83 (akhirnya)

462 41 3
                                        

Setelah menunggu selama beberapa jam yang terasa sangat panjang bagi Rimba meski sebenarnya prosesnya dipercepat karena campur tangan langsung Stevan akhirnya hasil tes DNA keluar.

Stevan membuka amplop putih tebal itu dengan tatapan serius. Di sisi lain, Rimba duduk dengan tangan mengatup gelisah, sementara Reiner berdiri menyender di dinding dengan wajah santai, seolah tak terlalu peduli.

Stevan membaca hasilnya pelan-pelan. Alisnya mengernyit sejenak saat membaca bagian pertama:

"Tes DNA antara Stevan Kabar Jovetic dan Reiner Alvino Mahesa: Tidak cocok."

Stevan langsung menutup lembar pertama dan membuka lembar berikutnya.

"Tes DNA antara Stevan Kabar Jovetic dan Rimba Dan Jovetic: 99,99% kecocokan biologis. Subjek merupakan anak kandung."

Stevan mendongak, menatap Reiner terlebih dahulu, lalu beralih pada Rimba yang kini membeku di tempat duduknya.

“Kamu… anakku, Rimba,” kata Stevan pelan, tapi dengan penuh kelegaan dan keyakinan. “Sejak awal Papa tahu. Tapi kamu butuh pembuktian sendiri.”

Rimba menunduk, menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Entah itu rasa lega, haru, atau mungkin marah karena dirinya sempat meragukan. “Jadi… aku benar-benar anak Papa,” bisiknya.

Stevan menghampiri, menepuk kepala Rimba dengan lembut. “Dari dulu, dari kamu pertama kali lahir… Kamu anak Papa. Meski kadang berisik, banyak drama, suka ngomel, suka tidur di sofa, bahkan maksa pelihara ular dulu waktu kecil…” Stevan tersenyum kecil. “Itu semua kamu, Rimba. Dan kamu punya darah Lusiana dan aku. Tak perlu ragukan itu.”

Rimba menatap wajah ayahnya, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuannya dengan Adeline, ia benar-benar merasa tenang. Bahwa dirinya tidak ditukar, tidak digantikan, tidak salah tempat. Ia memang bagian dari keluarga itu.

Sementara itu, Reiner yang sedari tadi hanya menonton, akhirnya tertawa kecil. “Yah, sepertinya aku nggak punya ayah kaya raya secara instan,” ujarnya santai. “Tapi terima kasih sudah jujur. Gak banyak orang yang berani kayak kamu, Rimba.”

Rimba tersenyum padanya. “Maaf udah tarik kamu ke masalah aneh kayak gini.”

“Gak apa-apa. Jadi cerita unik buat hidupku,” jawab Reiner sambil beranjak pergi. “Eh, jangan lupa traktiran dua kali. Aku gak lupa janji.”

Rimba tertawa lemah. “Iya, iya. Aku ingat kok.”

Setelah Reiner pergi, Stevan menepuk bahu Rimba lagi dan menariknya dalam pelukan erat. “Mulai sekarang, jangan pernah ragukan siapa dirimu. Kamu bukan cuma anak Papa. Kamu juga anak dari cinta… antara aku dan Lusiana.”

Rimba mengangguk pelan di pelukan sang ayah. Di momen itu, ia merasa utuh kembali sebagai Rimba Dan Jovetic, anak dari Stevan dan Lusiana.

Di sebuah kafe sederhana dekat sekolah, beberapa hari setelah hasil tes DNA keluar, Rimba akhirnya menepati janjinya untuk mentraktir Reiner. Mereka duduk di pojok ruangan, di meja dekat jendela, ditemani dua gelas coklat panas dan sepiring besar camilan.

Reiner tampak lebih santai hari itu. Ia mengenakan hoodie gelap dan celana jeans, sementara Rimba tampil dengan kemeja abu muda dan jaket sekolah yang digulung di lengan.

Sebelum perbincangan dimulai lebih dalam, Stevan yang mengantar mereka sempat pamit pulang karena ada urusan bisnis mendadak.

