87 (rencana)

488 57 23
                                        

Permainan Stevan mulai menemui titik jengkel baginya. Ia tahu Adeline tampak begitu senang, seolah-olah Rimba tak pernah lagi ada di tengah keluarga mereka. Sikap dingin dan acuh Adeline membuat Stevan semakin geram. Rimba yang hilang dari kehidupan sehari-hari mereka justru dianggap sebagai kemenangan oleh Adeline.

Merasa tak bisa tinggal diam, Stevan memaksa Edward untuk segera mencari data mengenai Darrell, sekaligus bukti-bukti kejahatan yang bisa menghancurkan Adeline sendiri. Ia yakin dengan informasi itu, ia bisa memperkuat posisinya dan mengalahkan Darrel serta Adeline.

Di sisi lain, Marcus, suami Adeline sekaligus adik kandung Stevan, mulai merasa heran dengan sikap kakaknya. Marcus merasa Stevan kali ini terlalu mudah percaya dan terlalu cepat mengambil keputusan, berbeda dengan biasanya yang selalu berhati-hati dan penuh perhitungan.

Suatu malam, di ruang kerja Stevan, Marcus membuka pembicaraan dengan nada penuh tanda tanya.

“Bang, aku heran. Biasanya kau selalu hati-hati, tapi sekarang kau langsung percaya begitu saja. Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Marcus dengan serius.

Stevan menghela napas panjang, menatap Marcus dengan mata penuh tekad.

“Marcus, kau tidak tahu seberapa jauh Adeline bisa bermain. Aku punya rencana, dan aku tidak mau terus-terusan kalah dalam permainan ini. Aku harus lakukan ini demi Rimba dan keluargaku,” jawab Stevan tegas.

Marcus mengangguk pelan, masih menyimpan keraguan, “Baiklah, aku percaya padamu. Tapi pastikan kau benar-benar tahu apa yang kau hadapi. Ini bukan hanya soal keluarga, tapi hidup dan mati.”

Percakapan itu menandai titik balik perjuangan Stevan. Dia sadar bahwa permainan ini bukan hanya soal rasa percaya, tapi juga strategi dan keberanian untuk menghadapi musuh dalam bayang-bayang keluarga sendiri.

Stevan menatap tajam ke arah Marcus, kemudian berkata, “Aku tahu risikonya, Marcus. Tapi aku tak akan biarkan Adeline dan Darrell terus menguasai permainan ini. Mereka harus tahu, aku juga punya langkah yang tak terduga.”

Marcus mengernyit, masih sedikit ragu. “Apa langkahmu selanjutnya, Bang?”

Stevan menarik nafas dalam-dalam, lalu menjelaskan dengan suara berat, “Aku sudah menggerakkan Edward untuk mengumpulkan bukti-bukti kuat tentang kejahatan Adeline dan Darrell. Data itu akan aku gunakan untuk menjatuhkan mereka dari dalam. Tapi yang paling penting, aku harus pastikan Rimba aman, karena pertarungan ini bukan hanya soal bisnis atau kekuasaan, tapi juga soal keluarga.”

Marcus mengangguk, kini sedikit lebih yakin. “Aku paham. Kalau begitu, aku akan bantu kau sebisa mungkin. Tapi ingat, kita harus hati-hati. Adeline bukan orang yang mudah menyerah.”

Stevan tersenyum tipis, “Itulah kenapa aku tak boleh lengah. Aku harus main dengan sabar, tapi juga tegas. Ini tentang masa depan keluarga kita.”

Marcus melirik ke arah pintu sejenak, lalu kembali menatap Stevan, “Kalau kau butuh sesuatu, bilang saja. Kita ini keluarga, meski terkadang jalan kita berbeda.”

Stevan mengangguk penuh arti, “Terima kasih, Marcus. Dukunganmu sangat berarti.”

Percakapan mereka menguatkan tekad Stevan untuk melangkah lebih jauh dalam rencana yang telah disusun. Dalam diam, ia tahu pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, dan dia siap menghadapi segala konsekuensi demi melindungi Rimba dan keluarganya.

Beberapa hari kemudian, Stevan dan Edward semakin intens bekerja mengumpulkan bukti. Edward yang piawai dalam dunia digital, berhasil menyusup ke jaringan Darrell dan Adeline, mengumpulkan rekaman transaksi gelap dan percakapan rahasia yang bisa menjatuhkan mereka.

Sementara itu, Stevan selalu memastikan Rimba dan kedua putranya, Argo dan Fano, merasa aman. Meski situasi semakin tegang, Stevan berusaha menjaga kehangatan keluarga agar tidak retak oleh bisikan dan intrik dari luar.

Di suatu sore yang tenang, Stevan berkumpul dengan ketiga anaknya di ruang tamu apartemen. Ia menatap mereka satu per satu dan berkata dengan suara tegas namun penuh kasih:

“Kalian harus tahu, keluarga ini adalah kekuatan terbesar kita. Tidak ada yang boleh merusak itu, apalagi mereka yang berniat jahat terhadap kita. Papa akan melakukan apa saja demi menjaga kalian semua.”

Rimba yang selama ini merasa beban berat di pundaknya, merasakan kelegaan dalam kalimat sang papa. Ia mengangguk pelan dan berkata, “Papa, kami percaya sama papa. Kita pasti bisa lewati ini bersama.”

Argo dan Fano ikut mengangguk, membentuk lingkaran kecil penuh kehangatan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Di luar apartemen, bayang-bayang pertempuran masih menunggu. Tapi di dalam hati mereka, ada harapan yang terus menyala, bahwa keluarga ini akan bertahan, bersatu, dan menang.

Malam itu, setelah ketegangan seharian, Stevan memutuskan untuk mengadakan pertemuan kecil di ruang tengah apartemen. Ia mengajak Rimba, Argo, Fano, dan Reiner duduk bersama, membicarakan langkah-langkah yang harus diambil ke depan.

“Ini bukan hanya soal bertahan,” kata Stevan sambil menatap putra-putranya, “Kita harus mulai mengatur strategi. Darrell dan Adeline sudah terlalu lama menjadi ancaman. Sekarang saatnya kita balikkan keadaan.”

Rimba yang biasanya pendiam, mengangguk penuh semangat, “Aku siap, papa. Aku ingin ikut berjuang, bukan cuma sembunyi.”

Argo menambahkan, “Kita harus bersatu, jangan biarkan mereka memecah belah keluarga kita.”

Fano yang masih kecil tapi cerdas, dengan polos berkata, “Aku juga mau bantu, meski aku belum tahu caranya.”

Stevan tersenyum lembut, “Setiap dari kalian punya peran penting. Aku akan mengatur segalanya agar kalian bisa aman tapi tetap bisa berkontribusi.”

Reiner yang duduk di samping mereka, untuk pertama kalinya merasa benar-benar diterima dalam keluarga ini. Ia menatap Stevan penuh hormat, “Terima kasih sudah memberi aku tempat di sini.”

Suasana hangat memenuhi ruangan itu, menyelimuti mereka dengan rasa kebersamaan dan harapan. Di luar sana, badai terus mengancam, tapi di dalam rumah ini, mereka menemukan kekuatan untuk melawannya bersama-sama.

Hari-hari berat masih menunggu, tapi keluarga ini sudah siap menghadapi apapun yang datang.

Beberapa hari berlalu, suasana di apartemen mulai terasa berbeda. Meski masalah yang menghadang semakin berat, tapi kehangatan keluarga dan persahabatan yang kuat menjadi benteng yang tak tergoyahkan.

Stevan semakin intensif mengatur strategi, menghubungi beberapa orang terpercaya untuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Darrell dan Adeline. Ia juga tak lupa memeriksa kesehatan Rimba secara diam-diam dengan dokter yang dipanggil ke apartemen, memastikan sang putra kedua selalu dalam kondisi terbaik.

Sementara itu, Rimba mulai berlatih lebih keras, tidak hanya fisik tapi juga mental. Argo membantu membimbingnya, sementara Fano menjadi penyemangat di setiap waktu. Reiner, meski baru bergabung, menunjukkan kemampuan dan loyalitasnya yang luar biasa, membuatnya semakin diterima sebagai bagian dari keluarga.

Suatu malam, saat mereka berkumpul di ruang tengah, Stevan menatap putra-putranya dengan serius, “Kita sudah punya cukup bukti untuk membongkar kejahatan mereka. Tapi kita harus sabar dan tepat waktu.”

Rimba mengangguk, “Aku tidak ingin ada lagi yang terluka, Papa. Aku ingin kita bebas dari bayang-bayang mereka.”

Dengan tekad yang kuat dan ikatan yang makin erat, mereka bersiap menghadapi babak baru dalam pertarungan hidup ini. Sebuah babak yang bukan hanya tentang bertahan, tapi juga tentang membuktikan kebenaran dan menjaga keluarga tetap utuh.

Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis

Sampai jumpa

Kamis 26 Juni 2025

Rimba (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang