Di kediaman Marcus, suasana tampak tenang dari luar. Namun di dalam hati sang pemilik rumah, pergolakan tak henti terjadi. Ia duduk di balik jendela besar ruang tamu, memperhatikan istrinya, Adeline, yang tengah tertawa ceria bersama keempat putra mereka di halaman belakang.
Marcus menatap mereka dalam diam. Tawa anak-anaknya, terutama Bryan, terasa begitu kontras dengan kenyataan pahit yang telah ia ketahui. Meski dirinya sudah mencoba memberitahu keempat anaknya tentang kejahatan Adeline, istrinya sendiri tetap saja mereka seolah belum sepenuhnya percaya. Ada kebimbangan di mata mereka, ada pertanyaan yang belum tuntas terjawab.
Terutama Bryan.
Bryan, anak sulung mereka, sempat benar-benar mempercayai ucapan Adeline bahwa dirinya dilukai oleh Rimba. Padahal Marcus tahu, itu hanyalah akal bulus Adeline. Sebuah permainan kotor untuk menjatuhkan keponakan mereka yang tak pernah benar-benar diterima oleh Adeline sejak awal.
Marcus menghela napas berat. “Kenapa, Line...” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Ia tahu, wanita itu sangat pandai memutarbalikkan fakta, bahkan mampu membuat anak-anak mereka berdiri di sisinya tanpa sadar mereka sedang dimanipulasi.
Marcus menatap Bryan yang kini tengah tersenyum kecil saat Adeline mengusap rambutnya.
“Andai kau tahu kebenaran, Nak... Kau akan membenci semua kebohongan yang selama ini kau bela mati-matian,” batin Marcus dengan getir.
Namun ia tidak akan berhenti. Marcus telah memutuskan untuk tetap mengungkap semua kejahatan Adeline walau harus berhadapan dengan keluarganya sendiri. Karena ia tahu, jika dibiarkan, kegelapan itu hanya akan semakin meluas… dan menghancurkan lebih banyak orang yang tidak bersalah. Termasuk Rimba. Termasuk anak-anak mereka sendiri.
Tiba-tiba, suasana hening di rumah Marcus buyar oleh suara dering telepon yang memecah keheningan. Marcus menoleh, melihat nama Stevan terpampang di layar. Dengan alis sedikit mengernyit, ia segera mengangkatnya.
"Halo, ada apa bang?” tanya Marcus dengan nada pelan, berjalan menjauh dari jendela agar tidak terdengar oleh Adeline maupun anak-anak mereka.
Suara dari seberang terdengar dingin dan mantap.
"Kuharap dalam waktu dekat kau bawa keempat anakmu pergi dari rumah itu," ujar Stevan datar namun sarat makna.
Marcus menegang. “Abang... akan membunuh istriku?” tanyanya tanpa basa-basi, suaranya turun setengah berbisik.
Namun Stevan tak langsung menjawab. Beberapa detik hening sebelum suara rendah itu menjawab,
“Tidak. Aku tidak sebodoh itu. Tapi kurasa… akan sedikit bermain-main saja. Aku ingin dia tahu, bahwa permainannya akan berakhir dengan cara yang tidak pernah dia duga.”
Marcus menghela napas panjang. Dia tahu, Stevan bukan pria yang berbicara sembarangan. Jika dia bilang bermain, artinya adeline akan menghadapi konsekuensi berat, meski bukan dengan kematian.
“Mengenai Darrell… bagaimana?” tanya Marcus kemudian, nada suaranya berubah menjadi lebih serius.
“Tentang dia?” suara Stevan kali ini berubah dingin, menusuk. “Tentu saja akan kuhabisi… dengan tanganku sendiri. Karena istriku tiada karena dia. Dan sekarang, dia mengincar anak-anakku. Termasuk Rimba.”
Marcus terdiam. Ada kepedihan dan amarah yang menyatu dalam suara kakaknya. Amarah seorang suami yang kehilangan, dan amarah seorang ayah yang anaknya hendak direnggut.
“Baiklah bang…” ucap Marcus akhirnya, tenang namun tegas. “Aku akan pikirkan cara agar anak-anak keluar dari rumah sementara waktu. Dan aku… akan awasi Adeline dari dekat.”
“Bagus,” jawab Stevan singkat, sebelum sambungan terputus.
Marcus menatap layar ponsel yang kini gelap. Tatapannya berubah tajam. “Kau pikir kau menang, Line… Tapi permainan sesungguhnya baru saja dimulai.”
“Papi!” teriak Kevin sambil berlari kecil ke arah Marcus, membawa mainan robot yang hampir jatuh dari tangannya.
Marcus, yang masih terpaku usai percakapan dengan Stevan, tersentak dari lamunannya. Ia segera menoleh dan membungkuk menyambut Kevin, mengangkat bocah bungsunya ke pelukan.
“Ada apa, Kevin?” tanya Marcus dengan senyum yang ia paksakan sehangat mungkin.
“Robot Kevin rusak, papi bisa betulin?” tanya Kevin polos, menatap ayahnya dengan mata bulat penuh harap.
Marcus mengangguk pelan, “Papi coba ya.”
Sementara itu, Adeline yang duduk tak jauh dari situ, tersenyum tipis, memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Senyum itu bagi Marcus seperti topeng. Manis di luar, tapi menyimpan duri di baliknya.
Marcus duduk bersama Kevin, pura-pura memperbaiki mainan yang rusak, sementara pikirannya terus terbayang akan rencana Stevan dan bahaya yang mengintai dari balik wajah istrinya sendiri. “Sampai kapan aku harus berpura-pura seperti ini…” batinnya, sambil melirik ke arah Adeline yang tengah bercengkerama dengan anak-anak lain.
“Demi anak-anak... Aku harus tetap tenang.” lanjut Marcus dalam hati.
Namun satu hal yang kini ia tahu pasti yaitu waktu untuk berpura-pura akan segera berakhir. Dan ketika saatnya tiba, ia akan memilih sisi yang benar meskipun itu berarti melawan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati.
Di sisi lain, di apartemen yang menjadi tempat persembunyian sementara Rimba, suasana hangat justru terasa berbeda. Di ruang tamu yang sederhana namun nyaman itu, Rimba sedang bersandar santai di sofa sambil memainkan remote televisi. Beberapa bungkus camilan berserakan di meja.
Tiba-tiba, seseorang datang dari balik dapur kecil. Stevan, sang ayah, muncul dengan membawa dua cangkir susu hangat. “Untuk putra ganteng Papa,” ujarnya sembari menyodorkan cangkir ke tangan Rimba.
“Wah, makasih Papa!” seru Rimba girang. Ia mengambil cangkir itu, meniup permukaan susu yang masih hangat, lalu meminumnya perlahan. “Pas banget, lagi pengen yang manis-manis.”
Stevan duduk di samping putranya dan memandang wajah Rimba yang kini tampak lebih segar dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Ada tawa di sudut bibirnya, ada keceriaan yang perlahan kembali meski badai belum benar-benar berlalu.
“Papa masih ingat nggak waktu aku kecil suka ngumpet di kolong meja makan?” tanya Rimba tiba-tiba.
Stevan tertawa, “Ingat banget! Kamu tuh kayak tikus kecil. Kalau disuruh belajar, langsung menghilang dari pandangan. Mama kamu sampai stres nyariin.”
“Tapi sekarang aku malah disembunyiin beneran ya,” gumam Rimba, sedikit pelan.
Suasana sempat hening sesaat, hingga tiba-tiba Stevan menyergap perut Rimba dengan kedua tangannya.
“Papaaa! Hahaha aduh! Jangan di HAHHA stop stop!!” Rimba terbahak keras karena geli. Ia terguling ke samping sofa, mencoba melepaskan diri dari serangan gelitik sang ayah.
Stevan ikut tertawa, wajahnya terlihat sangat lega melihat tawa Rimba kembali terdengar.
“Udah lama nggak denger kamu ketawa kayak gini,” kata Stevan pelan sambil merapikan rambut Rimba yang berantakan karena tertawa berlebihan.
Rimba menatap ayahnya sebentar, lalu bersandar di bahunya. “Papa... aku kadang capek, tahu nggak? Nggak ngerti kenapa harus begini. Aku cuma anak biasa, Papa. Aku juga pengen sekolah, main, nggak mikir soal siapa yang jahat, siapa yang nyakitin siapa...”
Stevan mengusap kepala Rimba dengan lembut. “Papa tahu... Papa ngerti. Tapi kamu bukan anak biasa, Rimba. Kamu istimewa. Dan orang istimewa kadang harus hadapi hal yang lebih besar dari usianya. Tapi, Papa janji Papa bakal lindungi kamu sampai akhir.”
Rimba tersenyum, walau matanya sedikit berkaca-kaca. “Makasih Papa... Kalau nggak ada Papa, mungkin aku udah nyerah dari dulu.”
“Dan kalau nggak ada kamu,” bisik Stevan sambil memeluk Rimba lebih erat, “Papa juga nggak akan sekuat ini.”
Siang itu, meski dunia luar penuh intrik dan ancaman, tapi di dalam apartemen kecil itu, ada cinta yang cukup untuk membuat satu remaja dan satu ayah bisa bertahan.
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar dan kritikan agar penulis semakin bersemangat menulis
Sampai jumpa
Sabtu 28 Juni 2025
KAMU SEDANG MEMBACA
Rimba (END)
Ficción GeneralRimba dan jovetic sosok anak tengah yang menjadi pelipur lara bagi keluarganya. Remaja yang setiap hari akan membuat sang ayah menghela nafas kasar akan segala tindakan nakalnya. "Aku suka membuat papa pusing." Rimba Start : 22 September 2024 Finish...