“Papa pulang duluan ya, Nak,” ucap Stevan sembari membungkuk sedikit dan mencium pipi Rimba.

Rimba tertawa kecil. “Okey deh, Papa! Nanti kalo udah selesai aku kabarin ya. Hati-hati di jalan.”

Stevan mengangguk pada Reiner. “Titip anak saya, ya.”

Reiner tersenyum dan mengangguk sopan. “Siap, Om.”

Begitu Stevan pergi, suasana berubah menjadi lebih santai.

Rimba menyandarkan punggungnya dan menghela napas lega. “Akhirnya bisa nafas dikit. Papa tuh kalau di dekat-dekat bawaannya formal terus. Tapi ya... dia baik sih. Cuma kadang galak banget, apalagi kalau aku bikin masalah.”

Reiner tertawa pelan. “Galak ya? Kayak abangku juga sih. Dua-duanya udah nikah sekarang, jadi aku tinggal sendirian.”

“Serius?” Rimba mengerutkan kening. “Orang tua lo?”

Reiner menunduk sejenak sebelum tersenyum datar. “Udah nggak ada. Meninggal waktu aku SMP. Makanya, aku mutusin buat nggak lanjut sekolah. Nggak mau nyusahin abang-abangku. Mereka juga udah repot urus keluarga masing-masing.”

Rimba terdiam sesaat. Tatapannya mengarah ke gelas coklatnya sebelum kemudian menatap Reiner tajam. “Lo... gak sekolah lagi?” tanyanya pelan.

Reiner mengangguk, sedikit heran dengan ekspresi Rimba yang tiba-tiba berubah serius.

Tanpa berkata banyak, Rimba langsung merogoh saku, mengeluarkan ponsel, dan menekan nomor sang ayah.

Reiner buru-buru menoleh. “Eh... lo mau ngapain?”

“Telepon Papa. Bentar.” jawab Rimba.

Sambungan terangkat.

“Iya, Nak?” suara Stevan terdengar di seberang.

“Papa, Reiner belum sekolah. Gak lanjut karena gak mau nyusahin abangnya. Bisa gak... dia sekolah di tempat aku aja? Nanti semua biaya biar Papa yang urus, ya?” ujar Rimba.

Hening sesaat di ujung sana. Reiner melongo, tak menyangka Rimba akan bertindak secepat itu.

“Boleh,” jawab Stevan mantap. “Kalau kamu percaya dia anak baik, Papa percaya juga. Nanti Papa kirim orang buat bantu urus administrasinya. Tapi bilang dulu ke dia, ya. Jangan sampai dia merasa dipaksa.”

“Oke!” Rimba tersenyum senang. “Makasih, Papa!”

Setelah menutup telepon, Rimba menoleh ke Reiner yang masih melongo.

“Lo kenapa diem aja?” tanya Rimba sambil nyengir.

Reiner menggeleng pelan. “Lo tuh... serius banget ya orangnya?”

Rimba tertawa. “Gue tuh gak bisa liat orang niat tapi kehalangin keadaan. Gue tahu rasanya.”

Reiner menunduk sesaat, lalu mengangguk dengan mata yang mulai memerah sedikit. “Makasih, ya... Gue gak nyangka lo bakal peduli segitunya sama orang yang baru lo kenal.”

“Mulai sekarang, lo bukan orang asing lagi. Lo temen gue. Temen itu ya bantuin, bukan ditinggalin.” ujar Rimba.

Reiner tersenyum tulus, dan di momen itu, dua remaja yang tadinya tak saling kenal kini seperti sudah bersaudara sejak lama.

“Kalau gitu, gue traktir lo minggu depan,” ujar Reiner.

“Siap! Tapi harus ditambah dessert, ya!” jawab Rimba, tertawa keras.

Mereka pun melanjutkan hari itu dengan tawa ringan, meninggalkan beban masing-masing untuk sementara. Dan tanpa mereka sadari, sebuah awal baru telah dimulai.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Sabtu 21 Juni 2025

Rimba (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang