Harusnya kau mewarisi kecerdasan mereka, bukan begini.”Suara gurunya begitu jelas di telinga, seakan terus mengulang tanpa henti.
Rimba menundukkan kepala, menatap lembaran kertas ulangan dengan perasaan campur aduk. Seolah, dunia mengingatkannya sekali lagi bahwa dia berbeda. Bahwa dia tidak seperti Argo dan Fano yang bisa membuat bangga. Bahwa dia hanyalah bayangan dalam keluarga Jovetic.
Rimba bergumam pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam suara hujan. “Mungkin saja aku memang bukan anak kandung mereka...”
Seharusnya, seorang anak mewarisi kepintaran orang tuanya, bukan? Tapi kenapa dia tidak sama sekali? Tidak ada setitik pun kecerdasan dalam dirinya. Bahkan sahabat-sahabatnya, yang pintar semua, malah mau berteman dengannya yang bodoh.
Tatapannya teralih ke lemari kaca, tempat jejeran piala hasil tanding basketnya terpajang. Sejak kecil, Rimba memang berbakat dalam basket, bahkan Stevan sengaja membangun lapangan basket di halaman rumah untuk dirinya. Namun, apa gunanya? Basket tidak membuatnya lebih pintar. Tidak membuatnya sejajar dengan keluarganya.
Tetap saja, Rimba ingin seperti sang abang, Argo, yang mampu berkompetisi di tingkat dunia mewakili Indonesia dalam matematika atau sains. Atau seperti Fano, adik kecilnya, yang bulan lalu mewakili Kota Surabaya dalam olimpiade fisika di Jakarta.
Sejak Fano menunjukkan kejeniusannya, Rimba sadar diri. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba, dia tidak akan pernah seperti Argo atau Fano. Rimba akan tetap menjadi bayangan di keluarga Jovetic. Tidak berguna, tidak berarti, hanya tempelan.
Rimba memangku dagu, menatap pemandangan di luar jendela yang sedang diguyur hujan. Hatinya terasa berat. Nafasnya pun terasa menyakitkan. “Mungkin... alasan musuh mengincar kepalaku adalah karena aku berbeda dengan kedua saudaraku. Kehadiranku perlu dihilangkan agar Papa tidak malu punya anak sepertiku...”
Rimba tersenyum miris, lalu tertawa kecil, meskipun matanya memanas. “Lucu, ya... bahkan musuh Papa pun merasa aku tidak pantas ada di dunia ini. Mereka ingin aku mati, dan kupikir... mungkin itu memang keputusan yang terbaik. Kalau aku pergi, tidak akan ada yang membanding-bandingkanku lagi. Tidak akan ada yang menganggapku sebagai aib keluarga. Dan mungkin, Papa juga akan lebih bahagia tanpa aku...”
Tangan Rimba mengepal, menggenggam hasil ulangan yang penuh coretan merah. “Aku capek... Aku benar-benar capek...”
Tanpa Rimba tahu, di depan pintu, Stevan berdiri terpaku. Duda itu membawa nampan berisi susu hangat dan kue kesukaan Rimba, karena ia tahu betul bahwa anak tengahnya itu selalu lapar saat hujan turun. Sebelumnya, Stevan sempat masuk ke kamar Argo dan Fano. Si bungsu sudah tertidur dengan buku menutupi wajahnya, sementara Argo belum kembali dari kampus.
Namun, langkah Stevan terhenti saat mendengar suara lirih Rimba dari dalam kamar. Ada sesuatu dalam nada bicara putranya yang membuat dadanya terasa sesak keputusasaan yang begitu kentara, seolah-olah Rimba benar-benar percaya bahwa dunia tidak membutuhkannya.
Stevan merasakan dadanya sesak. Tangannya yang memegang nampan sedikit bergetar, nyaris terlepas dari genggamannya. Kata-kata itu... apa yang baru saja didengarnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
General FictionRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
